8 Mei 2026 - 00:48
Source: ABNA
Pezeshkian: Negosiasi apa pun untuk membuka Selat Hormuz mengharuskan pencabutan blokade laut

Presiden negara kita dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis mengatakan: "Negosiasi apa pun mengenai pembukaan penuh Selat Hormuz, mengharuskan pencabutan blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat."

Menurut laporan kantor berita Abna, dalam percakapan telepon pada Rabu malam, 6 Mei 2026, Masoud Pezeshkian, Presiden Republik Islam Iran, dan Emmanuel Macron, Presiden Prancis, membahas dan bertukar pandangan mengenai perkembangan regional terbaru, jalannya negosiasi, dan beberapa isu strategis termasuk situasi Selat Hormuz.

Dalam percakapan ini, dan dalam kerangka penekanan pada solusi diplomatik, Presiden negara kita seraya berterima kasih atas upaya Prancis, menyatakan: "Kami bersyukur bahwa pendekatan Prancis didasarkan pada penyelesaian masalah melalui dialog, dan Republik Islam Iran selalu menyambut baik pendekatan semacam itu."

Pezeshkian selanjutnya, dengan merujuk pada pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali dilakukan oleh rezim Zionis dalam serangan berulangnya ke Lebanon, menegaskan: "Rezim ini sama sekali tidak mematuhi komitmen gencatan senjata. Sebagaimana ia tidak pernah mematuhi gencatan senjata di Gaza, kini di Lebanon ia berulang kali melanggar kesepakatan. Sayangnya, komunitas internasional masih menjadi pengawas kebiadaban, genosida, dan agresi rezim ini. Adalah wajar bahwa dalam kondisi seperti itu, perlawanan Islam di Lebanon bertindak dalam rangka membela negaranya dan rakyatnya."

Di bagian lain dari percakapan ini, dalam menjelaskan pengalaman negosiasi sebelumnya, Presiden negara kita dengan merujuk pada berulang kali tindakan sabotase oleh Amerika dalam semua proses dialog menyatakan: "Selama negosiasi bilateral Iran dan Prancis di New York, meskipun tercapai kesepakatan pada saat itu, justru Amerika Serikatlah yang dengan tindakan sabotase menghalangi kemajuan proses tersebut. Sayangnya, negara-negara Eropa bukannya mengambil sikap kritis terhadap perilaku itu, dengan melaksanakan snapback, justru memaksakan tekanan sekunder terhadap Iran dan mengarahkan jalur diplomasi dari interaksi konstruktif menuju tekanan, ancaman, dan sanksi, padahal Republik Islam Iran telah memasuki proses ini dengan niat baik."

Your Comment

You are replying to: .
captcha