2 November 2026 - 19:15
Mengulas Kembali Pesan-Pesan Terakhir Pemimpin Revolusi yang Syahid; Bagian Kelima: Makna dan Sikap Revolusioner

Pemimpin Revolusi Islam Iran yang Syahid, dalam pertemuan terakhirnya dengan para anggota Parlemen Iran, menegaskan bahwa “sikap revolusioner” tidak boleh dilupakan. Beliau menyatakan bahwa bergerak menuju cita-cita merupakan prinsip pertama dari sikap revolusioner.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pada bagian sebelumnya dari tulisan ini telah dibahas berbagai pesan Pemimpin Revolusi Islam yang Syahid selama satu tahun sebelum kesyahidannya, yang ditujukan kepada rakyat yang telah bangkit, para pejabat negara, dan para pimpinan senior lembaga eksekutif.

Pada bagian ini, pembahasan difokuskan pada nasihat-nasihat beliau kepada para anggota Majelis Syura Islam atau Parlemen Iran.

Pertemuan terakhir anggota Parlemen Iran dengan Pemimpin Revolusi yang Syahid berlangsung pada 11 Juni 2025. Dalam pertemuan tersebut, beliau menegaskan: “Banyak hal telah disampaikan mengenai Majelis Syura Islam yang terhormat dan agung ini. Kami telah menyampaikannya, orang lain juga telah menyampaikannya. Pada kenyataannya, seluruh atau sebagian besar hal yang perlu disampaikan sudah disampaikan.”

Kemudian beliau kembali mengingatkan para anggota parlemen mengenai sejumlah kewajiban sebagai bagian dari pesan-pesan terakhirnya. Dalam pertemuan tersebut, beliau mengatakan: “Apabila kita memperhatikan tuntutan yang terkandung di dalamnya dan hakikat sesungguhnya dari parlemen ini, maka parlemen adalah tempat ibadah. Parlemen kalian ini adalah masjid dan dalam arti yang sesungguhnya merupakan tempat beribadah.”

Pemimpin Revolusi Islam yang Syahid menilai bahwa menjaga kehormatan dan kedudukan parlemen sebagai tempat ibadah merupakan salah satu tanggung jawab terpenting setiap anggota parlemen. Tanggung jawab tersebut memiliki sejumlah ketentuan mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.

Beliau mengatakan: “Selama bertahun-tahun, setiap kali parlemen terbentuk, saya telah menyampaikan beberapa kata, beberapa baris, atau beberapa halaman sebagai usulan dan pandangan pribadi kepada para anggota parlemen. Ada sejumlah hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, dan semuanya harus diperhatikan.”

Menjadikan diri sendiri bertanggung jawab di hadapan Allah dan hukum, tidak mencampurkan kepentingan pribadi dalam pemungutan suara maupun pidato, serta memperhatikan pengaruh dan berbagai konsekuensi pernyataan seorang anggota parlemen pada tingkat nasional dan internasional merupakan sebagian dari pesan-pesan terakhir beliau.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya para anggota parlemen menyampaikan pernyataan yang menumbuhkan harapan dan ketenangan, menjaga persatuan nasional, serta berupaya melaksanakan seluruh undang-undang yang telah disahkan, termasuk Program Pembangunan Ketujuh.

Upaya menata dan menyelaraskan peraturan perundang-undangan, meningkatkan kehadiran aktif anggota parlemen dalam persidangan, memperluas kerja sama dengan pemerintah, membatasi perubahan terhadap rancangan undang-undang ekonomi yang diajukan pemerintah, serta memberikan perhatian terhadap anggaran berbasis kinerja juga termasuk pesan-pesan terakhir Pemimpin Revolusi yang Syahid kepada anggota Majelis Syura Islam.

Namun, tampaknya bagian terpenting dari pertemuan tersebut adalah perhatian beliau terhadap “sikap revolusioner”.

Persoalan ini memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar anggota parlemen dan dapat dipandang sebagai tanggung jawab setiap orang yang mengaku revolusioner dalam sistem pemerintahan Islam.

Dalam menjelaskan makna sikap revolusioner, beliau mengatakan: “Berhati-hatilah agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami makna revolusioner. Revolusioner bukan sekadar membuat keributan. Revolusioner berarti bergerak menuju cita-cita. Inilah prinsip pertama dari sikap revolusioner. Artinya, kita tidak boleh melupakan untuk apa revolusi dilakukan.Apa sebenarnya tujuan gerakan revolusi itu? Perhatikanlah berbagai pernyataan Imam Khomeini, maka tujuan itu akan terlihat jelas. Perhatikanlah slogan-slogan revolusi, maka tujuan itu akan terlihat jelas. Perhatikanlah cita-cita yang telah disebutkan sebagai tujuan revolusi, maka semuanya akan terlihat jelas. Jangan sampai terjadi penyimpangan dari cita-cita revolusi. Inilah prinsip pertama dari sikap revolusioner.”

Pada bagian lain pidatonya, ketika menjelaskan lebih lanjut mengenai sikap revolusioner, beliau mengatakan: “Selanjutnya adalah keberanian dalam menyampaikan pendapat. Itulah sikap revolusioner. Artinya, seseorang harus menyampaikan pandangannya secara terbuka, dengan jelas, menggunakan ungkapan yang benar, dan dengan tetap menjaga rasa hormat. Salah satu pilar sikap revolusioner adalah menyingkirkan sepenuhnya kepentingan pribadi dari setiap pertimbangan dalam menjalankan pekerjaan. Misalnya, seseorang mungkin menyukai orang tertentu dan tidak menyukai orang lain karena cara berinteraksi atau perbedaan pandangan politik. Semua itu harus kita kesampingkan.

Dalam setiap pertimbangan yang berkaitan dengan pekerjaan, persoalan pribadi, kepentingan diri sendiri, selera pribadi, dan hal-hal semacam itu harus disingkirkan. Itulah sikap revolusioner. Selanjutnya adalah senantiasa mengingat Allah dan menyadari bahwa diri kita selalu berada di hadapan-Nya.

Kita harus memahami apa yang sedang kita katakan, memperhatikan keridaan Allah, serta mempertimbangkan apa yang Allah Swt kehendaki dari kita dan apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Itulah makna sikap revolusioner. Kemudian, dalam mempertahankan prinsip-prinsip revolusi, seseorang harus berbicara, menyampaikan pandangan, dan mengambil keputusan dengan tegas, berani, dan terbuka.”

Pada bagian-bagian berikutnya dari tulisan ini akan dibahas berbagai pesan lain yang disampaikan Pemimpin Revolusi Islam yang Syahid kepada para pejabat pemerintahan dan berbagai organisasi masyarakat selama satu tahun terakhir kehidupan beliau yang mulia.

Penulis: Sayyid Ali Asghar Hosseini / Kantor Berita ABNA

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha