Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayatullah Syeikh Fadhil Maliki, seorang fakih dan marja taklid Syiah, dalam pertemuan dengan penasihat Presiden Iran menegaskan bahwa mempertahankan fondasi masyarakat Islam dan mengabdi kepada rakyat lebih utama daripada melaksanakan ibadah-ibadah sunah.
Dalam pertemuannya dengan Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Ali Emad, Ayatullah Fadhil Maliki mengatakan: "Saya berkeyakinan bahwa membela fondasi masyarakat Islam, melayani rakyat, serta menjaga infrastruktur sistem pemerintahan dan negara jauh lebih utama dan lebih penting daripada ibadah-ibadah sunah berupa salat, puasa, haji, dan ziarah. Semua ini merupakan persoalan besar yang menyangkut kepentingan umat."
Ulama Irak tersebut juga menekankan pentingnya independensi dan kewibawaan lembaga-lembaga pendidikan agama atau hauzah ilmiah.
Ia menambahkan: "Pertama-tama, hauzah harus menjadi lembaga yang kuat, independen, dan memiliki pengaruh spiritual. Keterlibatan hauzah melalui pendekatan keilmuan, pendidikan agama, dan akhlak akan memberikan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan melalui jalur politik semata."
Pada bagian lain pernyataannya, Ayatullah Fadhil Maliki menyinggung pentingnya merangkul sebanyak mungkin anggota masyarakat dan mempertahankan hubungan dengan generasi baru.
Ia menegaskan: "Masyarakat tidak hanya terdiri atas orang-orang yang secara lahiriah taat dan religius. Bahkan mereka yang memiliki penampilan berbeda, kurang sempurna dalam berhijab, atau secara lahiriah memiliki kekurangan dalam menjalankan sebagian ibadah, tetap merupakan anak-anak dari tanah air ini dan bagian dari bangsa yang sama.
Mereka tidak boleh dikucilkan. Kita harus memperlakukan mereka dengan akhlak yang baik dan pendekatan keagamaan yang merangkul."
Penasihat Presiden: Keteguhan Rakyat dan Kebijakan Pemimpin Menjaga Stabilitas Negara di Tengah Krisis
Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Ali Emad, penasihat Presiden Iran untuk urusan ulama, dalam pertemuannya dengan Ayatullah Fadhil Maliki menyampaikan salam dari Presiden Masoud Pezeshkian sekaligus menjelaskan kondisi negara dan pentingnya diplomasi keagamaan.
Dalam pertemuan tersebut, Sayyid Ali Emad menyinggung karakteristik pemerintahan ke-14 Iran.
Ia mengatakan: "Pemerintah saat ini, khususnya Presiden Dr. Pezeshkian, memiliki karakteristik dan sifat-sifat kepribadian sebagaimana yang Anda sampaikan.
Beliau merupakan seorang presiden yang jujur, dapat dipercaya, rendah hati, sederhana, dan dekat dengan rakyat. Beliau tidak bersikap dibuat-buat dan tidak menunjukkan religiositas yang berpura-pura ataupun penuh kemunafikan."
Penasihat Presiden untuk urusan ulama itu juga menyinggung berbagai tekanan eksternal yang dihadapi Iran.
Ia menegaskan: "Jika tekanan dan krisis sebesar yang menimpa Iran ini dialami oleh negara lain, negara tersebut kemungkinan akan menghadapi kelaparan, keruntuhan, dan krisis keamanan yang sangat berat.
Namun, berkat kebijakan dan langkah-langkah Pemimpin, keteguhan rakyat, serta upaya pemerintah, negara tetap mampu mempertahankan stabilitasnya."
Pada bagian lain pernyataannya, Sayyid Ali Emad menekankan perlunya memperkuat persatuan internal Syiah dan diplomasi keagamaan. Ia juga menyinggung berbagai tantangan baru, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia mengatakan: "Dalam situasi seperti ini, hauzah dan lembaga-lembaga keilmuan agama harus mampu melahirkan tokoh-tokoh besar sekaliber Allamah Thabathabai.
Dengan demikian, masyarakat memiliki standar untuk menilai berbagai informasi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan, sehingga kualitas dan kedalaman pengetahuan agama tetap terjaga."
Komentar Anda