22 April 2026 - 21:07
Apa itu rencana Zionis “Garis Kuning” di Lebanon dan apa dampaknya?

Rencana Zionis “Garis Kuning” di Lebanon, yang merupakan redefinisi dari skema serupa di Gaza, dijalankan dengan tujuan mendikte tatanan keamanan baru di Lebanon serta mendorong proses perlucutan senjata Hizbullah.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Rezim Zionis tengah memperkenalkan rencana baru di Lebanon yang disebut “Garis Kuning”, yang akan digambar di dalam wilayah Lebanon. Langkah ini menunjukkan upaya Tel Aviv untuk mendefinisikan ulang tatanan keamanan perbatasan dengan mengulang model Gaza.

Pengalaman “Garis Kuning” di Gaza menunjukkan bahwa skema Zionis ini telah memberi peluang kepada tentara pendudukan untuk memaksakan pengusiran paksa warga ke wilayah-wilayah tertentu, menduduki sekitar 52 hingga 60 persen wilayah Jalur Gaza, serta melanjutkan pemboman dan penghancuran sistematis terhadap kawasan-kawasan lainnya.

Jaringan berita Al Jazeera menulis bahwa data menunjukkan, jika skema Zionis ini diterapkan di Lebanon, sekitar 55 kota dan desa akan berada di luar garis tersebut. Dengan demikian, desa-desa itu akan berada di bawah kendali militer rezim Zionis.

Jalur ini membentang dari Naqoura dan melewati kawasan-kawasan seperti Al-Shamiyah, Al-Shaab, Bint Jbeil, dan Al-Adissa. Rencana ini mencerminkan konsep keamanan yang lebih luas, yang menurut pernyataan Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu, bertujuan menciptakan kawasan keamanan dari Lebanon selatan hingga cekungan Yarmouk di Suriah, dengan sasaran menghubungkan wilayah-wilayah perbatasan dalam satu zona penyangga yang menyatu dan berkesinambungan. Langkah ini disertai operasi pengusiran paksa penduduk ratusan desa ke utara Sungai Litani.

Brigadir Jenderal Hassan Jouni, analis militer dan strategi, menjelaskan bahwa “Garis Kuning” dalam doktrin rezim Zionis bukan sekadar langkah taktis, melainkan digunakan sebagai alat untuk mendefinisikan ulang perbatasan secara sementara dan mengaitkannya dengan kondisi politik dan militer yang baru.

Menurut Jouni, penerapan konsep ini di Lebanon selatan berarti menghubungkannya dengan isu senjata Hizbullah, yang menjadikan garis tersebut sebagai alat tekanan strategis terhadap kelompok itu.

Dalam model ini, wilayah antara Garis Biru dan Garis Kuning akan berubah menjadi zona tembak bebas, yang berarti dikosongkan dari penduduk dan dijadikan arena operasi terbuka yang dapat digunakan sebagai garis pertahanan depan sekaligus titik awal bagi kemungkinan operasi ofensif.

Pakar urusan Lebanon itu, dengan menyinggung serangan terhadap pasukan sementara PBB (UNIFIL) di Lebanon selatan yang menewaskan seorang tentara Prancis dan melukai tiga lainnya, mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi dalam konteks situasi kawasan yang sangat tegang, dan kemungkinan merupakan hasil bentrokan lapangan dalam kondisi saat ini.

Hassan Jouni menambahkan bahwa Hizbullah mengaitkan kelanjutan perlawanan dengan keberlanjutan kehadiran Israel di dalam wilayah Lebanon, dan menegaskan bahwa kelompok itu tidak akan mentoleransi pelanggaran gencatan senjata dalam bentuk apa pun dan akan kembali memberikan respons seperti sebelumnya.

Jouni meyakini bahwa pendekatan Israel terhadap Lebanon selatan lahir dari pandangan bahwa keberadaan Hizbullah merupakan ancaman langsung bagi keamanan nasional, yang dengan keterkaitannya pada perkembangan regional seperti meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, memberi dimensi khusus terhadap isu ini.

Surat kabar elektronik Rai Al-Youm juga menulis dalam sebuah artikelnya bahwa Garis Kuning memanjang 8 hingga 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon dan mengubah sabuk perbatasan menjadi “zona penyangga”. Rencana ini bukan semata operasi militer untuk menargetkan peluncur-peluncur roket, melainkan merupakan “genosida geografis” yang mencakup penghancuran total 55 desa di selatan Lebanon, pengusiran penduduknya, serta menjadikan kawasan itu sebagai wilayah tanpa penghuni. Ini disebut sebagai perubahan demografis terbesar yang dialami negara Arab kedua sejak tragedi Palestina tahun 1948.

Rencana Zionis ini dijalankan dengan poros “tanah melawan senjata” dan bertujuan meningkatkan tekanan internasional maksimum terhadap Lebanon demi menuntaskan agenda Zionis untuk melucuti senjata Hizbullah.

Your Comment

You are replying to: .
captcha