Menurut Kantor Berita ABNA, masyarakat revolusioner Bahrain pada hari minggu (27/3) hari ke-42 sejak pertama kali mereka mulai melawan perusak, penumpah darah, dan diskriminasi keluarga Ali Khalifah belum mendapatkan hasil yang begitu rupa. Disisi lain pihak asing terus-menerus mengincar Negara ini.
Beberapa kejadian yang terjadi pada hari minggu di Bahrain:
Jam 00.05 pagi waktu Teheran. Rumah-rumah sakit masih berada dalam kepungan.
Syaikh Abu Mitsam al-Bahraini dalam dialog melalui telepon mengatakan,” Rumah-rumah sakit masih terus berada dalam kepungan jadi jenazah para syuhada tidak bisa diantar pada keluarga mereka.”
Dia menilai bahwa kondisi Bahrain sekarang sudah menyerupai Palestina,”Negara kami kini sedang diinvasi, sudah banyak yang meninggal dan hingga kini tidak jelas tujuan mereka 14 orang penting juga sudah ditahan dan bahkan wakilnya saja tidak bisa dijumpai.”
Jam 02.20 pagi waktu Teheran. Aksi menggelikan Bank Central Bahrain.
Bank Central Bahrain mengeluarkan keputusan menyedihkan dan menggelikan. Mereka tidak lagi memakai koin tertentu karena ada hubungannya dengan lencana para revolusioner.
Bank Central pemerintah Bahrain ini meminta pada seluruh bank dinegerinya untuk menyerahkan uang logam bernilai 500 dan sebagai gantinya akan diberikan uang kertas.
Hal ini disebabkan di uang logam berniali 500 terdapat gambar Bundaran Lu’luah yang merupakan tempat yang digunakan masyarakat revolusioner dalam aksi mereka. Bundaran yang sudah dirusak ini tidak akan terlupakan walau uang logam bergambar bundaran itu harus ditarik dari peredaran dan selamanya masyarakat tidak akan pernah lupa akan keberadaan bundaran itu.
Jam 07.30 pagi waktu Teheran. Datangnya kekuatan asing di Bahrain tidak akan menjadi jalan pemecahan.
Ali Akbar Shalih menteri luar Negeri Iran pada pertemuan dengan menteri luar negeri Oman terkait campur tangan pihak asing menekankan bahwa datangnya kekuatan pihak asing dengan alasan yang dibuat-buat di Negara Bahrain tidak hanyak tidak akan mampu menyelesaikan masalah tapi malah akan memperumit keadaan yang ada.
Jam 08.50 waktu Teheran. Rencana Amerika Serikat untuk melakukan penyerangan terbaru.
Salah satu wakil dari parlemen Kuwait memperingatkan,”Kekhawatiran kembali mencuat setelah pasukan invasi Arab Saudi dan Emirat Arab bersama-sama tentara pemerintah Bahrain kembali membantai masyarakat tak berdosa sesuai keinginan Amerika. Hal itu dilakukan dengan alasan untuk menjaga keamanan."
Wakil parlemen Kuwait yang tidak mau disebutkan namanya memperingatkan akan diadakan penumpahan darah di Bahrain setelah dewan penengah Kuwait tersebut ditolak keberadaannya oleh pemerintah Ali Khalifah.
Dengan pemberitaan ini dia mendapatkan tanggapan negatif dan harus berhadapan dengan pemerintah Bahrain. Dia menambahkan,”Tindakan Bahrain ini dilakukan tanpa adanya pertimbangan karena hal ini dikeluarkan oleh presiden(Amir) Kuwait dengan harapan tidak ada lagi pertumpahan darah yang lebih parah.”
Perwakilan Kuwait menjelaskan,” Jawaban negatif pernyataan Amir Kuwait menunjukkan bahwa pemerintahan Bahrain tidak ingin berada pada naungan Arab Saudi.”
Jam 09.42 terus berlanjutnya penangkapan di Bahrain.
Berita terakhir yang didapat dari isyarat yang diberikan tentara keamanan rezim Bahrain dan juga penginvasi dari Arab Saudi semakin banyak melakukan penangkapan pada ulama dan pimpinan masyarakat revolusioner.
Pagi hari minggu mereka juga meransuk kedalam rumah Ayatullah Syaikh Abdul jalil Miqdad salah satu agamawan penting Bahrain dan juga hujatul Islam wal Muslimin sayid Murtadha al-sanadi dan memasukkan mereka berdua kedalam penjara.
Aparat keamanan juga menyerang rumah Hasan Salman Hasan serta menangkap empat anaknya yang juga turut bergabung pada demonstrasi damai melawan pemerintahan zalim Ali Khalifah.
Jam 10.35 para korban banyak yang diobati di rumah-rumah penduduk.
Pimpinan tertinggi hak-hak asasi manusia Arab dengan mengisyaratkan pada demonstrasi hari sebelumnya berkata dikarenakan semua rumah sakit dikepung dan berada dibawah kontrol aparat pemerintah maka sebagian besar para korban dirawat dirumah-rumah penduduk.
Nail Rajab menjelaskan,” Hanya kekhawatiran Negara-negara barat di Bahrain yang didapatkan dari segi social dan pemerintahan. dengan alasan ini kondisi barat bertentangan dengan pemerintahan Bahrain dan Negara-negara lain.
Dia menambahkan bahwa pemerintah Bahrain sebagaimana pemerintahan Qadhafi juga melakukan pembantaian pada penduduknya sendiri, dan hak-hak manusia pun mereka nafikan.
Terkait kegagalan pemerintah Bahrain dalam menghentikan demonstran berkata,”Pengumumam pelarangan beraktifitas dan juga cnegkraman kuat aparat pemerintah kemarin juga tidak mampu menghalangi para demonstran puluhan ribu orang diseluruh penjuru negeri Bahrain. Dan masyarakat tanpa peduli pada tank-tank penghancur turun bersama-sama ke jalan."
Nail Rajab mengingaatkan, demonstrasi masyarakat Bahrain menunjukkan pada kekalahan politik pemerintah Ali Khalifah. Masyarakat dengan demonstrasi mereka menuntut diberikan hak-hak asasi syar’i dan hukum di dunia politik sosial.
Pimpinan pusat hak asasi manusia Bahrain dengan mengisyaratkan pada penutupan pusat-pusat pengobatan dan pengontrolan secara penuh rumah sakit Salmaniah oleh pihak aparat keamanan menekankan,”Sekarang ini banyak korban yang dirawat dirumah-rumah karena tempat-tempat pengobatan sudah diintimidasi oleh dewan keamanan dan aparat keamanan Bahrain.
Jam 11.17 waktu Teheran.
Pelajar dan para pengajar Hauzah imiah qom divisi pelajar asing pada hari senin berkumpul di Hujjatiah dan melakukan aksi demonstrasi menentang penumpahan darah di Bahrain oleh Ali Khalifah dan juga atas kedatangan pasukan insvasi dari Arab Saudi dan persatuan teluk Persia.
Dalam aksi ini diungkapkan juga turut campur Amerika serta mempertanyakan mengapa dewan keamanan PBB tidak bertindak dan hanya berpangku tangan.(*)