Menurut Kantor Berita ABNA, Abdurrahim Al Keib dalam penyampaiannya menyatakan Libia semenjak keruntuhan rezim Muammar Qhadafi telah memasuki era baru dan rakyat akan membuka lembaran baru bagi masa depan Negara tersebut. Beliau berharap rakyat tetap mempertahankan rasa kebersamaan dan persatuan mereka, untuk membangun masa depan Libia. "Kepentingan rakyat harus lebih diutamakan di atas kepentingan pribadi atau golongan." Tegasnya.
Perdana Menteri pemerintahan sementara Libia malam sebelumnya menyampaikan pidatonya di Maidan Tahrir. Beliau menegaskan, "Dalam unsur pemerintahan baru yang akan dibentuk, tidak akan melibatkan satupun pendukung Muammar Qhadafi ataupun orang yang pernah menjabat dalam rezim otoriter Qhadafi."
Lebih lanjut beliau mengatakan, "Agar darah para syuhada tidak tertumpah sia-sia, kita harus melanjutkan cita-cita besar mereka atas Negara ini. Mereka telah mengorbankan segalanya selama 9 bulan sampai kemudian rezim Qhadafi telah berhasil mereka gulingkan. Kita akan segera membentuk pemerintahan revolusioner yang lebih transparan dan terbuka. Namun rakyat tidak boleh menunggu mukjizat untuk mewujudkan itu, butuh proses dan kerja keras sehingga apa yang kita cita-citakan bersama bisa tercapai."
Diberitakan, setelah pemilihan untuk pembentukan pemerintahan sementara, ditetapkan Abdurrahim Al Keib sebagai Perdana Menteri sementara Libia oleh Majelis Syura 31 Oktober lalu, untuk kemudian diberikan kewenangan kepada Perdana Menteri terpilih untuk membentuk kabinetnya.