Menurut Kantor Berita ABNA sebagaimana dinukil dari Kantor Berita IRIB, hanya berselang beberapa hari setelah pidato bersahabat Presiden Republik Islam Iran terhadap Arab Saudi serta upaya untuk menghapus friksi antar negara Islam, seorang pejabat Riyadh dengan dalih program nuklir Tehran melemparkan tudingan tak berdasar terhadap Iran.
Seperti dilaporkan Fars mengutip al-Hayat, Ketua Dinas Intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal yang juga mantan dubes Saudi di Inggris dan Amerika berusaha menyamakan Iran dengan Rezim Zionis Israel. Berbicara di konferensi "Strategi Baru" yang digelar di London, Turki al-Faisal mengkhususkan pidatonya dengan tema Timur Tengah yang bersih dari senjata pemusnah massal. Di pidatonya ia berusaha menyamakan Iran dengan Israel dan menuding program nuklir Iran menyimpang.
Turki al-Faisal yang negaranya baru-baru ini menandatangani kontrak pembelian senjata dari AS senilai 60 miliar dolar dan mengirim pasukan ke Bahrain untuk menumpas aksi demo rakyat Manama menyatakan, mengingat merebaknya berbagai bentrokan, Timur Tengah saat ini merupakan salah satu kawasan militer di dunia.
Ia menilai ambisi negara kawasan untuk memiliki senjata pemusnah massal mempunyai beragam motif, di antaranya adalah untuk kepentingan pertahanan, perlombaan senjata dan kekuatan serta menghentikan anggaran belanja senjata klasik. Ia menambahkan, Israel adalah pihak pertama yang berusaha memiliki kekuatan nuklir dan tahun 1956 Perancis berjanji membantu Tel Aviv untuk memiliki reaktor nuklir dengan kekuatan 24 megawatt dan pusat riset kimia di Dimona.
Turki al-Faisal seraya mengisyaratkan apa yang ia istilahkan mimpi Iran untuk memiliki senjata pemusnah massal mengklaim, proses ini akan mengubah strategi di kawasan. "Iran dengan permainan provokatifnya "Kucing dan Tikus" bermain dengan masyarakat internasional. Hal ini membuat keseriusan Iran dipertanyakan," ungkap al-Faisal.
Dalam upayanya menuding Iran, Turki al-Faisal senantiasa mensejajarkan Iran dengan Israel dan menyeru keduanya menghentikan program nuklirnya. Klaim ini dirilis di saat Israel memiliki ratusan hulu ledak nuklir, namun laporan resmi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta petinggi Tehran berulang kali menekankan status damai program nuklir Iran.
Di bagian lain pidatonya, Turki al-Fisal menekankan pentingnya dilanjutkannya sanksi atas negara yang tidak bersedia bergabung dengan Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). Bahkan ia mendesak Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi politik, ekonomi dan militer kepada negara tersebut hingga mereka bersedia bergabung dengan NPT.
Di sisi lain, pekan lalu Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad menyebut hubungan Tehran-Riyadh menguntungkan kawasan. Sikap bersahabat Ahmadinejad ini ditujukan untuk menghapus friksi antar negara Islam seperti Iran, Arab Saudi dan Mesir. (IRIB/Fars/MF)