21 Agustus 2016 - 12:27
Arah Gerakan Para Imam Maksum As

Pengasingan dan pengucilan terhadap para imam Maksum (Maksumin as) tidak berhasil mengurung gerak hidup mereka sebagai penuntun jalan kebenaran bagi umat manusia. Namun karena pengabaian terhadap berbagai keutamaan pribadi-pribadi mulia itu, “sejarah pengasingan dan pengucilan” mereka pun memanjang sampai berabad-abad.

Bagi muslimin, mempelajari seiarah kehidupan maksumin as adalah keharusan. Tetapi bukan hanya sebagai “kenangan kemasyhuran dan keluarbiasaannya” belaka, melainkan juga sebagai “contoh kesempurnaan dan pendidikah”. Kita tidak mungkin melakukan hal serupa tanpa memerhatikan sungguh-sungguh petunjuk, aturan dan strategi politik para figur mulia itu.

Saya secara pribadi merasakan ketertarikan terhadap beberapa aspek penting kehidupan para imam maksum. Para Imam adalah sosok yang berjuangan di dalam penghambaan Tauhid dan membaktikan diri untuk menegakkan sebuah pemerintahan illahi. Ragam pasang surut perjuangan hidup mereka ternyata merupakan suatu gerak sambung-sinambung.

Tujuan Perjuangan Maksumin as

Perjuangan politik bukanlah semata debat teologis atau sebatas perjuangan bersenjata, tetapi merupakan perjuangan dengan sebuah tujuan politik. Apakah tujuan politik dari perjuangan tersebut? Tuiuan politik dari perjuangan itu ialah pendirian atau penegakan sebuah pemerintahan Islami. Yakni, sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang saleh, sebagaimana diinginkan dan dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as.

Sejak wafat Rasulullah saw hingga 260 H, para Imam selalu melakukan upaya pewujudan sebuah pemerintahan Ilahi dalam masyarakat Islam. Ini yang bisa kita simpulkan dari pendapat utama mereka. Namun, itu bukan serta-merta menganggap setiap Imam bersikeras mendirikan pemerintahan Islam pada masanya sendiri. Maksudnya, mereka sejatinya memiliki sebuah pandangan ke depan yang tegas untuk mewujudkan tujuan (tegaknya pemerintahan Islam) tersebut. Mereka menformulasi kesempatan dan gerakan terbatas yang mereka miliki dalam jangka Pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Sebagai contoh, Imam Hasan bin Ali (al-Mujtaba) berupaya mendirikan sebuah pemerintahan Islami di kesempatan jangka pendeknya. Jawaban Imam Hasan atas pertanyaan orang-orang seperti Musayib dan Ibnu Najbah yang menanyakan alasan diamnya Imam Hasan, mengindikasikan bahwa Imam Hasan punya rencana untuk pendirian sebuah pemerintahan Islam di masa depan. Ia mengatakan pada mereka: “Kita tidak tahu; ini mungkin sebuah ujian bagimu dan sebuah janji untuk masa datang.”

Kita bisa mengerti jika langkah Imam Hasan berada dalam kerangka jangka pendek maka-perjuangan Imam Sajjad direncanakan untuk meraih tujuan jangka menengah. Sementara perjuangan Imam Muhammad Baqir untuk meraih tujuan tunggal mereka didesain dalam kerangka jangka pendek. Begitulah seterusnya. Dan setelah syahidnya Imam kedelapan, Imam Ali Ridha, perjuangan para Imam ditujukan untuk menyempurnakan tujuan itu dalam kerangka dan pola jangka Panjang.

Sifat Perjuangan Para Imam

Watak dan sifat perjuangan para Imam berbeda dengan sekadar debat-debat teologi dan perjuangan bersenjata. Mereka yang mengenal sejarah dari abad ke-Z H, dan telah mempelaiari aktivitas Dinasti Abbasiyah (Bani Abbas) sebelum abad 1 H hingga 132 H (saat mereka memegang kekuasaan) akan mengapresiasi dengan baik perjuangan politik para Imam yang begitu sengit dan gigih menghadapi tekanan para penguasa selama periode itu.

Tentu saja, perbandingan antara dua cara yang ditempuh para Imam dan pengikutnya di satu pihak dengan Bani Abbas di pihak lain tak akan jelas dan berkesan jika tak hati-hati mempelajari metode perjuangan mereka masing-masing. Ada kesamaan tertentu ditemukan dalam perjuangan para Imam-seperti rencana dan bentuk aktivitas-namun tertampak beda dalam target, tujuan, metode dan kepribadian mereka.

Karena itu, tinjauan terhadap mereka kadang-kadang tercampur, yakni, disebabkan oleh kesamaan dari metode, penyebaran dan seruan mereka. Bani Abbas, di tempat seperti Hijaz dan Irak, menganggap diri mereka sebagai para pengikut jalan keluarga Amirul Mukminin Ali as. Seperti dengan menggunakan gaya “musawwadah”, yang biasanya menggunakan baju “warna hitam” dalam panggilan-panggilan Bani Abbas di Khurasan dan Rey. Artinya, Bani Abbas biasanya menggunakan baju hitam. Mereka biasanya mengatakan kepada masyarakat: “Baju hitam kami menandakan kesedihan kami Dada syuhada Karbala, Zaid, dan Yahya. Sebagian dari pemimpin mereka bahkan membayangkan diri mereka sedang bekerja untuk keluarga Imam Ali.

Meskipun para Imam meluncurkan suatu bentuk gerakan serupa itu, tetapi mereka punya tanda berbeda dalam tiga wilayah, yaitu tujuan, latar belakang metode, dan kepribadian mereka. Terdapat satu karakter khas dalam personalitas, cara dan tujuan yang dibawa dalam hidup dan perjuangan politik para imam.

 
Sumber : Imam Ali Khamenei “Arah Gerak Para Imam”, Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam :Bayan, Vol. I, No. 4, Th. 2012