15 Agustus 2026 - 23:00
Pakta Makkah, Kesepakatan Ekonomi Berbalut Militer

Arab Saudi melalui kesepakatan Makkah dinilai berupaya mendapatkan dukungan politik dan militer dari Turki dan Pakistan dengan kekuatan finansialnya. Namun, karena sifat hubungan yang bergantung pada kepentingan masing-masing serta tidak sepenuhnya selaras secara strategis, kesepakatan tersebut dinilai sulit memberikan jaminan keamanan yang nyata dan berkelanjutan bagi Saudi.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Desakan Arab Saudi untuk membentuk berbagai koalisi dapat ditelusuri dari sejumlah faktor. Jika melihat sejarah pemerintahan Saudi, terdapat persoalan kepercayaan terhadap kemampuan militer dan sosialnya sendiri.

Para penguasa Saudi dinilai tidak sepenuhnya yakin terhadap kemampuan angkatan bersenjatanya maupun kapasitas masyarakatnya dalam mengelola krisis ketika menghadapi konflik serius. Karena itu, setiap kali berhadapan dengan ancaman besar, pembentukan koalisi dengan negara lain cenderung menjadi pilihan dibandingkan mengandalkan kekuatan nasional secara mandiri.

Dalam konteks tersebut, kesepakatan pertahanan antara Turki, Arab Saudi dan Pakistan yang disebut sebagai Pakta Makkah menetapkan bahwa apabila salah satu dari ketiga negara mendapat serangan, dua negara lainnya berkewajiban memberikan bantuan militer.

Arab Saudi

Meski memiliki anggaran militer sangat besar, mencapai sekitar 75 miliar dolar AS, serta hubungan dekat dan panjang dengan Amerika Serikat, Saudi tetap memilih bergabung dalam kesepakatan tersebut. Langkah ini dinilai mencerminkan melemahnya kepercayaan Riyadh terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Pergeseran orientasi dari Barat menuju Timur serta meningkatnya ketergantungan pada kekuatan regional seperti Turki dan Pakistan pun semakin terlihat.

Namun, terdapat persoalan dalam kalkulasi Saudi. Negara itu dinilai terus berupaya memperoleh keamanan melalui kekuatan finansial dan kontrak-kontrak pertahanan, sementara keamanan yang berkelanjutan tidak dapat dibangun hanya dengan uang.

Pakistan

Kedekatan Pakistan dengan Arab Saudi memiliki akar hubungan finansial dan historis. Saudi disebut memiliki peran khusus dalam pendanaan program nuklir Pakistan.

Namun dalam praktiknya, Pakistan dinilai belum pernah mengambil langkah besar dan efektif untuk kepentingan Saudi. Islamabad bahkan tidak terlibat langsung dalam perang Arab Saudi di Yaman.

Pakistan selama ini menempatkan kepentingan nasionalnya sebagai prioritas. Salah satu perhatian utama Islamabad adalah persaingan dan konfrontasinya dengan India.

Selain itu, Pakistan memiliki sejumlah kepentingan yang sejalan dengan Iran, termasuk dalam menghadapi Israel dan persoalan separatisme di Balochistan. Karena itu, Pakistan dinilai tidak akan dengan mudah memasuki fase ketegangan dengan Iran.

Turki

Sementara itu, Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan dinilai memiliki ambisi yang lebih besar dibandingkan Pakistan.

Dengan orientasi yang digambarkan sebagai neo-Ottomanisme, Ankara dinilai berupaya memperluas pengaruh regional sekaligus memperoleh akses terhadap sumber-sumber finansial yang lebih besar.

Kesepakatan Ekonomi Berbalut Militer

Secara keseluruhan, Pakta Makkah dapat digambarkan sebagai “kesepakatan ekonomi berbalut militer”. Arab Saudi dinilai menggunakan kekuatan finansialnya untuk memperoleh dukungan politik dan militer dari Turki dan Pakistan.

Namun karena hubungan tersebut bersifat bergantung pada kepentingan masing-masing dan tidak sepenuhnya memiliki keselarasan strategis, kesepakatan itu diperkirakan sulit memberikan keamanan nyata dan berkelanjutan bagi Arab Saudi.

Turki dan Pakistan juga dinilai tidak memiliki kapasitas militer, teknologi, finansial dan politik yang setara dengan Amerika Serikat. Keduanya dipandang tidak akan mudah menghadapi strategi perang asimetris Ansarullah di Laut Merah. Karena itu, setiap langkah ofensif berisiko berujung pada kegagalan.

Selain itu, sulit mengharapkan Turki, yang merupakan anggota NATO, maupun Pakistan, negara pemilik senjata nuklir, untuk terseret ke dalam perang regional atau konflik berkepanjangan demi kepentingan Arab Saudi. Terlebih, kedua negara memiliki persoalan keamanan dan kepentingan strategis masing-masing, mulai dari konflik dengan kelompok separatis hingga persaingan Pakistan dengan India.

Pada akhirnya, Turki dan Pakistan dinilai tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan Arab Saudi. Kendati demikian, kemungkinan keduanya memberikan bantuan militer yang efektif untuk mempertahankan wilayah Saudi tetap terbuka.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha