9 Agustus 2026 - 23:06
Kelompok Perlawanan Irak Desak Respons atas Serangan Saudi; “Diplomasi terhadap Al-Saud Tidak Berguna”

Di tengah meningkatnya kemarahan faksi-faksi perlawanan Irak atas serangan terbaru Arab Saudi terhadap posisi Hashd al-Shaabi, Sekretaris Jenderal Gerakan Nujaba menegaskan bahwa “diplomasi terhadap Al-Saud tidak berguna” dan menyerukan respons tegas atas serangan tersebut. Sikap ini mencerminkan tekad kelompok-kelompok perlawanan untuk menghadapi setiap agresi terhadap kedaulatan Irak.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Setelah serangan terbaru Arab Saudi terhadap posisi pasukan Hashd al-Shaabi di Irak, dan bersamaan dengan berlanjutnya serangan terhadap infrastruktur energi Saudi, situasi politik dan keamanan Irak memasuki fase baru.

Dalam dua hari terakhir, sejumlah kelompok perlawanan Irak mengecam serangan Riyadh dan menekankan perlunya respons balasan. Sikap ini menunjukkan kemungkinan masuknya isu Irak ke babak baru konfrontasi kawasan.

Dalam pernyataan terbaru, Sekretaris Jenderal Gerakan Nujaba Irak menyatakan bahwa “diplomasi terhadap Al-Saud tidak berguna” dan menegaskan bahwa serangan Arab Saudi terhadap posisi Hashd al-Shaabi tidak boleh dibiarkan tanpa balasan.

Ia merujuk pada serangan terbaru terhadap pangkalan pasukan Mobilisasi Rakyat Irak dan menyerukan respons yang mampu mencegah Riyadh mengulangi tindakan serupa.

Syekh Akram al-Kaabi dalam pernyataannya mengatakan, “Akan menjadi jelas bagi semua saudara bahwa pilihan diplomasi terhadap rezim Wahabi Al-Saud adalah pilihan yang tidak membuahkan hasil. Rezim ini memiliki penyimpangan akidah dan berada di balik banyak konspirasi yang menargetkan Irak dan rakyatnya. Tangan rezim ini berlumuran darah rakyat kami, termasuk melalui pendanaan dan pengiriman ribuan kendaraan bermuatan bom serta operasi teror yang digunakan untuk membunuh orang-orang tak berdosa, perempuan, dan anak-anak.”

Sekretaris Jenderal Nujaba itu melanjutkan, “Kalian melihat rezim tercela ini berperilaku buas dan liar terhadap kaum Muslimin, tetapi pada saat yang sama tampil tunduk dan hina di hadapan Zionis dan musuh-musuh Islam, layaknya sapi perah.”

Karena itu, menurutnya, jalan yang benar dan tegas untuk menghadapi rezim semacam ini tidak lain adalah respons yang setimpal dan bersifat mencegah. Ia menegaskan bahwa kejahatan dan agresi semacam itu harus dilawan dengan cara yang menunjukkan kesetiaan kepada darah para syuhada, terutama syuhada Hashd al-Shaabi yang menjadi korban tindakan pengkhianatan.

Ia menegaskan, “Apakah ganti rugi finansial dapat menebus darah suci mereka? Apakah ada jumlah uang yang mampu mengembalikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim, ibu-ibu yang berduka, dan para istri yang menjadi janda? Tidak akan pernah. Seluruh kekayaan dunia tidak sebanding dengan setetes darah para syuhada mulia Irak.”

Al-Kaabi menambahkan, “Rudal dibalas dengan rudal, dan api hanya dijawab dengan api.”

Pernyataan ini muncul ketika serangan udara terbaru terhadap posisi Hashd al-Shaabi juga mendapat reaksi keras dari pemerintah Irak. Baghdad menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasionalnya. Meski demikian, pemerintah Irak pada saat yang sama berupaya mencegah meluasnya konflik, menjaga stabilitas internal, dan menghindari eskalasi ketegangan kawasan.

Di sisi lain, dalam 48 jam terakhir, serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi juga meningkat. Kementerian Energi Saudi mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas Aramco di Jazan. Sejumlah laporan juga menyebut terjadinya ledakan di pembangkit gas Berri milik Aramco di kawasan Jubail.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa fasilitas strategis energi Arab Saudi masih berada dalam ancaman, dan cakupan ketegangan telah bergeser dari medan Irak ke kedalaman wilayah Saudi.

Meski beberapa kelompok perlawanan Irak menyatakan kesiapan untuk merespons, Koalisi “Perlawanan Islam Irak” pada hari sebelumnya mengumumkan bahwa pelaksanaan respons yang telah direncanakan ditunda atas permintaan sejumlah pemimpin politik Irak.

Hal ini menunjukkan bahwa selain kesiapan militer, terdapat pula upaya untuk mengelola dampak politik dan keamanan dari setiap aksi balasan.

Serangan terbaru Arab Saudi bukan hanya pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional Irak, tetapi juga kelanjutan dari kebijakan intervensionis Riyadh dalam dinamika internal negara tersebut. Menurut para pejabat Irak dan kelompok-kelompok perlawanan, kebijakan semacam ini tidak membantu stabilitas kawasan, tetapi justru memperluas lingkaran ketidakamanan dan ketegangan.

Dalam kerangka itu, kelompok-kelompok perlawanan Irak menegaskan bahwa selama serangan dan intervensi militer terhadap Irak terus berlanjut, hak untuk melakukan respons balasan demi membela kedaulatan dan keamanan negara tetap terbuka. Mereka juga menilai bahwa tanggung jawab atas setiap eskalasi krisis berada di pihak yang memulai tindakan tersebut.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha