Menurut Kantor Berita ABNA, selasa (20/9) pelaku terorisme kembali memperpanjang catatan kriminalnya dengan meledakkan sebuah mobil bus yang sedang mengangkut puluhan warga Syiah yang sedang dalam perjalanan pulang dari melakukan ziarah di makam Imam Ridha as di Masyhad Republik Islam Iran. Lokasi kejadian di kawasan Queeta, ledakan bom tersebut merenggut 30 nyawa dan beberapa orang lainnya luka-luka yang segera dilarikan ke rumah sakit.
Menurut pengakuan saksi mata yang tidak ingin disebutkan namanya, bus yang memuat puluhan peziarah tersebut sedang dalam perjalanan memasuki kota Queeta, namun oleh pihak keamanan dihentikan untuk diperiksa, setelah menjalani pemeriksaan sekitar 30 menit, bus kembali melanjutkan perjalanan, namun tidak seberapa jauh, bus kemudian meledak dan menewaskan hampir keseluruhan penumpang. Hanya saja disayangkan, meskipun tidak jauh dari markas kepolisian, tidak tampak pihak kepolisian berupaya melakukan pertolongan segera, mereka baru mendekati lokasi kejadian ketika api ledakan sudah mulai padam.
Sebagaimana biasa, pemerintah Pakistan mengutuk dan mengecam aksi teror yang biadab tersebut, namun tidak ada tindakan lanjutan. Dalam beberapa pertemuan, konferensi, seminar dan dialog-dialog yang membicarakan mengenai upaya mewujudkan persatuan umat Islam dan ukhuwah antar mazhab di Pakistan, pemerintah maupun pihak kepolisian berkali-kali menyatakan kecaman dan kutukannya terhadap kelompok-kelompok yang menebar teror dan melakukan aksi-aksi kekerasan. Namun sampai saat ini, belum ada tanda-tanda pihak kepolisian melakukan upaya yang maksimal untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan yang menimbulkan korban jiwa tersebut. Aksi pengeboman, peledakan dan penembakan misterius masih terus terjadi dan warga Syiah yang selalu menjadi korban.
Organisasi Majelis Persatuan Umat Islam Pakistan menyikapi tragedi berdarah tersebut dengan mengutuk keras pelaku peledakan dan menyatakan keprihatinan yang mendalam serta meminta warga Syiah untuk mengadakan majelis-majelis duka selama tiga hari berturut-turut sebagai bentuk duka cita terhadap para korban dan sebagai bentuk aksi protes kepada pihak kepolisian yang dinilai lamban dan tidak becus melakukan tindakan pencegahan terhadap aksi-aksi kekerasan yang menimpa warga Syiah di Pakistan.