12 Juli 2012 - 00:59
Kode berita: 328506
Tehran saat ini menjadi tamu para aktivis perempuan dari 80 negara dunia. Sekitar 70 persen dari mereka dari kalangan ahlus sunnah, sedangkan 30 persennya dari Syiah.
Menurut Kantor Berita ABNA, Republik Islam Iran untuk kesekian kalinya mengadakan konferensi tingkat Internasional bertemakan kebangkitan Islam yang kali ini mendatangkan lebih dari 1400 aktivis perempuan dari sekitar 85 negara. Berikut catatan Purkon Hidayat yang dirilis situs berita IRIB Indonesia mengenai konferensi tersebut:
Konferensi Internasional "Perempuan dan Kebangkitan Islam" digelar selama dua hari yang dihadiri lebih dari 1400 orang aktivis perempuan yang bergerak di bidang akademis, sosial, budaya dan politik dari berbagai negara dunia. Perhelatan akbar yang berlangsung sejak Selasa (10/7) ini menjadi bagian dari rangkaian acara Dewan Internasional Kebangkitan Islam yang dimulai sejak September tahun lalu.
Konferensi Internasional Kebangkitan Islam digelar di Tehran pada tanggal 17-18 September 2011. Adapun Konferensi Pemuda dan Kebangkitan Islam dilaksanakan pada tanggal 29-30 Januari 2012 dengan menghadirkan lebih dari 1.000 pemuda dan aktivis dari seluruh dunia. Pada kedua pertemuan itu, ratusan cendekiawan, pemikir, sosiolog, sejarawan, dan pemuda revolusioner dari berbagai negara dunia, terutama dunia Islam secara antusias mendiskusikan berbagai isu yang berhubungan dengan Kebangkitan Islam.
Sekretariat Dewan Internasional Kebangkitan Islam hingga kini berhasil menggelar tiga konferensi yaitu "Kebangkitan Islam", "Pemuda dan Kebangkitan Islam", serta "Penyair dan Kebangkitan Islam". Ketiga konferensi itu mendapat perhatian besar dari aktivis, pemikir dan pengambil keputusan di berbagai bidang di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Terkait urgensi kebangkitan Islam Penasehat Ayatullah Sayid Ali Khamanei Bidang Internasional, Doktor Ali Akbar Velayati mengatakan, "Pada dasarnya, Kebangkitan Islam merupakan sebuah kesadaran luas dan mendalam yang berusaha membebaskan bangsa-bangsa Muslim dari perbudakan pikiran, politik, dan ekonomi. Gerakan itu berusaha mewujudkan kemajuan dan persatuan di tengah umat Islam."
Penyelenggaran Konferensi internasional Perempuan dan Kebangkitan Islam digelar mengingat urgensi peran perempuan dalam transformasi kawasan. Isu perempuan dan kebangkitan Islam menarik untuk dikaji dari berbagai dimensi. Dan dalam konferensi kali ini diwujudkan melalui berbagai komisi terkait.
Kebangkitan Islam di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dalam 18 bulan terakhir berhasil menumbangkan empat rezim despotik di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Transformasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan yang tidak kecil. Di sisi lain, tranformasi tersebut juga menentukan masa depan perempuan ke depan.
Menengok perjalanan jejak kedudukan perempuan dalam revolusi Iran, Revolusi Islam telah membuyarkan semua asumsi keliru tentang perempuan. Tidak bisa dipungkiri, perempuan Iran berada di garda depan dalam revolusi Islam. Revolusi ini jelas tidak mungkin terjadi tanpa kontribusi kaum perempuan Iran. Tanpa kehadiran perempuan, revolusi akan kehilangan separuh kekuatan revolusionernya.
Kaum perempuan Iran juga merupakan kekuatan budaya yang sangat berpengaruh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Terkait hal ini, Bapak Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra berkata, "Seandainya kaum perempuan tidak berpartisipasi dalam kebangkitan ini, revolusi Islam tidak akan berjaya."
Kebangkitan Islam dan revolusi di bawah komando Imam Khomeini ra menempatkan kaum perempuan dalam poros aktivitas politik dan menyerahkan bendera revolusi kepada kaum perempuan tanpa sedikitpun mengusik ketentuan hijab, wibawa Islami, iffah dan kualitas ketakwaan mereka. Siapapun tidak pernah memberikan hak sedemikian besar kepada kaum perempuan Iran dan muslimah.
Berkat revolusi Islam, kaum perempuan Iran di tempatkan pada posisi idealnya. Mereka dapat berkecimpung di dunia sains dan akademik tanpa mengurangi sedikitpun kualitas keagamaan, iffah, ketakwaan, kepribadian dan martabatnya sebagai muslimah. Mereka juga tidak mendapat hambatan apapun di ranah ilmu keagamaan. Mereka sekarang bisa berkiprah di gelanggang politik, sosial, jihad, layanan publik dan lain sebagainya sambil tetap mempertahankan hijab dan wibawanya sebagai muslimah sejati. Kini, gerakan-gerakan Kebangkitan Islam telah memisahkan nasib mereka dari para penguasa tiran yang menjadi boneka AS dan bergerak di jalan kemerdekaan dan kebebasan dengan partisipasi kaum perempuan.
Islam memberikan perhatian khusus mengenai kedudukan perempuan. Agama ilahi ini mempertimbangkan berbagai faktor mulai dari struktur fisik, emosi dan naluri, hukum dan aspek perempuan lainnya. Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia memiliki perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Allah swt guna mengemban tugas pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk menghantarkan umat manusia kepada kesempurnaan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Rahbar mengatakan, "Dalam pandangan Islam, sebagai manusia, tidak ada sedikitpun perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an, perempuan dan laki-laki sama dalam melangkah ke puncak ketinggian dan kedekatan kepada Allah."
Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menilai krisis wanita dewasa ini merupakan salah satu problema paling krusial bagi setiap peradaban, masyarakat dan negara. Rahbar menyebut perspektif Barat terhadap perempuan sebagai pandangan yang menyimpang, kesesatan yang nyata, penghinaan terbesar, dan penistaan terhadap kehormatan perempuan. Pernyataan itu disampaikan Rahbar Rabu malam (5/1) dalam seminar pemikiran strategis ketiga dengan tema ‘Perempuan dan Keluarga'.
Beliau mengatakan, "Tidak seperti yang dibayangkan, tindakan yang dilakukan orang-orang feminis ternyata justru merugikan kaum perempuan. Sebab, dengan melecehkan perempuan mereka menjadikannya sebagai alat pemuas nafsu. Dan sayangnya, opini umum di Barat memandang masalah ini sebagai fenomena yang lumrah dan bisa terima."
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa musuh menjadikan masalah perempuan sebagai salah satu sasaran serangan politik dan propaganda terhadap pemerintahan Islam di Iran. Karena itu masalah perempuan harus mendapat perhatian penuh. Ditegaskannya, "Dengan melakukan pencerahan kepada opini umum masyarakat dunia, kita jangan memberi kesempatan kepada Barat untuk mewujudkan target para pembuat keputusan dan penyusun agendanya dalam menyerang dasar-dasar ajaran Islam dalam masalah perempuan."
Tehran saat ini menjadi tamu para aktivis perempuan dari 80 negara dunia. Sekitar 70 persen dari mereka dari kalangan ahlus sunnah, sedangkan 30 persennya dari Syiah. Sebelum mengikuti seminar, mereka diajak menikmati perjalanan ke Isfahan, Qom dan Mashhad dengan tujuan mengetahui dari dekat kemajuan Iran dewasa ini terutama aktivitas Iran di bidang sosial, budaya dan politik serta olahraga.
Pada konferensi internasional dan kebangkitan Islam kali ini lebih dari 400 paper dikaji dalam enam komisi yang terdiri dari komisi "Pemikiran Islam, Potensi Perempuan dan Sikap Revolusioner", "Perempuan dan Kebangkitan Islam: Peluang dan Ancaman", "Perempuan dan Kebangkitan Islam: Capaian dan Harapan", "Perempuan dan Kebangkitan Islam: Interaksi dan Hubungan", "Perempuan dan Kebangkitan Islam: Keluarga dan Potensi Revolusi", "Perempuan dan Kebangkitan Islam: Perspektif dan Masa Depan." Sambutan kaum perempuan muslim terhadap Kebangkitan Islam mendorong terwujudnya masa depan perempuan Muslim yang lebih cerah.