15 Oktober 2026 - 20:21
Ulama Memiliki Peran Penting dalam Melawan Upaya Pemecahbelahan

Dr. Syekh Ahmad al-Raysuni, mantan Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia, dalam Konferensi Internasional Kelima Kebangkitan Umat Muhammad Saw, menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam. Ia menilai peran ulama, para dai, dan pemikir Muslim sangat penting dalam menghadapi upaya pemecahbelahan serta memperkuat solidaritas di antara umat Islam.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Konferensi Internasional Kelima Kebangkitan Umat Muhammad Saw diselenggarakan pada Rabu, 14 Oktober 2026 (22 Mehr 1405 Hijriah Syamsiah), atas prakarsa Forum Internasional Qadimun.

Dalam konferensi tersebut, Dr. Syekh Ahmad al-Raysuni, mantan Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia, menyinggung kedudukan persatuan dalam perjalanan hidup Rasulullah Saw.

Ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan peletak dasar persatuan di antara umat Islam. Rasulullah membangun ikatan persaudaraan dan solidaritas antara kaum Muhajirin dan Anshar, antara suku Aus dan Khazraj, serta antara Makkah dan Madinah.

Dengan membentuk fondasi persatuan yang kokoh di kalangan bangsa Arab, Rasulullah Saw mempersiapkan landasan bagi terbentuknya umat Islam dan terwujudnya kesatuan di antara mereka.

Al-Raysuni menjelaskan bahwa para khalifah setelah Rasulullah Saw dan para pendakwah Islam juga memainkan peran dalam memperluas persatuan tersebut.

Ia menambahkan bahwa selanjutnya berbagai kegiatan dakwah, keilmuan, dan jihad telah menyebabkan berbagai bangsa di kawasan berkumpul di bawah panji Islam dan semboyan “La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah” (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah).

Mantan Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia itu, ketika menyinggung kondisi historis wilayah-wilayah Islam, menegaskan bahwa kawasan yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian Asia Barat, sebelum penyebaran Islam berada di bawah kekuasaan imperium-imperium besar dan pemerintahan-pemerintahan otoriter.

Ia menekankan bahwa penaklukan yang dilakukan umat Islam tidak boleh disamakan dengan kolonialisme dan penjajahan. Penaklukan tersebut harus dipahami dalam kerangka pembebasan bangsa-bangsa di kawasan dari dominasi kekuatan-kekuatan yang berkuasa pada masa itu.

Selanjutnya, ia menyebut kolonialisme, campur tangan asing, dan serangan-serangan Tentara Salib sebagai sejumlah faktor yang melemahkan persatuan umat Islam.

Ia mengatakan bahwa berbagai campur tangan tersebut menyebabkan terpecahnya bangsa-bangsa Muslim, terbentuknya batas-batas politik, dan tercerai-berainya wilayah-wilayah Islam, serta memengaruhi ikatan-ikatan bersama di antara umat Islam.

Al-Raysuni, dengan menekankan tanggung jawab ulama dalam menjaga persatuan umat Islam, mengingatkan bahwa meskipun umat Islam telah kehilangan persatuan politik dan kini hidup dalam lebih dari 50 negara serta pemerintahan yang terpisah, para ulama tetap dapat mempertahankan dan memperkuat rasa memiliki bersama serta identitas tunggal umat Islam, sebuah identitas yang berakar pada ajaran Al-Qur'an.

Ia menambahkan bahwa para ulama, dai, dan pemikir Islam memiliki kewajiban untuk mengambil sikap tegas terhadap kelompok-kelompok yang berusaha menciptakan perpecahan mazhab, politik, geografis, dan kebangsaan di antara umat Islam.

Perbedaan dan batas-batas pemisah tidak boleh dijadikan alat untuk melemahkan persaudaraan Islam, memperluas permusuhan, serta menimbulkan konflik internal maupun regional.

Mantan Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia itu juga mengkritik fanatisme jahiliah dan kecenderungan yang memecah belah.

Ia menyatakan bahwa para ulama harus menyampaikan perkataan yang jujur dan berani untuk memperingatkan umat Islam agar menjauhi fanatisme yang menjadi penyebab perselisihan dan perpecahan, serta memperkuat semangat persatuan dan solidaritas di antara mereka.

Pada akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa persatuan Islam harus mendapatkan perhatian yang melampaui berbagai pertimbangan dan perbedaan politik.

Umat Islam, meskipun memiliki perbedaan dalam struktur pemerintahan dan batas-batas geografis, harus tetap menjaga hubungan dan identitas bersama sebagai umat Islam melalui berbagai kegiatan ibadah seperti haji, konferensi, dan sikap solidaritas.

Al-Raysuni mengingatkan bahwa para ulama dan dai, melalui penyadaran, pembimbingan masyarakat, serta penekanan terhadap nilai-nilai bersama Islam, dapat memainkan peran yang efektif dalam menjaga persatuan umat Islam dan menghadapi berbagai faktor penyebab perpecahan.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha