6 April 2026 - 23:43
Digelar Webinar Internasional tentang Peran Perempuan dalam Ketahanan Sosial pada Masa Perang

Webinar internasional tentang peran perempuan dalam ketahanan sosial pada masa perang, dengan menyampaikan narasi-narasi kecil dari Perang Ramadan di Republik Islam Iran, telah diselenggarakan oleh Lembaga Internasional Ahlulbait as.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Atas upaya Direktorat Jenderal Perempuan dan Keluarga, Deputi Urusan Internasional Lembaga Internasional Ahlulbait bekerja sama dengan Lembaga Lokal Lebanon, webinar internasional tentang peran perempuan dalam ketahanan sosial pada masa perang, dengan pemaparan narasi-narasi kecil dari Perang Ramadan di Republik Islam Iran, telah diselenggarakan.

Dalam webinar ini, Ibu Dr. Roknabadi, Direktur Jenderal Urusan Perempuan dan Lembaga Internasional Ahlulbait a.s., sebagai pembicara pertama, setelah menyampaikan salam pembuka dan selamat datang kepada para perempuan yang hadir dalam pertemuan tersebut, menjelaskan peran perempuan pada masa perang dengan pendekatan dan pandangan yang merujuk pada posisi para perempuan Ahlulbait a.s. dalam konteks ini.

Ia, sembari menyinggung pentingnya ketahanan kolektif pada masa perang, berkata: ketika kita berbicara tentang ketahanan sosial pada masa perang dan krisis, yang dimaksud bukan hanya kesabaran dan daya tahan individu, tetapi kemampuan kolektif suatu masyarakat untuk menjaga solidaritas, iman, dan nilai-nilai mereka dalam kondisi yang paling sulit. Di jantung ketahanan ini, terdapat peran perempuan; perempuan yang menjadi tiang keluarga dan poros keteguhan sosial.

Ia juga, dengan merujuk kepada perempuan-perempuan Ahlulbait a.s. yang merupakan teladan tertinggi dalam kesabaran, kebijaksanaan, dan pengelolaan krisis, menyatakan: mereka bukan sekadar saksi peristiwa, tetapi pembangun kesabaran dan keteguhan sosial; suatu kekuatan yang menyelamatkan masyarakat dari kehancuran dan menjaga nilai-nilai tetap hidup.

Selanjutnya, ia menyebut beberapa teladan seperti Sayidah Khadijah al-Kubra, Sayidah Fatimah az-Zahra a.s., dan pada akhirnya sosok paling terang dari ketahanan pada masa perang dan sesudahnya, yaitu Sayidah Zainab al-Kubra a.s., lalu menambahkan: demikian pula para ibu dan istri para pejuang, dengan kesabaran mereka, telah menjaga semangat perlawanan tetap hidup di tengah masyarakat. Banyak dari mereka juga menjadi perawi adegan-adegan pengorbanan agar generasi mendatang dapat memahami makna sejati iman, harapan, dan cinta tanah air.

Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan bahwa perempuan adalah pembangun ketahanan sosial. Dialah yang menjaga keluarga, menanamkan harapan di dalam hati, dan mewariskan budaya keteguhan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pembicara lain dalam pertemuan daring ini adalah Ibu Zainab Shariatmadar, peneliti dan pengkaji bidang perempuan, yang melalui penjelasan pengalaman lapangannya secara langsung dari Perang Ramadan menggambarkan aktivitas para perempuan dalam arena tersebut.

Pada akhir acara, para peserta perempuan dari berbagai negara menyampaikan pengalaman mereka tentang perlawanan dan ketahanan sosial. Di antara pokok-pokok penting yang mereka sampaikan adalah kehadiran sosial yang menonjol dari perempuan, anak-anak, bahkan para lansia dalam membela front perlawanan.

Selanjutnya, Ibu Dr. Roknabadi, sambil menyampaikan terima kasih kepada para peserta, juga menyatakan kesiapan Majma’ Jahani Ahlulbait a.s. untuk memberikan segala bentuk bantuan dan pendampingan kepada para saudari.

Ia, dengan menyinggung pentingnya posisi perempuan dan kehadiran sosial mereka, serta merujuk pada pernyataan Pemimpin Syahid tentang pentingnya kehadiran sosial perempuan di berbagai bidang, mengatakan: sesuai dengan anjuran pemimpin syahid kami, saat ini partisipasi perempuan dalam aktivitas kolektif dan pelaksanaan peran-peran sosial di jalan agama dan wilayah, serta menciptakan sinergi dan konvergensi seraya menjelaskan hak dan keadilan, merupakan salah satu aktivitas terpenting perempuan dalam situasi dunia saat ini.

Selain itu, pemutaran klip-klip penjelasan bertema Perang Ramadan dalam bahasa Arab juga menjadi bagian dari program pendamping pertemuan daring ini.

Perlu dicatat bahwa webinar ini diselenggarakan dalam bahasa Arab, dipandu oleh Ibu Zainab al-Sayyid Ali dari Lebanon sebagai moderator ahli, dan dihadiri oleh perempuan berbahasa Arab dari Lebanon, Irak, Bahrain, Norwegia, dan Pakistan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha