24 September 2026 - 20:41
Pezeshkian: Bom Nuklir Ada di Israel, tetapi Inspektur Datang ke Iran / Israel Membunuh, tetapi Iran yang Dijatuhi Sanksi

Presiden Iran Dr. Masoud Pezeshkian, dalam Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengecam keras serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa Iran adalah korban terorisme, bukan pelaku terorisme, seraya mengatakan bahwa “para teroris dan pihak-pihak yang membesarkan terorisme justru memberi kami label teroris, padahal kami hanya membela diri.”

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Presiden Iran Masoud Pezeshkian, pada Rabu, 23 September 2026, dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB mengatakan, “Kemarin Presiden Amerika Serikat menyatakan bahwa Iran adalah teroris. Padahal kami adalah korban terorisme. Saya datang dari Iran yang pemimpinnya dibunuh tanpa dasar dan argumen hukum apa pun.”

Ia melanjutkan, “Saya datang dari Iran yang sekolahnya dibombardir. Lihatlah anak-anak Minab, anak-anak yang dibombardir dan terbunuh. Israel dan Amerika Serikat membunuh anak-anak kami dengan senjata mereka. Anak-anak kami tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Presiden Iran kemudian menyinggung serangan terhadap kota Lamerd. Ia mengatakan bahwa Lamerd merupakan kota kecil di Iran dan anak-anak sedang berolahraga di sebuah gedung olahraga ketika tempat tersebut, menurutnya, dibombardir Amerika Serikat menggunakan bom tandan yang pecah menjadi ribuan bagian.

“Mereka membunuh para ilmuwan, rakyat, perempuan, dan anak-anak kami. Para teroris dan pihak-pihak yang membesarkan terorisme justru memberi kami label teroris. Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris,” ujarnya.

Pezeshkian mengatakan Amerika Serikat dan Israel menyerang negaranya dengan peralatan militer terbaru, namun rakyat Iran mempertahankan negara mereka dengan kekuatan.

“Mereka menyerang kami, tetapi kami tidak tunduk kepada mereka. Kami membalas serangan mereka, tetapi kami tidak menyerang masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sekolah, rumah sakit, pusat-pusat ilmiah, jembatan, dan infrastruktur Iran menjadi sasaran serangan yang menurutnya bertentangan dengan hukum internasional.

Pezeshkian juga mengatakan bahwa pada hari pertama ia menjabat sebagai presiden, Ismail Haniyeh dibunuh di Teheran. Ia menuduh Israel membombardir dan melakukan pembunuhan di berbagai wilayah sesuka hati.

Ia juga mengatakan bahwa lebih dari 80 ribu orang tak bersalah telah terbunuh di Gaza dan menuding Israel melakukan genosida dengan menggunakan berbagai alat dan teknologi, namun kemudian justru menuduh pihak lain sebagai teroris.

Pezeshkian mempertanyakan tuduhan bahwa Iran merupakan sumber ketidakstabilan.

“Apakah kami yang menjadi penyebab ketidakstabilan? Kami yang ingin hidup merdeka dan tidak ingin tunduk, apakah kami penyebab ketidakstabilan? Jika mereka yang membunuh, meneror, dan melakukan kejahatan justru dianggap sebagai pembawa keamanan dan perdamaian, lalu bagaimana dengan kami?” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pihak-pihak yang ia kritik tidak mematuhi hukum internasional.

“Inilah kenyataan yang kami hadapi. Kami tidak menginginkan apa pun selain hak kami. Kami telah menemukan jawaban terhadap pelanggaran janji ini: kami membutuhkan kekuatan. Sebab bangsa yang tidak mampu membela dirinya sendiri akan dihancurkan di dunia ini,” katanya.

Menurut Pezeshkian, dunia saat ini berada dalam kondisi ketika kekuatan-kekuatan besar, alih-alih memikirkan rakyat, kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi, justru menjadi penyebab kehancuran.

Ia menambahkan bahwa setiap pihak yang hendak mereka hancurkan kemudian diberi label “teroris”.

Pezeshkian mengatakan bahwa selama 200 tahun terakhir Iran tidak pernah menyerang negara lain dan selalu membela diri, namun kini justru dituduh sebagai penyebab ketidakamanan di kawasan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat Iran memilih strategi untuk membangun kekuatan guna mempertahankan diri, bukan untuk melakukan agresi.

“Kami menginginkan energi untuk pembangunan, bukan untuk membuat bom, menghancurkan atau mengancam masyarakat. Kami ingin berpartisipasi dalam menciptakan keamanan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa selama tujuh bulan terakhir rakyat Iran setiap malam turun ke jalan untuk mempertahankan negaranya dan mencegah pihak-pihak yang, menurutnya, didorong dan dipersenjatai Amerika Serikat dan Israel menciptakan ketidakamanan di Iran.

Pezeshkian menegaskan bahwa rakyat merupakan sumber kekuatan Iran.

“Prinsip pertama kami adalah kekuatan untuk pertahanan. Iran harus cukup kuat sehingga kelangsungan hidup dan kemajuannya tidak terancam; cukup bertanggung jawab sehingga tidak menggunakan kekuatannya untuk mendominasi; dan cukup berpandangan jauh sehingga tidak mencari keamanan dirinya dalam ketidakamanan negara-negara tetangga,” katanya.

Mengenai kemampuan pertahanan Iran, ia mengatakan sistem pertahanan Iran dibangun agar tidak ada pihak yang mengira bahwa pemboman terhadap kota-kota Iran akan dibiarkan tanpa balasan.

“Kekuatan militer Iran adalah untuk pertahanan. Tetapi saya tegaskan, kami tidak meminta izin kepada siapa pun untuk mempertahankan negara kami,” katanya.

Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran menginginkan energi nuklir untuk pembangunan.

Menurutnya, selama bertahun-tahun program nuklir damai Iran dibahas menggunakan istilah sentrifugal, pengayaan, sanksi, dan bom. Namun bagi rakyat Iran, teknologi nuklir merupakan bagian dari hak pembangunan.

“Energi nuklir berarti pengobatan bagi pasien, keamanan pangan bagi pertanian, teknologi bagi industri, dan listrik berkelanjutan bagi masa depan,” katanya.

Presiden Iran menyatakan bahwa negaranya tidak menerima jika pengetahuan nuklir menjadi hak eksklusif beberapa negara.

“Iran tidak menganggap senjata nuklir sebagai sumber keamanan, tetapi Iran juga tidak akan melepaskan haknya atas ilmu pengetahuan, industri, dan energi nuklir damai. Saya tegaskan: tidak untuk senjata nuklir, dan tidak pula untuk pelarangan terhadap ilmu nuklir,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan nuklir Iran tidak dapat diselesaikan di medan perang.

“Solusinya adalah kesepakatan yang memberikan jaminan kredibel kepada dunia mengenai sifat damai program Iran, dan pada saat yang sama memberikan jaminan kepada rakyat Iran bahwa hak-hak mereka akan dipertahankan,” katanya.

Pezeshkian kemudian menyampaikan prinsip ketiganya, yakni partisipasi untuk keamanan.

“Kami hidup di kawasan tempat perang tidak mengenal perbatasan dan krisis satu negara menyebar ke negara tetangganya. Karena itu Iran tidak menganggap keamanan negara-negara tetangga sebagai pesaing bagi keamanannya sendiri. Kami menginginkan tetangga-tetangga kami kuat,” katanya.

Ia juga menyinggung Selat Hormuz dan mengatakan tidak dapat diterima jika semua pihak memanfaatkan jalur perairan tersebut sementara Iran, yang menurutnya merupakan penjaga historis kawasan itu, dibatasi kebebasan pelayarannya bahkan di perairannya sendiri akibat sanksi.

“Mereka menutup jalan bagi kami, sementara senjata, bahan peledak, rudal dan energi untuk menghancurkan negara-negara justru dikirim melalui jalur yang sama. Hal ini tidak dapat diterima dan kami tidak akan membiarkan hal itu kembali terjadi,” katanya.

Pezeshkian menyatakan bahwa penempatan permanen armada-armada yang bermusuhan dan perluasan perang tidak akan menciptakan keamanan.

“Keamanan pelayaran tidak dapat dipisahkan dari keamanan negara-negara pesisir,” ujarnya.

Mengenai Palestina, ia mengatakan bahwa Palestina tetap menjadi luka terbuka dalam hati nurani masyarakat internasional dan Gaza menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil.

“Selama puluhan tahun resolusi telah dikeluarkan, tetapi pendudukan dan kekerasan terus berlanjut. Kita tidak dapat berbicara tentang perdamaian sambil mengabaikan Palestina. Perdamaian berkelanjutan di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina,” katanya.

Pezeshkian juga mengatakan bahwa selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan masih berlangsung di dunia, perlawanan akan terus ada.

“Jika satu bentuknya mengalami kerusakan, ia akan muncul kembali dalam bentuk lain, bahkan mungkin lebih kuat,” katanya.

Menurutnya, meskipun terjadi pembunuhan dan kehancuran luas di Gaza, keteguhan masyarakat menunjukkan bahwa perlawanan tidak dapat dipaksa menyerah melalui bom dan blokade.

“Ini adalah sifat manusia. Jika seseorang diusir dari tanahnya, ia akan melawan. Jika rumahnya dibombardir, ia akan melawan. Kalau tidak melawan, apa yang harus dilakukannya? Haruskah ia menerima intimidasi, menerima pengusiran dari rumahnya, lalu diam terhadap agresi, sementara ketika berusaha membela diri justru disebut teroris?” ujarnya.

Pezeshkian mengatakan bahwa persoalan kawasan seharusnya diberi kesempatan untuk diselesaikan oleh negara-negara kawasan sebelum berubah menjadi alasan bagi perang kekuatan-kekuatan jauh.

Menurutnya, “kemandirian strategis berarti hubungan dengan kekuatan asing mana pun tidak boleh berubah menjadi sarana perang terhadap negara tetangga.”

Kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan serangan terhadap Iran, Pezeshkian mengatakan bahwa mereka telah menyaksikan sendiri kekuatan militer dan ketahanan Iran.

“Mereka kini mengetahui bahwa Iran tidak dapat dipaksa menyerah melalui perang. Iran tidak pernah memulai perang dan selalu menunjukkan komitmennya terhadap meja perundingan. Perang dipaksakan kepada kami, tetapi kami membuktikan bahwa kami tidak takut berperang untuk mempertahankan diri, dan kami juga tidak menghindari perundingan demi perdamaian,” katanya.

Presiden Iran kemudian mengatakan bahwa tema sidang tersebut adalah membangun kembali kepercayaan.

“Kepercayaan tidak dibangun dengan kata-kata, tetapi membutuhkan penghindaran dari standar ganda,” katanya.

Ia kemudian melontarkan kritik tajam terhadap apa yang menurutnya merupakan standar ganda dalam persoalan nuklir dan konflik kawasan.

“Bom atom dan senjata pemusnah massal lainnya di kawasan ini berada di tangan Israel, tetapi inspeksi justru diminta dari Iran. Israel membunuh 70 ribu orang di Gaza, tetapi Iran dibombardir ketika sedang berada di meja perundingan. Israel memiliki bom atom, bukan anggota NPT, sepanjang sejarahnya tidak pernah mengizinkan seorang inspektur pun memasuki wilayah pendudukan, tetapi menerima senjata gratis senilai miliaran dolar dan memiliki kekebalan untuk membombardir ibu kota mana pun yang diinginkannya,” katanya.

Pezeshkian kembali menegaskan:

“Saya ulangi: bom atom ada di Israel, tetapi inspektur berada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dijatuhi sanksi.”

Ia menyebut situasi tersebut sebagai sebuah tragedi, terutama karena menurutnya sanksi justru menyasar masyarakat miskin dan warga sipil yang tidak bersalah.

“Jika kita mencari keadilan, kawan maupun lawan harus dinilai dengan standar yang sama, dan hak asasi manusia tidak boleh dijadikan alat persaingan geopolitik. Iran tidak menginginkan keistimewaan khusus; Iran menginginkan hak yang setara dan siap menerima tanggung jawab yang menyertainya,” katanya.

Pezeshkian mengatakan bahwa Iran telah belajar satu kenyataan dari sejarah panjangnya: dunia akan berbahaya bagi negara yang tidak memiliki kekuatan, tetapi dunia yang hanya memahami bahasa kekuatan juga tidak akan pernah memiliki keamanan berkelanjutan.

“Jika kepercayaan antarmasyarakat hilang, bahkan angkatan bersenjata terkuat sekalipun tidak akan mampu menciptakan keamanan yang berkelanjutan,” katanya.

Ia memperingatkan bahwa jika hukum internasional hanya diterapkan ketika sesuai dengan kepentingan negara-negara kuat, semakin banyak negara akan menyimpulkan bahwa satu-satunya jalan untuk menjamin keamanan adalah mengandalkan kekuatan mereka sendiri.

“Ini akan menjadi awal dari dunia yang lebih berbahaya bagi kita semua,” ujarnya.

Pezeshkian mengatakan abad ke-21 tidak boleh menjadi era kembalinya politik kekuatan dan pemerintahan berdasarkan paksaan.

“Kita tidak boleh membangun dunia di mana kekuatan militer menggantikan legitimasi, sanksi menggantikan diplomasi, pembunuhan menggantikan politik, dan perang menggantikan dialog,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan kekuatannya, tetapi mengajak dunia menuju perdamaian dan keadilan.

“Bukan karena kelemahan, melainkan karena kepercayaan terhadap kekuatan kami sendiri dan pemahaman bahwa tidak ada seorang pun di kawasan ini yang dapat memiliki keamanan sendirian. Kita akan membangun keamanan bersama, atau bersama-sama pula kita akan menanggung ketidakamanan,” katanya.

Pezeshkian mengatakan Iran membayangkan masa depan ketika keamanan, keadilan, dan martabat manusia menjadi hak bersama yang tidak dapat dicabut bagi semua bangsa; masa depan ketika tidak ada bangsa yang disingkirkan, tidak ada suara yang tenggelam oleh hiruk-pikuk kekuatan, dan tidak ada kekuatan yang berhak menentukan masa depan bangsa lain.

“Suatu tatanan yang pantas disebut internasional harus dibangun di atas kesetaraan bangsa-bangsa, keadilan, kelayakan, dan kehendak bersama umat manusia. Sebab perdamaian yang tidak berlaku untuk semua bukanlah perdamaian, dan keadilan yang tidak mencakup semua bukanlah keadilan,” katanya.

Pezeshkian kemudian mengkritik pidato Presiden Amerika Serikat sehari sebelumnya, yang menurutnya dipandang oleh opini publik, pemikir, politisi, dan ahli hukum sebagai cerminan intimidasi, logika kekuatan, dan bertentangan secara nyata dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Dia harus mengetahui bahwa ancaman justru akan membuat bangsa kami semakin bersatu, semakin kuat, dan meningkatkan perlawanan rakyat Iran. Mereka harus tahu bahwa bangsa Iran tidak akan tunduk terhadap paksaan dan akan membuat para agresor menyesali tindakan mereka,” katanya.

Presiden Iran menutup dengan menegaskan: “Kami siap berdialog, tetapi mereka harus mengetahui bahwa kami tidak akan menerima bahasa kekuatan.”

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha