Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Meluasnya kehadiran ekonomi China di Afrika kini menjadi salah satu kekhawatiran baru di kalangan pembuat kebijakan Amerika Serikat. Kekhawatiran itu tidak lagi berhenti pada peringatan soal pengaruh Beijing, tetapi sudah masuk ke pembahasan tentang masa depan hubungan ekonomi Washington dengan benua Afrika.
Dua peneliti dari Foundation for Defense of Democracies dalam sebuah analisis berjudul “Guncangan China Datang ke Afrika” memperingatkan bahwa Amerika harus bergerak lebih dulu daripada China dalam membentuk aturan Kawasan Perdagangan Bebas Benua Afrika atau AfCFTA. Analisis ini terbit hanya tiga hari setelah Congressional Research Service Amerika merilis laporan tentang hubungan China dengan Afrika Sub-Sahara dan kebijakan Washington terhadap kawasan tersebut.
Menurut tulisan itu, kekhawatiran Washington bukan tanpa alasan. Perdagangan China dan Afrika dalam beberapa tahun terakhir meningkat dengan cepat. Berdasarkan data yang disebutkan, volume perdagangan dua arah antara Beijing dan Afrika hingga akhir Juli mencapai sekitar 1,41 triliun yuan, atau sekitar 208 miliar dolar AS.
Selain itu, sejak pertengahan Ordibehesht tahun ini, pemerintah Beijing mulai menerapkan kebijakan tarif nol untuk seluruh negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan China.
Washington sendiri menekankan perluasan instrumen keuangan dan investasi, termasuk program investasi strategis baru dengan Afrika. Namun, jika tujuan utamanya adalah menyingkirkan China dari pasar Afrika, Amerika berisiko terjebak dalam pola lama yang selama beberapa tahun terakhir banyak membentuk kebijakan luar negerinya.
Banyak pemerintah Afrika justru berusaha memanfaatkan persaingan kekuatan besar untuk mendorong agenda pembangunan mereka sendiri. Mereka tidak selalu ingin dipaksa memilih antara Washington dan Beijing.
Salah satu alasan mengapa posisi China begitu kuat di Afrika adalah fokus Beijing pada proyek-proyek infrastruktur nyata. China hadir dalam pembangunan pelabuhan, jalur kereta api, pembangkit listrik, proyek transportasi, dan energi.
Pendekatan ini membuat hubungan Beijing dengan banyak negara Afrika tidak hanya terbatas pada perdagangan. China juga menancapkan pengaruhnya pada infrastruktur fisik dan kapasitas ekonomi negara-negara tersebut. Karena itu, sekalipun investasi Amerika meningkat, belum tentu China otomatis tersingkir.
Tantangan Amerika di Afrika
Jika Amerika masuk dengan tujuan membuka akses lebih besar ke pasarnya, menyediakan pendanaan pembangunan, mentransfer teknologi, dan membangun kerja sama teknis, sementara negara-negara Afrika juga diberi peran nyata dalam menentukan aturan kerja sama itu, maka kehadiran Washington bisa bermanfaat bagi benua tersebut.
Namun, jika tujuan utamanya hanya menahan pengaruh China dan menjaga keunggulan Amerika, maka pembangunan Afrika akan berubah menjadi agenda kedua. Persaingan geopolitik akan mengalahkan kebutuhan ekonomi negara-negara Afrika.
Menurut Global Times, Afrika tidak boleh hanya dijadikan arena baru pertarungan kekuatan besar. Negara-negara di benua itu sedang berupaya melakukan industrialisasi, memperluas perdagangan regional, dan membangun kapasitas ekonomi yang mandiri. Karena itu, wajar jika mereka ingin bekerja sama dengan semua mitra luar negeri demi mencapai tujuan tersebut.
Dari sudut pandang ini, “guncangan China” bukan sekadar peringatan tentang kekuatan ekonomi Beijing. Ia juga menjadi ujian bagi kebijakan luar negeri Amerika.
Washington harus menentukan sikap: apakah ia hanya ingin bersaing dengan China di Afrika, atau mampu menawarkan kerja sama yang tetap bernilai bagi negara-negara Afrika, bahkan tanpa dikaitkan dengan kompetisi melawan Beijing.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi Afrika tidak seharusnya ditentukan oleh pertanyaan: “Siapa yang akan memenangkan Afrika?”
Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana persaingan kekuatan besar mampu memberi lebih banyak pilihan bagi pemerintah, pekerja, dan pengusaha Afrika.
Komentar Anda