Menurut kantor berita ABNA, mengutip Middle East Online, surat kabar berbahasa Ibrani Haaretz mengklaim bahwa Arab Saudi telah menyampaikan pesan kepada rezim Zionis, yang menyatakan bahwa normalisasi hubungan tidak akan terjadi selama Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim tersebut, masih berkuasa.
Laporan itu menyebutkan bahwa Riyadh menganggap Netanyahu dan komposisi kabinetnya sebagai penghalang untuk bergerak menuju normalisasi hubungan. Dengan demikian, diklaim bahwa pandangan Arab Saudi adalah untuk bergerak menuju normalisasi hubungan dengan rezim Zionis jika terjadi pergantian Perdana Menteri rezim tersebut.
Hal ini terjadi meskipun sebelumnya dilaporkan bahwa Arab Saudi mengaitkan masalah tersebut dengan pembentukan negara Palestina.
Dari 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, 160 pemerintah telah mengakui negara Palestina.
Your Comment