Menurut Kantor Berita ABNA, kali ini kami akan menurunkan biografi singkat mengenai pejuang perempuan Bahrain yang melakukan perlawanan terhadap diktatorisme dan ketidak adilan melalui sajak-sajaknya. Beliau bernama lengkap Ayat Hasan Yusuf Al Qarmazi, setelah dibebaskan dari penjara rezim Ali Khalifah, mahasiswi Universitas Pendidikan Guru Bahrain ini mendapat gelar sebagai penyair revolusi 14 Februari Bahrain.
Penyair Revolusi Syiah
Ayat Al Qarmazi lahir dari keluarga yang dalam jangka waktu yang panjang telah melakukan perlawanan terhadap kezaliman rezim Ali Khalifah. Hasan Yusuf al Qarmazi bapaknya, pada tahun 1990-an setelah membaca sajak-sajak yang berisi kecaman terhadap kediktatoran Ali Khalifah dan dengan alasan itu, ia kemudian dijebloskan ke penjara. Begitu juga kakak laki-lakinya Abdullah Hasan Al Qarmazi, yang juga dikenal sebagai penyair revolusi Bahrain telah berkali-kali merasakan kejamnya penyiksaan dalam penjara Ali Khalifah.
Mengungkapkan Amarah Lewat Sajak
Ayat Al Qarmazi selalu hadir dalam setiap aksi unjuk rasa yang dilakukan pemuda-pemuda Bahrain termasuk aksi yang kemudian membuat rezim menjebloskannya ke penjara. Pada aksi tanggal 23 Februari 2011 di Maidan Lu'lui yang dipadati ribuan orang, Ayat Al Qarmazi mendendangkan sajak perlawanannya terhadap Ali Khalifah. Sajak yang berjudul "Dialog Syaitan dengan Hamid bin Isa, raja Bahrain" tidak nyana membuat murka sang raja.
Hanya dalam waktu singkat, sajak Ayat Al Qarmazi tersebut menjadi perbincangan khalayak, di milis-milis, di situs-situs internet dan dari mulut ke mulut. Khawatir sajak tersebut menjadi inspirasi bagi meluasnya perlawanan terhadap Ali Khalifah, tanggal 29 Maret 2011 sekitar 12 orang personel kepolisian Bahrain menyerbu masuk ke rumah bapak Ayat Al Qarmazi secara paksa dengan mendobrak pintu rumah. Karena Ayat Al Qarmazi tidak ditemukan di dalam rumah, mereka berkata kepada pemilik rumah dengan penuh ancaman, "Atas perintah atasan kami, kami harus menangkap Ayat Al Qarmazi, jika tidak kami temukan, kami akan menghancurkan rumah ini!."
Penangkapan
Meskipun sempat bersembunyi di rumah keluarganya yang lain, namun karena memikirkan nasib keluarganya yang mendapat ancaman dari penguasa akhirnya Ayat Al Qarmazi menyerahkan diri tanggal 30 Maret 2011.
Kabar Dusta Mengenai Kematiannya
Ayat Al Qarmazi setelah penangkapan kemudian dijebloskan ke penjara, dan pemerintah menutup-nutupi kabar dan keadaan Ayat Al Qarmazi bahkan melakukan pelarangan untuk menyiarkan dan menulis apapun mengenai Ayat Al Qarmazi. Sampai akhirnya tanggal 20 April 2011 karena sama sekali tidak ada kabar mengenai keadaan penyair muda Bahrain tersebut, beberapa media menurunkan berita mengenai kemungkinan besarnya Ayat Al Qarmazi telah tewas dibunuh setelah sebelumnya mengalami penyiksaan dan pemerkosaan terlebih dahulu. Namun berita tersebut dibantah oleh pihak keluarga Ayat Al Qarmazi dan yang pertama kali menurunkan berita mengenai ketidak benaran berita tersebut adalah Kantor Berita ABNA berbahasa Persia.
Ibu dari Ayat Al Qarmazi sebagaimana yang dinukil dari ABNA memberi pengakuan bahwa ia telah berbicara dengan anaknya sebanyak dua kali melalui telepon. Nubail Rajab, ketua Komnas HAM Bahrain juga membantah berita bohong tersebut.
Tekanan Dunia
Penangkapan Ayat Al Qarmazi dan juga perempuan serta anak-anak muda Bahrain lainnya oleh rezim Ali Khalifah segera mendapat kecaman aktivis-aktivis kemanusiaan sedunia. Diantaranya oleh Koran Independent terbitan London 3/4 di halaman pertama memuat gambar besar wajah Ayat Al Qarmazi dan memuat laporan khusus mengenai penangkapan penyair muda ini oleh rezim Ali Khalifah dengan menurunkan berita " Ayat Al Qarmazi mahasiswi dan penyair muda berusia 20 tahun, dua bulan sebelumnya setelah membacakan sajak dan mendendangkan qasidah perlawanan dihadapan ribuan pejuang demokrasi Bahrain ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh rezim Ali Khalifah."
Koran tersebut menuliskan berita lebih lanjut, bahwa Ayat Al Qarmazi setelah penangkapan kehilangan kabar dan berita sama sekali, namun ibunya memberi pengakuan telah melakukan percakapan dengan anaknya melalui telepon dan Ayat Al Qarmazi menyatakan ia dipaksa untuk memberikan pengakuan bohong tentang sesuatu yang tidak dilakukannya, iapun mengaku mengalami penyiksaan selama di penjara dan sempat dilarikan ke rumah sakit pemerintah karena penyiksaan tersebut.
Koran terbitan Inggris tersebut juga turut mengecam kebijakan penguasa Bahrain yang menangkapi dan memenjarakan perempuan dan anak-anak.
Pengadilan dan Hukuman
Pengadilan yang akan dilakukan untuk mengadili Ayat Al Qarmazi selalu mengalami penundaan sampai akhirnya terselenggara tanggal 12 Juni 2011. Dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindakan yang menyulut permusuhan kepada pemerintah, Ayat Al Qarmazi dijatuhi hukuman penjara satu tahun.
Pengakuan Palsu
Sebagaimana pengakuan ibunya yang menyatakan bahwa Ayat Al Qarmazi mengaku dipaksa menandatangani surat permohonan maaf dan ampun kepada pemerintah setelah sebelumnya mendapat penyiksaan, maka surat permohonan maaf tersebut pada dasarnya tidak sah. Tanggal 30 Juni 2011 televisi pemerintah Bahrain menyiarkan video yang begitu singkat mengenai pengakuan bersalah Ayat Al Qarmazi dan meminta maaf kepada raja dan perdana menteri Bahrain.
Tekanan kepada Rezim
Setelah penyiaran video singkat tersebut yang memuat pengakuan bersalah Ayat Al Qarmazi, Kantor Berita ABNA berbahasa Arab menurunkan berita yang memuat pertanyaan, "Jika perngakuan Ayat Al Qarmazi itu benar, lantas mengapa dia sampai sekarang masih mendekam di penjara dan tidak dibebaskan? Dan kalau pengakuan tersebut dusta, beginikah cara penguasa Bahrain menyiksa perempuan untuk memberikan pengakuan palsu?."
Berita tersebut menjadi pembicaraan banyak orang, dari lisan ke lisan, melalui pembicaraan di internet dan akhirnya banyak orang menuntut pemerintah Bahrain secara tegas memberikan pengakuan yang sebenarnya.
Kebebasan
Akhirnya setelah lebih dari seratus hari mendekam di penjara dan mendapat penyiksaan fisik dan psikologis dari penguasa Bahrain, jam 17:30 (waktu setempat) hari Rabu tanggal 13 Juli 2011 Ayat Al Qarmazi terbeas dari penjara dengan bersyarat.
Ayat Al Qarmazi: Setia dalam Perlawanan
Di depan rumah bapaknya di kawasan Sadad Bahrain dihadapan ribuan orang yang memadati tempat tersebut, Ayat Al Qarmazi berkata, "Salah satu syarat dibebaskannya saya adalah tidak diperkenankan untuk mengikuti dan berperan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan untuk mengecam penguasa. Syarat ini sama halnya tetap memenjarakan saya, meskipun itu di dalam rumah sendiri. Karenanya saya menyatakan akan tetap melanjutkan perjuangan untuk menegakkan demokrasi di negeri ini. Saya yakin Bahrain tidak lama lagi akan menjadi Negara yang baru dan berkeadilan, yang tidak dipecah oleh firkah-firkah dan tidak dikuasai oleh satu kaum saja."