16 Mei 2012 - 01:15

"Umat Islam adalah umat yang satu, setiap orang Islam mempunyai tanggungjawab terhadap muslim yang lain. Jika Islam dalam bahaya di bagian belahan bumi yang lain, maka membelanya adalah tanggungjawab para ulama, umat Islam dan seluruh bangsa yang merdeka di dunia."

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam Muhammad Akhtari Senin (14/5), dalam ucapan penutup Konferensi Risalah Dunia Islam menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukanlah untuk menerangkan kedudukan resmi Republik Islam Iran. "Ketika masalah-masalah terjadi di seluruh dunia, agama Islam akan melakukan hal yang sesuai dengan dasar prinsip hak asasi manusia dan demokrasi selagi tidak bertentangan dengan neraca timbangan hukum syar'i dan ushul Islam. Dengan berasaskan prinsip ini, dasar tidak masuk campur dalam urusan dalam negeri negara lain dapat diterima sistem dan pemerintahan Islam." Beliau menambahkan, "Dan Republik Islam Iran telah melakukan sesuai prinsip Islam. Karenanya Iran menuntut agar semua pihak mengormati hak-hak publik, kemerdekaan negara dan kebebasan bangsa lain. Republik Islam juga menganggap umat Islam sebagai umat yang satu, yang jika salah satu diserang atau disakiti maka yang lain wajib untuk membantu." Hujjatul Islam Akhtari menerangkan bahwa hari ini Amerika Serikat melibatkan diri dalam kebanyakan kawasan dunia demi menjaga kepentingannya. Kata beliau, "Prinsip demokrasi dan hak asasi manusia melalui pengaruh dan kekuasaan dunia telah dibuat sebagai sebuah sistem dan hanya merekalah yang boleh mewujudkan keamanan serta perdamaian. Mereka masuk campur dalam urusan politik, sistem dan budaya negara lain dengan memanfaatkan prinsip tersebut." Tambah beliau lagi, "Umat Islam adalah umat yang satu, setiap orang Islam mempunyai tanggungjawab terhadap muslim yang lain. Jika Islam dalam bahaya di bagian belahan bumi yang lain, maka membelanya adalah tanggungjawab para ulama, umat Islam dan seluruh bangsa yang merdeka di dunia." Hujjatul Islam Akhtari menambahkan, "Memberi petunjuk, pedoman, menetapkan hukum dan menerangkan syariat bukanlah bermaksud masuk campur dalam urusan negara-negara dan masyarakat lain. Sebagaimana individu-individu boleh menyuarakan hak berasaskan prinsip kebebasan, seperti itu juga Islam dan hakim syar'i boleh memberi izin secara bebas kepada umat Islam agar dapat menerangkan hukum-hukum dan syariat." Beliau dalam penjelasan selanjutnya menyebutkan, "Ketika sebahagian negara-negara bertindak seperti menyakiti umat Islam, meruntuhkan masjid dan melukai sensitivititas umat Islam, maka kaum muslimin juga dikatakan boleh mempunyai hak untuk bertindak menghadapi masalah ini." Merujuk kepada sebagian pihak rezim dikawasan yang bergantung kepada pengaruh negara-negara adidaya dan sedang melakukan penindasan, Hujjatul Islam menegaskan keyakinannya bahwa diantara mereka kelak akan ada yang jatuh. Beliau menambahkan, "Pihak rezim hendaklah tahu bahwa mereka tidak akan mampu berhasil memaksakan kehendak dihadapan rakyat yang berada di atas jalan agama. Ini disebabkan Islam dan janji Allah akan menjadi kenyataan. Kebangkitan Islam hanyalah sebagian kecil daripada janji ini." Pimpinan Majma' Ahlul Bait dipenghujung sambutannya menjelaskan, "Pihak pemerintah semua negara perlu sadar betapa bernilainya memberi perhatian terhadap kehendak rakyat. Mereka sepatutnya seiring dengan kehendak rakyat, selama itu tidak bertentangan dengan syariat agama."