18 Oktober 2026 - 22:03
Biaya Tersembunyi Perang bagi Ekonomi Amerika di Tengah Pengaruh Strategis Selat Hormuz; Perang Melawan Iran Mengacaukan Perhitungan Trump

Dr. Ali al-Idrisi menegaskan bahwa kekuatan dalam persoalan ini tidak hanya diukur berdasarkan jumlah pesawat, kapal, dan rudal, tetapi juga berdasarkan kemampuan memengaruhi arus energi serta meningkatkan biaya pengamanan dan pengangkutannya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Perang melawan Iran kini bukan lagi sekadar persoalan militer dan diplomatik. Dampaknya secara bertahap mulai terlihat pada harga bensin, biaya hidup, dan perhitungan politik Amerika Serikat.

Di sisi lain, Selat Hormuz telah berubah menjadi instrumen tekanan strategis yang mampu memengaruhi pasar energi dan keamanan pelayaran, sekaligus menunjukkan bahwa keunggulan militer tidak selalu menjamin keamanan pelayaran maupun stabilitas pasar global.

Semakin lama konflik berlangsung tanpa adanya gambaran yang jelas mengenai kapan perang akan berakhir, semakin besar pula dampak ekonomi dan politik yang ditimbulkannya.

Kini, pertanyaan utamanya adalah apakah Washington mampu mencapai tujuan-tujuannya dalam konflik tersebut tanpa membebankan biaya yang besar kepada warganya.

Perang Melawan Iran: Biaya Ekonomi Sekaligus Strategis

Dalam kaitan ini, Dr. Ali al-Idrisi, seorang profesor ekonomi asal Mesir, dalam wawancara dengan ABNA mengenai dampak ekonomi perang melawan Iran bagi Amerika Serikat, mengatakan:

“Perang melawan Iran menimbulkan dua beban biaya bagi pemerintahan Trump. Pertama, biaya ekonomi yang harus ditanggung warga Amerika. Kedua, biaya strategis yang berkaitan dengan kemampuan Amerika Serikat melindungi kepentingan dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.

Dari sudut pandang ekonomi, kerugian tidak hanya terbatas pada pengeluaran militer secara langsung, tetapi juga meluas pada meningkatnya biaya transportasi, asuransi, dan energi, bertambahnya tekanan inflasi, serta kemungkinan Federal Reserve terpaksa mempertahankan suku bunga pada tingkat yang tinggi.”

Ekonom tersebut menjelaskan bahwa inflasi Amerika Serikat pada September meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan, sementara harga bensin pada bulan yang sama naik sebesar 9,1 persen.

Harga rata-rata bensin pada Juli telah melampaui empat dolar AS per galon, bersamaan dengan kembali meningkatnya konfrontasi dan terganggunya arus energi melalui Selat Hormuz.

Hasil Perang yang Belum Jelas: Ujian bagi Popularitas Trump dan Kemenangan Partai Republik

Al-Idrisi menegaskan: “Dari sisi keamanan, berlanjutnya perang menghadapkan Washington pada sebuah persoalan yang sulit. Meskipun Amerika Serikat memiliki keunggulan militer yang besar, keunggulan tersebut saja tidak menjamin keamanan pelayaran laut ataupun mencegah Iran menggunakan cara-cara nonkonvensional, seperti menargetkan kapal-kapal dan meningkatkan biaya perdagangan global.”

Al-Idrisi melanjutkan: “Bagi Trump secara pribadi, bahayanya terletak pada kesenjangan antara janji-janjinya dan biaya yang setiap hari dirasakan para pemilih.

Apabila operasi militer tidak menghasilkan pencapaian politik dan keamanan yang jelas, perang dapat berubah dari sarana untuk menunjukkan kekuatan menjadi beban bagi popularitas Trump dan peluang partainya dalam pemilihan sela Kongres pada November mendatang.

Laporan-laporan terbaru menunjukkan adanya penentangan luas dari masyarakat terhadap kelayakan perang tersebut.”

Ia menjelaskan: “Dalam persoalan harga bahan bakar dan barang, masalahnya bukan hanya bensin. Kenaikan harga energi juga berdampak pada transportasi, makanan, barang-barang impor, dan biaya produksi.

Namun demikian, dampak perang harus dibedakan dari faktor-faktor lain, seperti persoalan pasokan, biaya transportasi, dan perkembangan pasar energi global.

Karena itu, inflasi Amerika Serikat tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan perang, meskipun perang jelas telah meningkatkan tekanan tersebut.”

Selat Hormuz: Instrumen Tekanan Strategis terhadap Kekuatan Militer Amerika

Selanjutnya, Al-Idrisi menjelaskan pengaruh Iran terhadap keseimbangan kekuatan melalui geopolitik energi.

Ia mengatakan: “Iran memiliki kemampuan yang cukup besar untuk memanfaatkan posisi geografisnya di Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan strategis, meskipun terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan militer konvensional Iran dan Amerika Serikat.”

Ia menegaskan: “Kekuatan dalam persoalan ini tidak hanya diukur berdasarkan jumlah pesawat, kapal, dan rudal, tetapi juga berdasarkan kemampuan memengaruhi arus energi serta meningkatkan biaya pengamanan dan pengangkutannya.”

Ekonom Mesir tersebut melanjutkan: “Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Oleh karena itu, setiap gangguan besar dan berkepanjangan di jalur tersebut akan menimbulkan dampak yang melampaui negara-negara kawasan Teluk Persia, serta memengaruhi perekonomian negara-negara industri dan konsumen di berbagai belahan dunia.”

Ia menjelaskan: “Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa ancaman terhadap pelayaran dapat meningkatkan harga minyak, biaya pengangkutan laut, dan asuransi, bahkan sebelum terjadi kekurangan pasokan dalam jangka panjang.”

Al-Idrisi melanjutkan: “Tentu saja, pada saat yang sama perlu dikatakan bahwa Iran tidak dapat mengubah keseimbangan kekuatan tanpa menanggung biaya. Gangguan terhadap pelayaran juga tidak berarti bahwa Iran memiliki kendali penuh atas selat tersebut.

Amerika Serikat, pada pihaknya, juga memberlakukan blokade laut terhadap Iran dan terus menjalankan operasi untuk melindungi pelayaran, sementara Iran menghadapi tekanan dalam hal ekspor minyak dan sumber daya devisanya.

Dengan demikian, kita sedang menghadapi pertarungan timbal balik mengenai kebebasan navigasi dan kelancaran arus energi.”

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha