24 September 2026 - 20:35
“Israel Semakin Dibenci di Dunia / Netanyahu Tak Berani Menginap Semalam di New York”“Israel Semakin Dibenci di Dunia / Netanyahu Tak Berani Menginap

Seorang analis politik Israel dalam sebuah tulisan di Times of Israel mengakui bahwa Israel menghadapi kebencian dan tekanan yang semakin besar di berbagai penjuru dunia. Ia menilai Benjamin Netanyahu gagal memanfaatkan dukungan internasional yang luas setelah serangan 7 Oktober untuk mengelola perang dan konsekuensi internasionalnya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Shalom Yerushalmi, analis politik Israel, menilai bahwa perjalanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke New York, kota Amerika yang selama ini menjadi salah satu tujuan favoritnya, kini tidak lagi seperti dahulu. Menurutnya, Netanyahu bahkan tidak berani menghabiskan satu malam di New York karena kekhawatiran akan kemungkinan penangkapan.

Dalam sebuah tulisan yang diterbitkan di situs Zman Yisrael, Yerushalmi menyatakan bahwa Israel telah menjadi sangat tidak populer di berbagai belahan dunia dan situasinya, menurut dia, bukannya membaik, melainkan justru semakin memburuk.

Ia menyinggung kemenangan terbaru partai-partai kanan dan kiri ekstrem di Jerman yang, menurutnya, dipandang di Israel sebagai ancaman serius terhadap masyarakat Yahudi dan warga Israel.

Yerushalmi berpendapat bahwa perlakuan terhadap Israel kerap disertai apa yang ia sebut sebagai kemunafikan. Ia mengklaim bahwa: “Di banyak tempat di dunia terdapat kecenderungan untuk menghapus peristiwa 7 Oktober dari ingatan, seolah-olah perang dan kehancuran di Gaza semata-mata merupakan tindakan jahat pemerintah dan militer Israel. Sejumlah warga Israel sendiri juga turut membantu menampilkan gambaran yang ‘terdistorsi’ tersebut.”

Analis Israel tersebut kemudian melontarkan kritik keras terhadap kinerja Netanyahu.

Ia menulis: “Namun seorang pemimpin dengan posisi global—sebagaimana Netanyahu memandang dirinya sendiri dan sebagaimana citra yang ia promosikan dalam pemilu ini—seharusnya memperhitungkan reaksi internasional dalam jangka menengah dan panjang.”

Menurut Yerushalmi, setelah puluhan tahun berada dalam pemerintahan, terus belajar, dan memiliki pengalaman luas di berbagai belahan dunia, Netanyahu seharusnya mampu memahami apa yang ia sebut sebagai “perang politik eksistensial” yang sedang berlangsung terhadap Israel, lalu merencanakan langkah militer dan keamanan berdasarkan pertimbangan tersebut.

Ia melanjutkan: “Seorang pemimpin yang meminta masyarakat memilihnya karena ia ‘berbeda’ seharusnya memanfaatkan ‘dukungan luas’ dan ‘simpati besar’ dunia terhadap Israel segera setelah 7 Oktober, bukan dengan cepat menyia-nyiakannya.”

Yerushalmi menambahkan bahwa perang-perang yang dilakukan Israel pada masa lalu umumnya berlangsung singkat dan efektif, karena terdapat kesadaran bahwa Israel tidak siap menghadapi perang berkepanjangan sekaligus berhadapan dengan sebagian besar dunia.

Menurutnya, pihak-pihak yang pada 2024 menyerukan agar perang segera diakhiri dan para sandera dipulangkan kini harus bersembunyi di tengah kampanye politik Netanyahu dan berusaha membenarkan posisi mereka.

Pada akhir Maret 2024, ratusan pilot dan awak penerbangan—baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif—menandatangani petisi yang menyerukan penghentian segera perang.

Menurut artikel tersebut, para pilot itu mencerminkan pandangan sebagian besar opini publik Israel. Namun Netanyahu merespons mereka dengan keras dan mendorong Herzi Halevi, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Umum militer Israel, untuk mencabut puluhan dari mereka dari dinas cadangan.

Tulisan tersebut melanjutkan bahwa Netanyahu tetap bersikeras meneruskan perang karena khawatir dua menterinya, Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir, akan mengundurkan diri dan menyebabkan pemerintahannya jatuh.

Menurut Yerushalmi, pada saat itu Israel berada di sebuah persimpangan penting.

Ia menulis bahwa Netanyahu memahami jika perang dihentikan dan para sandera dibebaskan, posisi Israel di dunia akan menghadapi risiko karena terdapat kemungkinan Israel harus kembali terlibat dalam perang di kemudian hari. Menurutnya, Netanyahu sepenuhnya menyadari sensitivitas situasi tersebut.

Analis itu juga mengatakan bahwa Netanyahu, yang menurutnya memandang dirinya sebagai ahli strategi politik besar, seharusnya sejak awal merencanakan perang yang singkat dan terarah. Namun, lanjutnya, perang tersebut hingga kini masih berlangsung.

Dalam kritik lebih lanjut terhadap kabinet Netanyahu dan berbagai keputusannya, Yerushalmi menulis bahwa Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel, tiga hari sebelumnya—hampir tiga tahun setelah peristiwa Oktober—kembali memperingatkan tentang kemungkinan penculikan tentara dan warga sipil oleh Hamas.

Menurut tulisan tersebut, Katz juga mengancam berbagai pihak di kawasan, mulai dari Iran hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dengan mengatakan bahwa jika diperlukan Israel akan menghancurkan Gaza dan mendorong jutaan penduduk yang masih bertahan ke arah selatan.

Yerushalmi mengkritik pendekatan tersebut dengan mengatakan situasinya seolah-olah masih berada pada Oktober 2023, bukan Oktober 2026.

Pada bagian penutup, penulis menegaskan: “Sebuah komisi penyelidikan resmi harus memeriksa kesalahan perhitungan politik Netanyahu, penyebabnya, dan proses yang membawa kita dari masa ketika seluruh dunia berdiri bersama kita hingga terjadinya tsunami [ketegangan dan krisis] ini.”

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha