Menurut laporan kantor berita Abna mengutip Al-Maalouma, Ahmed Al-Mousawi, anggota parlemen Irak, menegaskan bahwa negara ini tidak memiliki masalah dengan kerja sama dengan perusahaan Amerika dan non-Amerika dengan syarat kontrak disusun berdasarkan kepentingan timbal balik dan partisipatif.
Ia menambahkan: Irak menentang hegemoni perusahaan atau negara dunia, baik Amerika maupun lainnya. Ekonomi negara tidak boleh bergantung pada kehendak orang asing.
Al-Mousawi menegaskan: salah satu masalah terpenting dalam hubungan antara Irak dan Amerika berkaitan dengan uang minyak Irak yang berada di negara ini dan tindakan yang dilakukan Washington terhadap uang tersebut. Justru masalah inilah yang mempertanyakan kemandirian ekonomi Irak.
Ia mengatakan: pemerintah Irak harus bertindak untuk mengakhiri situasi ini. Irak telah membayar utangnya dan dianggap sebagai negara yang berdaulat. Kelanjutan situasi ini dapat menggandakan tekanan yang ada pada ekonomi negara. Setelah penarikan pasukan asing dari Irak, sudah waktunya kedaulatan ekonomi juga terwujud.
Komentar Anda