24 Februari 2011 - 20:30

Peserta Konferensi Persatuan Umat Islam ke 24 yang diadakan di Teheran yang terdiri dari ulama-ulama dan cendekiawan Islam dari berbagai Negara menyempatkan diri mengadakan pertemuan dengan Ayatullah Ali Khamanei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran.

Menurut Kantor Berita ABNA, Hadhrat Ayatullah Al Uzhma Ali Khamanei, Pemimpin Besar Republik Islam Iran atau Rahbar dalam pertemuannya dengan ulama-ulama dan cendekiawan muslim dari beberapa Negara yang hadir dalam konferensi persatuan umat Islam ke 24 mengenai perubahan besar yang terjadi di beberapa Negara Islam menyatakan, "Kejadian besar di beberapa Negara berpenduduk mayoritas muslim belakangan ini menunjukkan, kekuatan iman agama masyarakat muslim mengalami peningkatan, keinginan untuk mewujudkan persatuan umat Islam dan kesadaran umat Islam untuk tidak tunduk dibawah keinginan Amerika Serikat, semua ini adalah modal dasar untuk kebangkitan di dunia Islam."

Beliau melanjutkan, "Umat Islam harus menyikapi dengan benar perubahan-perubahan besar yang terjadi saat ini. Jika kita mengenal dan menyikapi dengan baik dan benar, maka persoalan-persoalan dalam tubuh umat Islam insya Allah bisa terselesaikan, namun jika gegabah menindaklanjutinya, persoalan baru yang bisa saja lebih rumit akan menimpa umat Islam."

Ayatullah Ali Khamanei selanjutnya mengenai jutaan orang yang turun ke jalan menuntut perubahan mengatakan, "Kemenangan revolusi Islam Iran juga ditentukan dengan turunnya jutaan rakyat Iran ke jalan. Keberanian mereka menunjukkan kekuatan iman agama."

 

Beliau menyatakan yang lebih penting dari kebangkitan rakyat, bukanlah kemenangan revolusi melainkan bagaimana menjaga dan mempertahankannya. "Keinginan terbesar pihak musuh bukan mencegah meletusnya revolusi melainkan bagaimana revolusi-revolusi yang telah terjadi di Tunisia, Mesir dan Negara-negara lainnya mereka belokkan arahnya, untuk tetap melayani kepentingan mereka. Karenanya, umat Islam harus tetap waspada. Jangan cepat berpuas diri dengan kemenangan revolusi yang telah diraih ini."

Rahbar selanjutnya menyebut biang keladi dari semua kerusakan di dunia saat ini adalah Amerika Serikat. "Umat Islam harus segera menyelesaikan segala persoalan dunia saat ini dengan tetap melakukan perlawanan terhadap dalang dari semua kerusakan ini. Kita harus tetap berprasangka baik terhadap janji Allah, bahwa kemenangan pada akhirnya akan diraih oleh umat Islam." Tegas beliau.

Beliaupun selanjutnya menyatakan, kebangkitan umat Islam di beberapa Negara mayoritas muslim saat ini tentu merupakan pukulan telak bagi Amerika Serikat, dan beberapa tahun kedepan akan memberi hasil dengan semakin lemahnya kekuatan Amerika di dunia internasional. Rahbar berkata, "Hasil dari berprasangka baik terhadap janji Allah adalah ketegaran dan kemajuan, yang pada akhirnya membuat pihak musuh menyerah dan mengaku kalah."

Pemimpin Besar Republik Islam Iran ini menyebut pula bahwa kemenangan revolusi Islam Iran dan kemampuan untuk tetap menjaga dan mempertahankannya selama 33 tahun adalah hasil dari berprasangka baik kepada janji Allah, bahwa janji Allah pasti akan terbukti. "Kemenangan rakyat Iran menumbangkan rezim Pahlevi dan kemampuan bertahan dalam perang 8 tahun menghadapi Irak serta kemajuan yang dialami bangsa Iran saat ini dalam berbagai bidang adalah bukti nyata dari kebenaran janji Allah." Ungkap beliau.

 

Hadhrat Ayatullah Ali Khamanei menyebut kemajuan ilmu dan tekhnologi Iran khususnya dalam bidang tekhnologi nuklir adalah berkat kesungguhan dan kerja keras para ilmuan muda, yang tidak hanya cerdas namun juga beriman dan ikhlas dalam kerja-kerjanya. "Republik Islam Iran dengan kehadiran ilmuan-ilmuannya yang memiliki kekuatan iman, ditengah-tengah tekanan musuh tetap mampu menunjukkan prestasi khususnya dalam tekhnologi nuklir dam beberapa kemajuan lainnya."

Beliaupun kemudian menyebutkan keberhasilan yang telah dicapai rakyat Iran bisa menjadi contoh bagi Negara-negara muslim lainnya. "Apa yang kita lihat di Mesir saat ini adalah hasil dari perjuangan rakyat yang memancarkan cahaya Islam. Pasca kemenangan, rakyat Mesir harus tetap waspada terhadap konspirasi musuh, dan tetap menjaga agar jalannya revolusi tetap dalam jalur Islam. Agar tidak ada lagi orang yang berjiwa Fir'aun yang menjadi pemimpin bagi rakyat Mesir."

"Perjalanan Mesir selanjutnya berada ditangan ulama, cendekiawan, tokoh-tokoh Mesir dan setelah itu umat Islam secara keseluruhan. Kewajiban umat Islam adalah saling menolong satu sama lain, inilah hasil yang paling nyata dari terwujudnya persatuan umat Islam." Lanjut beliau lagi,

Selanjutnya mengenai perselisihan dan perbedaan antar mazhab khususnya Sunni dan Syiah, Rahbar menegaskan, "Perbedaan yang terjadi harus dijadikan kekuatan, bukan mencari kelemahan satu sama lain. Saya yakin pergerakan umat Islam kedepan akan mencapai titik kemenangan dan kemajuannya, dan kita yakin janji Allah untuk membantu kaum mukminin pasti akan terjadi."

Pada pembukaan konferensi pertemuan antar ulama ini, Syaikh Ahmad Al Khaili, mufti Oman, Munir Syafiq menteri Kebudataan Yordania, Kamal Halbawi utusan dari Mesir, Nubail Sulaiman dari Suria dan beberapa tokoh utusan berbagai Negara menyampaikan pidato mereka mengenai isu-isu yang sedang berkembang saat ini di dunia Islam. Mereka melihat, perubahan besar yang terjadi di beberapa Negara muslim adalah momen yang tepat untuk semakin giat mengkampanyekan persatuan umat Islam. Merekapun menyebut kebangkitan umat Islam di Mesir dan beberapa Negara muslim lainnya terinspirasi dari kemenangan revolusi Islam Iran yang dimotori oleh Imam Khomeini. Menurut mereka meskipun telah meninggal dunia hampir 30 tahun lalu, Imam Khomeini tetap bisa menjadi inspirasi dan spirit perjuangannya melawan kezaliman penguasa tidak pernah padam.

 

Ayatullah Taskhiri, ketua Organisasi Pendekatan antar Mazhab-mazhab Islam dalam pidatonya pada konferensi umat Islam yang ke 24 yang diadakan di Teheran ini mengatakan, "Hal yang terpenting yang dibahas dalam konferensi ini adalah mengenai persatuan umat Islam dan isu-isu yang saat ini sedang berkembang di dunia Islam."

 

Selanjutnya beliau menyampaikan, kurang lebih 400 orang ulama dan cendekiawan Islam baik dari dalam negeri maupun luar negeri Iran yang turut hadir dan berperan serta dalam konferensi tersebut.