Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Ayatullah Reza Ramadhani, Sekretaris Jenderal Majelis Dunia Ahlulbait As, dalam acara penutupan Kongres Nasional Iktikaf ke-11 yang diselenggarakan pada Kamis malam di Universitas Militer Imam Ali As, menyinggung pengalaman penyelenggaraan iktikaf di Islamic Center Hamburg dan antusiasme kaum muda terhadap kegiatan spiritual tersebut.
Ia menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, spiritualitas tidak hanya terbatas pada kesendirian, tahajud, dan ibadah malam. Sebaliknya, spiritualitas Islam berlandaskan tauhid dan tanggung jawab, yang juga harus terwujud dan tercermin dalam kehidupan sosial.
Pada awal sambutannya, ia mengenang sebuah pertemuan dengan Imam yang syahid dan mengatakan:
“Pada tahun 1385 Hijriah Syamsiah (2006–2007 M), bertepatan dengan malam kelahiran Sayyidah Zainab Sa, acara perkenalan saya diselenggarakan di Islamic Center Hamburg. Pada tahun pertama saya menjalankan tanggung jawab di pusat tersebut, kami mengadakan kegiatan iktikaf.
Pada tahun pertama, sekitar 120 orang mengikuti kegiatan iktikaf di Islamic Center Hamburg. Menjelang akhir tahun tersebut atau awal tahun 1386 Hijriah Syamsiah (2007–2008 M), kami menyampaikan laporan mengenai kegiatan itu kepada Imam yang syahid.
Dalam pertemuan tersebut, ketika saya menyampaikan jumlah peserta, beliau dengan terkejut mengatakan bahwa 120 orang merupakan jumlah yang besar.
Beliau juga menceritakan beberapa kenangan tentang iktikaf di Masjid Jami' Qom dan menyatakan kegembiraannya atas kehadiran kaum muda dalam kegiatan spiritual tersebut. Laporan itu menarik dan menyenangkan bagi beliau.”
Ayatullah Ramadhani kemudian menyinggung perkembangan kegiatan iktikaf di tingkat internasional.
Ia mengatakan: “Saat ini, kami menerima banyak laporan mengenai penyelenggaraan iktikaf dari berbagai negara di Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia.
Dalam pengalaman Islamic Center Hamburg, peserta yang hadir berasal dari sekitar 16 negara Eropa. Karena keterbatasan kapasitas masjid, penerimaan peserta pada tahap berikutnya dilakukan melalui sistem undian.”
Ia juga menyampaikan apresiasi atas upaya para pejabat dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kegiatan iktikaf di Iran.
Ia mengatakan: “Gerakan ini, melalui perjuangan dan usaha bersama, telah berkembang menjadi sebuah kegiatan besar yang bernilai spiritual dan kini memiliki kedudukan penting dalam masyarakat.”
Sekretaris Jenderal Majelis Dunia Ahlulbait As juga menyinggung pernyataan Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran, Mayor Jenderal Hatami.
Ia mengatakan: “Dalam pernyataan beliau, saya melihat keimanan sekaligus keteguhan. Saat ini juga terdapat hubungan yang mendalam antara Angkatan Darat Republik Islam Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Kami berharap perjuangan pasukan yang berada di garis depan serta gerakan besar yang telah terbentuk di negara ini dapat menjadi landasan bagi kemunculan Imam Wali Ashr Aj.”
Selanjutnya, Ayatullah Ramadhani menyinggung pandangan Imam yang syahid mengenai spiritualitas dan sistem Islam.
Ia mengatakan: “Dalam kerangka pemikiran beliau, tauhid memiliki kedudukan yang mendasar dan gerakan sistem Islam harus diarahkan menuju tauhid.
Keimanan juga harus dikembangkan dalam masyarakat, sebagaimana ditekankan oleh Al-Qur'an dalam berbagai ayat. Kenabian dan wilayah juga merupakan pilar-pilar lain dalam kerangka pemikiran tersebut, yang menyediakan jalan bagi petunjuk dan berkembangnya potensi manusia.”
Ia kemudian menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, akhlak, dan spiritualitas dalam pandangan tersebut.
Ia menambahkan: “Kemajuan ilmu pengetahuan memiliki kedudukan penting pada tempatnya, tetapi akhlak dan spiritualitas juga harus mendapatkan perhatian bersamaan dengannya.
Spiritualitas Islam tidak hanya terbatas pada kesendirian dan ibadah individu. Tahajud dan ibadah malam merupakan bagian dari jalan tersebut, tetapi di samping itu manusia memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat, dan spiritualitas harus memberikan pengaruh dalam pelaksanaan tanggung jawab tersebut.”
Sekretaris Jenderal Majelis Dunia Ahlulbait As menegaskan: “Spiritualitas yang ditekankan Islam adalah spiritualitas yang bertanggung jawab, bukan spiritualitas yang menjauhkan manusia dari tanggung jawab sosial.
Dalam pandangan ini, manusia hidup dalam sebuah sistem yang memiliki makna dan diajak menuju suatu hakikat yang tidak terbatas. Al-Qur'an juga merupakan kitab petunjuk bagi manusia dan pedoman kehidupan dalam dimensi individu maupun sosial.” Ayatullah Ramadhani kemudian menyinggung peran iktikaf dalam pengenalan diri dan kembalinya manusia kepada jati dirinya yang sejati.
Ia mengatakan: “Iktikaf merupakan kesempatan untuk mengenal diri sendiri dan menjaga diri.
Manusia harus mampu berdamai dengan jati dirinya yang sejati dan melampaui cara pandang terhadap kehidupan yang hanya terbatas pada hal-hal indrawi.
Dalam pandangan tauhid, kehidupan manusia memiliki tujuan. Para nabi Ilahi datang untuk membimbing manusia agar tidak terjebak pada hal-hal lahiriah dan mengarahkannya menuju kebenaran.”
Ia menambahkan: “Apabila manusia mampu mengenali identitas sejatinya dalam cahaya pandangan tersebut dan memahami peran individu maupun sosialnya, ia juga dapat memberikan pengaruh dalam masyarakat.
Pendidikan agama harus mencakup seluruh dimensi keberadaan manusia. Sebab, pengenalan agama dan ajaran-ajaran Ilahi secara benar dapat menumbuhkan cinta dan ketertarikan terhadap agama serta menghasilkan kemuliaan individu dan sosial.”
Sekretaris Jenderal Majelis Dunia Ahlulbait As kembali menekankan kedudukan Tuhan dalam spiritualitas sejati.
Ia mengatakan: “Yang memberikan makna kepada spiritualitas adalah kehadiran kebenaran dan Tuhan sebagai pusatnya.
Spiritualitas yang terpisah dari Tuhan tidak dapat menjadi spiritualitas yang membentuk manusia dan membangun masyarakat.
Oleh karena itu, dalam pendidikan generasi muda dan lingkungan pendidikan, termasuk universitas serta pusat-pusat keilmuan, perlu dibangun pandangan yang menyeluruh mengenai manusia, agama, akhlak, dan spiritualitas.”
Pada bagian akhir sambutannya, Ayatullah Ramadhani menyinggung keteladanan Sayyidah Zainab Sa serta cara beliau menghadapi berbagai musibah Karbala.
Ia menekankan pentingnya pandangan tauhid ketika menghadapi kesulitan hidup dan mengatakan:
“Dalam pandangan ini, bahkan ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang paling pahit sekalipun, hubungan manusia dengan Tuhan dan perhatiannya terhadap hakikat Ilahi tetap terjaga.
Cara pandang ini harus diperhatikan dalam penyampaian ajaran-ajaran agama kepada generasi baru.”
Ia juga menyinggung pengalaman kehadiran para pelajar dalam salat berjemaah di sekolah-sekolah dan menekankan pentingnya menyediakan kesempatan-kesempatan praktis bagi generasi muda untuk membangun hubungan dengan salat dan spiritualitas.
Komentar Anda