Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Cendekiawan dan penulis asal Yaman, Issam al-Amad, menyatakan bahwa syahadah Imam Khamenei akan menimbulkan dampak besar di tingkat global dan memicu sebuah revolusi budaya di dunia.
Dalam wawancara dengan ABNA, al-Amad mengatakan bahwa sejak tahun 1988, beberapa bulan setelah Imam Khamenei memimpin Revolusi Islam, ia telah membiasakan diri untuk terus mendengarkan pidato-pidato beliau secara rutin dan berkelanjutan hingga hari kesyahidannya.
Ia menambahkan bahwa selama hampir 40 tahun tinggal di kota suci Qom, ia memiliki kesempatan untuk mengenal secara dekat pemikiran, kepribadian, serta sirah praktis dan teoritis Imam Syahid. Menurutnya, hubungan yang terus-menerus dengan pidato-pidato Imam Khamenei membuatnya semakin akrab dengan pemikiran beliau yang mendalam dan autentik.
Al-Amad menilai bahwa salah satu keistimewaan utama Imam Khamenei adalah keluasan ilmu, kedalaman pemikiran, kemampuan kepemimpinan, dan kecintaan beliau yang mendalam terhadap syahadah di jalan Allah serta kepada para syuhada. Ia menegaskan bahwa sifat ini tampak jelas dalam kehidupan, perilaku, doa, dan hubungan beliau dengan keluarga para syuhada.
Terkait dampak global dari kesyahidan Imam Khamenei oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis, al-Amad mengatakan bahwa musuh-musuh beliau selama bertahun-tahun berusaha menyembunyikan kebesaran dan pengaruh beliau dari dunia. Namun, menurutnya, tindakan mensyahidkan Imam Khamenei justru akan membuat dunia semakin terdorong untuk mengenal warisan budaya, politik, dan pemikiran beliau.
Di akhir wawancara, Issam al-Amad menegaskan bahwa ungkapannya tentang Imam Khamenei lahir dari kecintaan dan ketulusan, bukan karena kepentingan pribadi atau duniawi. Ia juga menyatakan kesedihannya yang mendalam atas kesyahidan beliau dan berharap dapat bertemu dengan Imam Syahid itu di akhirat, sembari memohon kepada Allah agar akhir hidupnya pun ditutup dengan syahadah di jalan-Nya.
Your Comment