Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — al-Hadath dalam sebuah laporan menulis bahwa Israel, dalam kelanjutan gelombang ancamannya terhadap Iran, kali ini melalui Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa para pilotnya mampu menjangkau “setiap titik di langit Iran”. Klaim ini di media-media Iran lebih banyak ditafsirkan dalam kerangka “perang psikologis” dan upaya untuk menutupi kegagalan serta membangun efek gentar secara propaganda.
Pada saat yang sama, Teheran dan Washington disebut sedang saling bertukar proposal melalui mediator Pakistan. Menurut para analis Iran, hal ini menunjukkan bahwa rezim Zionis khawatir terhadap kemungkinan meredanya ketegangan langsung antara Iran dan Amerika. Karena itu, dengan memamerkan kekuatan udara, Israel berusaha menampilkan dirinya sebagai aktor penentu dalam persamaan kawasan.
Media-media Iran juga menyoroti aspek militer dan ekonomi dari pembelian dua skuadron baru jet tempur F-35 dan F-15 oleh Israel. Mereka menilai langkah ini sebagai kelanjutan ketergantungan strategis Tel Aviv kepada Washington dan industri persenjataan Barat, dalam bentuk kontrak senilai puluhan miliar shekel, di tengah krisis internal dan protes sosial di wilayah pendudukan.
Dalam pandangan ini, penguatan armada udara Israel bukanlah tanda keunggulan mutlak, melainkan pengakuan tidak langsung atas rapuhnya posisi keamanan rezim tersebut di hadapan poros perlawanan dan perubahan keseimbangan kekuatan regional.
Menurut para pakar Iran, kemampuan rudal dan drone Iran beserta sekutu-sekutunya telah membuat setiap petualangan udara sepihak Tel Aviv menjadi sangat mahal dan penuh risiko.
Your Comment