Menurut laporan kantor berita Abna yang mengutip Al-Mayadeen, Syekh Mahir Hamud, Ketua Persatuan Ulama Perlawanan Sedunia, menyatakan bahwa mendukung perlawanan adalah kewajiban syariat dan menekankan bahwa perundingan langsung dengan penjajah Zionis adalah "perangkap besar".
Beliau hari ini dalam konferensi persnya, seraya menekankan bahwa perlawanan terus memberikan kerugian besar kepada musuh, menyatakan bahwa mendukung perlawanan adalah kewajiban syariat.
Syekh Hamud menyerukan kepada umat Islam untuk mendukung perlawanan dan segala pengorbanan yang telah dilakukannya serta kejelasan pandangannya dalam menghadapi musuh Amerika-Zionis.
Ulama terkemuka ini menekankan bahwa aspek politik dan pandangan umum perlawanan tidak tunduk pada pemikiran atau mazhab tertentu.
Ia melanjutkan bahwa Iran tidak memiliki campur tangan dalam pengambilan keputusan di Lebanon dan bahwa rakyat Libanonlah yang menjadi pengambil keputusan.
Perundingan langsung dengan Zionis adalah perangkap besar
Syekh Hamud mengutuk perundingan langsung antara Lebanon dan penjajah Zionis dan menyebutnya sebagai "perangkap besar".
Syekh Hamud juga mengkritik pernyataan yang dikeluarkan pada 16 April oleh pemerintah Lebanon dan bertanya: "Bagaimana mungkin pemerintah Lebanon dalam pernyataan ini menerima bahwa tidak ada permusuhan antara Israel dan Lebanon, dan bahwa permusuhan hanya ada antara Israel dan Hizbullah?"
Beliau mencatat bahwa otoritas keagamaan tidak boleh menjadi tameng bagi kejahatan dan penyerahan diri kepada Zionis dan Amerika.
Syekh Hamud menekankan: "Para pengungsi Lebanon adalah keluarga kami, dan ketahanan mereka adalah bagian dari perlawanan."
Dengan menekankan bahwa sebagian pihak berusaha menciptakan celah antara perlawanan dan basis populisnya, ia menegaskan bahwa celah itu tidak akan pernah terjadi.
Syekh Hamud dengan menyatakan bahwa "Iran telah membuat Amerika bertekuk lutut dalam perang terakhir," menekankan bahwa Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, setelah kekalahan militernya di hadapan ketahanan Iran, mengalami kontradiksi.
Your Comment