1 Juni 2012 - 03:04
Kode berita: 319078
Komite penyidik khusus pembantaian di wilayah al-Hula, Provinsi Homs Suriah melaporkan hasil awal penyidikan mereka.
Menurut Kantor Berita ABNA, sebagimana dilaporkan IRNA dari Damaskus, ketua komite penyidik pembantaian di wilayah al-Hula Kamis sore (31/5) di konferensi pers yang digelar di Departemen Luar Negeri Suriah menandaskan bahwa laporannya disusun berdasarkan keterangan saksi mata penduduk al-Hula serta penyidikan di lokasi kejadian serta autopsi jenazah korban.
Hari Jum'at lalu di kota al-Hula terjadi kejahatan besar yang menewaskan lebih dari 100 orang dan 30 persen di antaranya adalah anak-anak.
Menurut pejabat Suriah, sekitar 600-800 anasir bersenjata usai shalat Jum'at berkumpul di satu titik di al-Hula dan serentak mereka menyerang lima pos pemeriksaan dengan menggunakan berbagai senjata canggih termasuk mortir,roket dan senjata otomatis. Sebagian anasir bersenjata ini melakukan kejahatan di dalam wilayah al-Hula.
Ia menolak cerita musuh terkait serangan artileri ke lokasi kejahatan. Ia menandaskan, tidak ditemukan adanya bekas dari serangan artileri atau debu akibat hancurnya rumah di atas jenazah para korban. "Para korban kebanyakan tewas akibat ditembak dari dekat," ungkapnya.
Ketua komite penyidik tragedi ini juga menyatakan bahwa anasir bersenjata dengan aksinya ini berusaha mempermudah intervensi militer dan kemanusiaan asing.
Jihad al-Maqdisi, juru bicara Departemen Luar Negeri Suriah di sebuah jumpa pers menyatakan bahwa pemerintah Damaskus mengutuk kejahatan ini. "Laporan yang ada merupakan hasil penyidikan awal dan jika laporan tersebut telah lengkap maka akan segera dibeberkan ke publik dan masyarakat internasional," tambah al-Maqdisi.
Seraya tersirat al-Maqdisi menyinggung Arab Saudi, Qatar,Turki dan negara anti Suriah lainnya. Ia mengatakan, harus ditanyakan pihak mana yang memberikan senjata,uang dan persembunyian kepada kelompok bersenjata sehingga mereka berani melakukan kejahatan terhadap warga sipil Suriah.
Jubir Deplu Suriah ini menegaskan bahwa di negara ini terdapat 18 mazhab yang hidup rukun dan musuh yang pesimis dengan ambisinya berusaha mengobarkan friksi sektarian di negara ini.