11 September 2026 - 21:32
Imam Jumat Skardu: Umat Islam Harus Waspada dan Menghindari Perpecahan

Hujjatul Islam Mohammad Javad Hafezi, ulama Pakistan, dalam khutbah Jumat di Masjid Jami Kota Skardu, Baltistan, Pakistan, menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam. Ia menyerukan kaum Muslimin agar dengan kewaspadaan dan kesadaran tidak memperbesar perselisihan serta tidak membiarkan musuh memanfaatkan perpecahan untuk mencapai tujuan mereka.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Hujjatul Islam Mohammad Javad Hafezi, ulama Pakistan, dalam khutbah Jumat di Masjid Jami Kota Skardu, Baltistan, menegaskan bahwa umat Islam harus menjaga persatuan dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran.

Menurutnya, kaum Muslimin tidak boleh memperbesar perselisihan dan harus mencegah pihak-pihak yang bermusuhan memanfaatkan perpecahan untuk mencapai kepentingan mereka.

Ia mengungkapkan kekhawatiran atas suasana yang berkembang terhadap Islam dan kaum Muslimin. Menurutnya, dalam kondisi saat ini, lebih dari sebelumnya umat Islam perlu mencegah perpecahan dan keretakan internal agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan dan tujuan pihak luar.

Ulama Pakistan tersebut juga mengecam terorisme, ekstremisme, serta berbagai upaya untuk mengadu kaum Muslimin satu sama lain.

Ia menegaskan bahwa umat Islam tidak seharusnya bereaksi terhadap berbagai peristiwa hanya berdasarkan emosi. Sebaliknya, mereka harus meneliti kenyataan dengan pengetahuan, kesadaran, persatuan, dan kejernihan pandangan sebelum mengambil sikap terhadap berbagai persoalan.

Hujjatul Islam Hafezi kemudian merujuk pada kisah Bani Israil dalam Al-Qur’an. Ia mengatakan bahwa betapapun manusia berusaha menyembunyikan kebenaran dan menutupi realitas, pada akhirnya kehendak Allah akan membuat kebenaran itu tersingkap dan fakta-fakta menjadi nyata.

Perjalanan yang Tidak Dapat Dihindari

Imam Jumat Skardu kemudian berbicara mengenai perjalanan dan tujuannya dalam kehidupan manusia. Ia mengatakan bahwa sepanjang hidup, manusia melakukan berbagai perjalanan untuk tujuan seperti haji, ziarah, pengobatan, perdagangan, dan berbagai keperluan lainnya. Namun ada satu perjalanan yang tidak mungkin dihindari oleh siapa pun, yaitu perjalanan menuju akhirat.

Ia menambahkan bahwa sebagaimana masyarakat membutuhkan sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas penting untuk kehidupan, demikian pula harus tersedia dukungan sosial bagi orang-orang beriman yang miskin, membutuhkan, dan tidak memiliki penopang ketika mereka wafat dan ketika prosesi pemakaman dilaksanakan.

Hafezi menegaskan bahwa ajaran agama tidak hanya untuk didengar dan diketahui, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Pentingnya Mengiringi Jenazah

Ia selanjutnya menekankan pentingnya mengiringi jenazah seorang mukmin. Menurutnya, menyampaikan kabar wafatnya seorang mukmin, menghadiri prosesi pemakaman, serta memohonkan ampunan dan rahmat bagi almarhum merupakan bagian dari kewajiban dan tradisi penting dalam Islam.

Dengan merujuk pada berbagai riwayat Islam, Hafezi mengatakan bahwa setiap langkah yang ditempuh seseorang dalam mengiringi jenazah dijanjikan pahala, ampunan Allah, dan peningkatan derajat.

Karena itu, prosesi pemakaman tidak semestinya dipandang hanya sebagai tradisi sosial, tetapi juga sebagai kesempatan berharga untuk mengingat akhirat dan mengevaluasi kembali perjalanan hidup.

Ia mengatakan bahwa ketika seseorang mengikuti pemakaman seorang mukmin, ia seharusnya merenungkan kenyataan bahwa suatu hari nanti jenazahnya sendiri juga akan dipikul oleh orang lain dan ia pun akan berangkat menuju alam akhirat.

Hafezi juga menjelaskan beberapa adab dalam prosesi pemakaman, antara lain berzikir kepada Allah, membaca salawat, menjaga kesederhanaan dan ketenangan, serta menghindari perilaku yang tidak pantas.

Menurutnya, sebisa mungkin jenazah hendaknya dipikul di atas bahu para pengiring. Mereka yang hadir juga dianjurkan, jika memungkinkan, untuk bergantian memikul jenazah dari berbagai sisi.

Jangan Tinggalkan Keluarga yang Berduka

Imam Jumat Skardu menyebut kepedulian dan pendampingan terhadap keluarga orang yang wafat sebagai salah satu manifestasi penting akhlak Islam.

Ia mengatakan bahwa orang-orang beriman tidak boleh meninggalkan keluarga yang sedang berduka sendirian dalam kondisi sulit. Sebaliknya, mereka harus hadir, menunjukkan belasungkawa, dan memberikan bantuan untuk meringankan sebagian penderitaan serta kesulitan keluarga tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan kekhidmatan prosesi pemakaman. Para peserta sebaiknya menghindari percakapan yang tidak perlu dan pembicaraan mengenai urusan duniawi selama prosesi berlangsung, serta hadir dengan ketenangan, kewibawaan, dan perhatian kepada ajaran agama.

Hafezi mengingatkan bahwa harta, kekayaan, fasilitas materi, dan seluruh penampilan duniawi tidak akan menemani manusia menuju akhirat.

Karena itu, manusia tidak semestinya memiliki keterikatan berlebihan terhadap dunia, tetapi harus memusatkan perhatian pada perbaikan kehidupan, melakukan amal saleh, dan mempersiapkan diri untuk perjalanan akhirat.

Pada akhir khutbahnya, ia menegaskan bahwa menghadiri prosesi pemakaman dapat menjadi pelajaran besar tentang kehidupan, karena mengingatkan manusia bahwa kesempatan hidup sangat terbatas.

Setiap orang, katanya, harus mempersiapkan dirinya sebelum perjalanan terakhir tiba, untuk bertemu dengan Tuhan dan memasuki kehidupan akhirat.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha