7 September 2026 - 04:39
Dari Migrasi hingga Membangun Peradaban: Menelusuri 70 Tahun Kehadiran Muslim di Swedia

Meningkatnya aksi kekerasan dan pembakaran Al-Qur’an oleh pendukung kelompok sayap kanan ekstrem di lima kota di Swedia kembali memunculkan perhatian internasional terhadap keamanan komunitas Muslim di negara tersebut. Randa Atiyah, peneliti asal Mesir, dalam sebuah laporan analitis yang diterbitkan situs Noon Post, mengulas meningkatnya kejahatan bermotif rasisme terhadap Muslim di Swedia dengan merujuk pada peringatan Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Perhatian terhadap Muslim di Swedia kembali meningkat setelah terjadinya sejumlah insiden kekerasan di lima kota menyusul aksi pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan pendukung kelompok sayap kanan ekstrem Stram Kurs (Hard Line) pimpinan Rasmus Paludan.

Swedia yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang relatif terbuka terhadap pendatang kini menghadapi tantangan baru. Dewan HAM PBB juga telah memperingatkan meningkatnya tingkat kejahatan bermotif rasisme terhadap umat Islam di negara tersebut.

Sejarah 70 Tahun Kehadiran Muslim

Hubungan langsung komunitas Muslim dengan Swedia dapat ditelusuri hingga lebih dari 70 tahun lalu, tepatnya pada masa Perang Dunia II, ketika Stockholm menjadi tujuan kelompok pertama imigran keturunan Tatar dari Finlandia.

Dalam dua dekade setelah perang, gelombang migrasi kedua datang dalam bentuk tenaga kerja dari Turki, Afrika Utara, Palestina, dan negara-negara bekas Yugoslavia. Kehadiran mereka kemudian mendorong pembentukan organisasi dan perkumpulan Islam pertama di Swedia.

Memasuki dekade 1970-an, pola migrasi mulai berubah menjadi lebih bernuansa politik dan kemanusiaan. Para pengungsi dari Lebanon, Kurdistan, Bangladesh, Uganda, dan Palestina mulai menetap di berbagai kota, termasuk Gothenburg dan Malmö.

Pada 1975, federasi Islam pertama didirikan dan secara resmi diakui di Malmö. Seiring berlanjutnya arus migrasi dari Timur Tengah dan kawasan lainnya, jumlah penduduk Muslim pada akhir dekade 1980-an telah melampaui 150 ribu orang.

Saat ini, menurut laporan tersebut, populasi Muslim di Swedia meningkat dari sekitar 1.000 orang menjadi sekitar 830 ribu jiwa dalam waktu kurang dari 50 tahun. Warga keturunan Suriah menjadi kelompok Muslim terbesar dengan jumlah sekitar 190 ribu orang, disusul komunitas asal Irak, Afghanistan, Palestina, dan Somalia.

Dari Kebijakan Pintu Terbuka ke Pendekatan Keamanan

Hubungan pemerintah Swedia dengan umat Islam sebagai kelompok minoritas agama terbesar di negara itu disebut mengalami dua fase yang berbeda.

Fase pertama berlangsung hingga 2015 dan dikenal dengan pendekatan “kebijakan pintu terbuka”, yang menjadikan Swedia salah satu tujuan utama bagi para migran dan pengungsi serta dikenal sebagai negara yang relatif mendukung kehidupan bersama. Namun setelah 2015, seiring pengetatan perbatasan dan penerapan berbagai pembatasan, hubungan tersebut memasuki fase kedua.

Munculnya kekuatan politik sayap kanan seperti Partai Demokrat Swedia, yang menjadikan isu penolakan terhadap Muslim sebagai salah satu instrumen kampanye politiknya, disebut telah meningkatkan tekanan sosial dan politik terhadap pemerintah.

Di sisi lain, lembaga-lembaga keamanan Swedia juga memperingatkan meningkatnya ekstremisme. Mereka menyebut jumlah individu yang dikategorikan sebagai ekstremis mengalami peningkatan hingga seribu persen dalam kurun satu dekade terakhir. Pihak keamanan juga mengklaim sekitar 300 orang penduduk Swedia pernah bergabung dengan kelompok teroris ISIS.

Mantan kepala dinas keamanan Swedia, Anders Thornberg, menekankan perlunya pengawasan yang ketat dan memperingatkan agar potensi aksi kekerasan tidak diabaikan. Selain itu, sebuah laporan dari Universitas Pertahanan Swedia juga pernah mengklaim bahwa pertumbuhan populasi Muslim serta meningkatnya aktivitas ceramah keagamaan dapat menjadi tantangan terhadap komposisi demografis negara tersebut di masa depan.

Potensi Hidup Berdampingan dan Peran Masjid

Meski menghadapi meningkatnya ujaran kebencian, ruang publik Swedia masih dinilai sebagai salah satu lingkungan yang relatif terbuka bagi integrasi dan kehidupan bersama di Eropa. Sebagai contoh, Masjid Agung Stockholm setiap tahun menerima sekitar 20 ribu pengunjung non-Muslim yang datang untuk mengenal peradaban dan seni Islam. Interaksi semacam ini dinilai membantu menciptakan ruang bersama antarmasyarakat serta mengikis berbagai stereotip negatif terhadap Islam dan umat Muslim.

Pada saat yang sama, meningkatnya kesadaran umat Islam terhadap hak-hak sipil mereka juga membuat posisi komunitas Muslim semakin kuat dalam kehidupan sosial Swedia. Struktur organisasi Islam di negara itu pun semakin berkembang.

Sejumlah organisasi seperti Islamic Association in Sweden (IFIS), yang dianggap sebagai salah satu lembaga rujukan keagamaan, serta Swedish Muslim Council (SMR) dan sejumlah federasi lain mewakili berbagai kelompok etnis dan mazhab, termasuk komunitas Syiah.

Di bidang pendidikan, sebagian persoalan yang sebelumnya dihadapi komunitas Muslim juga mulai diatasi melalui pengintegrasian pendidikan Islam di sejumlah sekolah serta pengakuan terhadap beberapa lembaga dan sertifikat pendidikan mereka. Perkembangan tersebut disebut menempatkan Swedia dalam posisi yang relatif lebih maju dibandingkan sejumlah negara Eropa lainnya dalam mengakomodasi kebutuhan komunitas Muslim.

Islamofobia, Tantangan bagi Kehidupan Bersama

Meski proses integrasi menunjukkan sejumlah keberhasilan, meningkatnya dukungan terhadap kelompok sayap kanan dalam pemilu 2018, yang memperoleh sekitar 18 persen suara, menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat Swedia.

Mattias Gardell, profesor sejarah agama di Universitas Uppsala, menggambarkan situasi tersebut sebagai bentuk “Islamofobia” dan “gelombang baru serangan rasis.”

Migran dan umat Islam kini disebut semakin sering dijadikan isu dalam politik populis, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap meningkatnya sentimen rasis serta serangan terhadap sejumlah masjid.

Meski demikian, komunitas Muslim di Swedia menegaskan bahwa tekanan kelompok sayap kanan ekstrem tidak akan membuat mereka meninggalkan kehidupan sosial di negara tersebut. Samir Murtic, imam salah satu masjid di kota Eslöv yang sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan kelompok ekstremis, mengatakan:

“Kami datang ke Swedia untuk hidup dalam keamanan dan ketenangan. Tugas kami adalah memperkenalkan wajah Islam yang penuh kasih sayang.”

Komunitas Muslim di Swedia menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada intimidasi. Bersama pihak berwenang, mereka berupaya mengatasi akar ekstremisme sekaligus mempertahankan identitas keagamaan mereka di tanah air baru yang kini mereka tempati.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha