Menurut Kantor Berita ABNA, Demonstran anti-rezim menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di dua kota besar di Yaman, menuntut pengunduran diri segera presiden Ali Abdullah Saleh. Puluhan ribu orang memadati jalan-jalan di ibukota Sana'a dan kota selatan Taizz, yang telah menjadi titik api bentrokan antara pengunjuk rasa anti-rezim dan kubu loyalis Saleh.
Para pengunjuk rasa mengutuk serangan terakhir rezim terhadap daerah pemukiman di kota-kota yang ada di Yaman.Aksi unjuk rasa terbaru ini datang pada saat pasukan yang setia terhadap Saleh terus melakukan kekerasan melawan pengunjuk rasa anti-pemerintah.
Ratusan orang telah tewas dan banyak lainnya terluka di Yaman sejak akhir Februari, ketika sebuah pemberontakan rakyat meletus di Yaman, yang didorong oleh pemecatan diktator dukungan Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia pada bulan Januari lalu serta penggulingan Hosni Mubarak Mesir pada pertengahan Februari.
Demonstran Yaman telah berulang kali mengadakan demonstrasi untuk menolak apa yang mereka sebut dominasi Saudi dan AS di negara tersebut dan mengutuk upaya mereka untuk membajak revolusi rakyat di Yaman.
Ribuan demonstran turun ke jalan-jalan membakar bendera Amerika dan meneriakkan slogan-slogan melawan Amerika Serikat dan rezim diktator Yaman Ali Abdullah Saleh.
Wakil Presiden Abdrabuh Mansur Hadi mengambil alih kekuasaan dari Saleh pada tanggal 23 November lalu berdasarkan kesepakatan transfer kekuasaan yang ditengahi oleh Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Para pengunjuk rasa menuntut pemecatan Hadi, menyebutnya sebagai alat dari presiden Saleh.
Para demonstran juga menyatakan kemarahan mereka terkait pembunuhan terbaru terhadap demonstran oleh pasukan yang setia kepada Saleh.
Pada hari Sabtu sebelumnya, pasukan rezim menembaki ribuan demonstran, di Taizz dan Sana'a. Tindakan keras itu menewaskan sedikitnya 13 pengunjuk rasa dan melukai sekitar 200 lainnya di antara para demonstran.
Setelah bentrokan mematikan, Saleh mengumumkan bahwa ia berencana untuk berangkat ke AS tanpa memberikan tanggal yang jelas.
Demonstran Tolak Penyerahan Kekuasaan Saleh
Kelompok kunci yang mengorganisir aksi protes anti-rezim di Yaman menyerukan untuk rapat umum akbar menentang kesepakatan transfer kekuasaan yang ditandatangani oleh presiden Ali Abdullah Saleh, yang memberikan kepadanya kekebalan dari penuntutan, laporan Press TV.
Pada hari Rabu (23/11), kelompok Pemuda Revolusi Yaman menyerukan aksi protes besar-besaran untuk menentang kesepakatan yang diusulkan oleh dewan kerjsama teluk (GCC). Saleh melakukan tanda tangan untuk kesepakatan penyerahan kekuasaan di Riyadh, ibukota Arab Saudi pada hari sebelumnya.
Berdasarkan kesepakatan itu, ia akan menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden Abdrabuh Mansur Hadi dalam waktu 30 hari, sambil tetap berkuasa secara seremonial selama 90 hari.
Demonstran Yaman telah menyerukan penggulingan Saleh selama 10 bulan terakhir. Mereka juga ingin dia menghadapi tuntutan atas pembunuhan ratusan pengunjuk rasa selama penindasan pasukannya terhadap demonstran.
Juga pada Rabu kemarin, puluhan ribu warga Yaman turun ke jalan-jalan ibukota Sana'a untuk menolak kesepakatan itu. Bentrokan meletus di kota barat daya Taizz, ketika pasukan rezim menembaki warga yang marah.