Menurut Kantor Berita ABNA, Kabinet sementara Mesir telah menawarkan pengunduran dirinya kepada Dewan militer yang berkuasa di negara itu ketika bentrokan berkobar untuk hari ketiga di lapangan Tahrir, polisi dan tentara melawan pendemo tak bersenjata yang menuntut perubahan.
“Pemerintah Perdana Menteri Essam Sharaf telah menyerahkan pengunduran diri kepada (penguasa) Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata,” ujar Mohammed Hegazy, juru bicara kabinet, mengatakan dalam sebuah statemen yang disiarkan pada Senin (21/11/2011) malam oleh kantor berita resmi MENA.
“Karena keadaan yang sulit yang harus dilalui negara ini, pemerintah akan terus bekerja sampai pengunduran diri diterima,” tambah Hegazy.
Pengunduran diri tersebut datang ketika bentrokan dengan tentara keamanan terus memburuk sejak penggulingan Hosni Mubarak, mantan presiden Mesir pada Februari lalu.
Kementrian Kesehatan Mesir mengumumkan sedikitnya 33 orang telah tewas dan 1.500 terluka dalam bentrokan antara pasukan pemerintah yang menggunakan kekuatan berlebihan melawan pendemo damai sejak Sabtu (19/11).
Protes terorganisir
Reporter Al Jazeera melaporkan pada Senin (21/11) malam dari lapangan Tahrir bahwa ribuan orang serempak meneriakkan “Rakyat ingin berakhirnya kekuasaan Marsekal” mengacu pada Marsekal Hussein Tantawi Mohammed yang memimpin Dewan Militer.
“Selama 48 jam terakhir, telah ada seruan sporadis untuk beberapa jenis protes yang terorganisir,” lapor reporter Al Jazeera.
Lapangan Tahrir telah menjadi titik utama untuk pengunjuk rasa yang sebelumnya pernah menjadi saksi bisu 18 hari pemberontakan yang berakhir dengan turunnya Hosni Mubarak dari kekuasaan.
Ribuan orang berbondong-bondong menuju lapangan Tahrir dimana mobil ambulans terlihat sibuk untuk mengambil mereka yang terluka akibat bentrokan.
Semakin ditekan oleh pasukan keamanan, semakin banyak warga Mesir yang menuju lapangan Tahrir untuk bergabung dengan pengunjuk rasa lainnya. Mereka menginginkan kekuatan militer menyerahkan kekuasaan ke pemerintahan sipil.
Jumlah demonstran yang tewas akibat tembakan aparat keamanan dalam demonstrasi di lapangan at-Tahrir terus bertambah. Sampai Ahad sore (20/11/2011) total korban tewas yang berhasil diketahui sebanyak tujuh orang. Tiga orang di antaranya tewas beberapa jam yang lalu.
Seorang dokter yang bertugas di rumah sakit darurat di lapangan at-Tahrir, Ahmad Husain, melaporkan bahwa para korban yang tewas mengalami luka tembak di bagian perut dan kepala. Ia melaporkan seorang korban tewas di samping kantor Hizb Wathani (Partai Nasional Mesir) akibat luka tembak di dada. Seorang korban lainnya tewas di pinggir lapangan akibat luka tembak di bagian leher. Adapun dua korban lainnya telah tewas saat ditemukan oleh tim medis.
Ahmad Husain menjelaskan bahwa untuk kedua kalinya, aparat keamanan menyerbu rumah sakit darurat yang didirikan di seberang lapangan at-Tahrir. Ribuan demonstran membentuk barikade di depan rumah sakit darurat untuk menghalangi serbuan aparat keamanan.
Sementara itu ribuan massa terus mengalir dari seluruh penjuru ibukota Kairo untuk memperkuat para demonstran yang telah bertahan selama tiga hari di lapangan at-Tahrir. Kebrutalan aparat keamanan terhadap para demonstran telah menggerakkan simpati luas kepada para demonstran di seluruh pelosok Mesir.
Sempat dihalau mundur oleh serbuan aparat keamanan, para demonstran kembali berhasil menguasai lapangan at-Tahrir. Aparat keamanan dan intelijen Mesir kini dikonsentrasikan di Lazhoghli untuk mencegah massa demonstran menduduki Departemen Dalam Negeri.
Lapangan at-Tahrir telah tumpah ruah oleh ribuan warga yang didukung oleh seluruh elemen politik Mesir. Warga ibukota Kairo mengumpulkan sumbangan untuk rumah sakit darurat yang mengalami kerusakan berat dalam serbuan pertama aparat keamanan pada Sabtu (19/11/2011). Sementara itu belasan ambulance sibuk mengangkut para korban luka dan tewas ke rumah sakit darurat.