Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Agung Revolusi Islam Iran, dalam pertemuannya dengan peserta Majma' Umum Ahlul Bait yang terdiri dari para ulama, kalangan elit, pemikir, dan juga para wakil budaya Republik Islam Iran di berbagai negara, selain menjelaskan tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh para pengikut Ahlul Bait as dan ancaman-ancaman yang dihadapi oleh dunia Tasyayyu’ (pengikut Ahlul Bait Nabi) dan umat Islam, beliau menegaskan, “Gerakan besar Islam yang terjadi belakangan ini di dunia Islam merupakan pendahuluan bagi sebuah perubahan Islam yang lebih besar dan lebih meluas. Dan reaksi para pengikut Ahlul Bait as adalah mendukung dan membantu gerakan-gerakan Islam ini.”
Pemimpin Revolusi Islam dalam pertemuan yang diselenggarakan di salah satu ruang Haram Suci Imam Ridha as, di Masyhad, dalam menjelaskan tentang kemampuan dan keistimewaan maktab Ahlul Bait as mengatakan, “Bangsa dan negara pertama yang mampu menciptakan system yang bersandar pada Islam dan Al-Quran adalah sebuah bangsa dan negara pengikut Ahlul Bait as.’
Beliau menambahkan, “Hari ini untuk sampai pada keinginan dan harapan-harapan, para pemuda negara-negara Islam lebih memperhatikan ajaran-ajaran Islam daripada ajaran-ajaran materialistis, dan kebanggaan ini muncul berkat gerakan bangsa Iran.”
Beliau mengatakan bahwa gerakan-gerakan Islam yang terjadi akhir-akhir ini di Mesir, Tunisia, Libya, Bahrain dan Yaman adalah merupakan karunia Tuhan, “Tindakan kami adalah mendukung gerakan-gerakan ini dan memperkuatnya, kami berharap gerakan-gerakan Islam ini akan memutuskan secara total kekuasaan para musuh utama yaitu Israel dan Amerika.”
Masih menurut Rahbar, “Akan tetapi kendati terdapat berbagai keistimewaan dan kemampuan, tetap harus diperhatikan dan waspada bahwa ancaman-ancaman musuh tetap mengintai, salah satu konspirasi yang mereka lakukan adalah dengan menciptakan konflik antar berbagai mazhab Islam terutama Sunni dan Syiah.”
Sembari menekankan bahwa perpecahan dan konflik antara Sunni dan Syiah ini diciptakan dengan motivasi-motivasi politik internasional, beliau mengatakan, “Dunia kolonialisme saat ini disertai dengan kebijakan Islamfobia, dan diikuti juga dengan kebijakan Syiahfobia dalam bentuknya yang khas. Kita harus berada dalam kewaspadaan penuh dalam menghadapi upaya-upaya seperti ini.”
Beliau juga menekankan tentang keyakinan para pengikut Ahlul Bait as atas persatuan antara umat Islam, “Kebahagiaan dan keberuntungan umat Islam terutama kebahagiaan Syiah bergantung pada persatuan antara umat Islam.”
Selain juga menyinggung tentang kegagalan aliran-aliran materialis dalam menjawab kebutuhan manusia dan isu-isu baru yang ada, beliau juga menegaskan, “Pengetahuan dan makrifat agama termasuk pengenalan terhadap Ahlul Bait harus diletakkan dalam kewenangan umat Islam dan masyarakat non Islam sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan saat ini.”
Beliau menekankan, “Perubahan yang terjadi saat ini di dunia Islam merupakan pelita dan cahaya masa depan.”
Menurut laporan jaringan informasi Kantor Rahbar, pada awal pertemuan ini Syeikh Na’im Qasim Deputi Sekjen Hizbullah Lebanon, Syeikh Hasan Sulthan dari Bahrain, Hujjatul Islam wal Muslimin Akbari dari Afghanistan, Sayyid Ammar Hakim Ketua Dewan Tinggi Islam Irak, Hujjatul Islam wal Muslimin Syeikh Al-Amru dari Saudi Arabia, dan Ny. Hajar Husaini dari Amerika, masing-masing mengungkapkan pandangan-pandangan dan visi-visi mereka berkaitan dengan perubahan kawasan dan kebangkitan Islam dan meningkatnya kecenderungan terhadap Islam di dunia, juga menekankan kewaspadaan dalam menghadapi ancaman-ancaman para musuh Islam, serta pentingnya persatuan yang lebih mendalam di dunia Islam.
Dalam pertemuan ini, Hujjatul Islam wal Muslimin Akhtari, Sekretaris Jenderal Majma’ Jahani Ahlul Bait as juga melaporan hasil pertemuan kelima Majma’ Umum yang dihadiri oleh lebih dari lima ratus orang dari kalangan elit yang berasal dari 110 negara di dunia.