18 Februari 2016 - 19:29
Koalisi Israel-Saudi Menenggelamkan Perlawanan Palestina

Sayid Hasan Nasrullah pun menyebutkan, persahabatan Israel dengan negara-negara Sunni Arab menandakan hilangnya Palestina dari pangkuan umat Islam. Ia menegaskan bahwa ulama bertanggungjawab untuk menyampaikan kepada umat akan hakikat dibalik isu Sunni-Syiah yang sedang dimanfaatkan rezim Zionis. Ia meminta umat Islam untuk sadar akan konspirasi tersebut dan menyadari akan adanya informasi yang salah. Diam dan masa bodoh dengan fakta-fakta yang sebenarnya, menurutnya sama halnya dengan merelakan Palestina hilang selamanya.

Menurut Kantor Berita ABNA, dalam acara memperingati kesyahidan Syeikh Raghib Harb, Abbas Musawi dan Emad Mughniyeh, para syuhada pemimpin gerakan muqawama, selasa (16/2) di Beirut Lebanon Sayid Hasan Nasrullah mengawali orasinya dengan mengucapkan selamat kepada Pemimpin Besar, Presiden dan rakyat Iran yang memperingati hari kemenangan revolusinya pada 11 Februari lalu yang ke 37. Menurutnya, kemenangan revolusi Islam Iran tahun 1979 telah membawa perubahan besar bagi negara-negara di kawasan, termasuk memberi inspirasi bagi kebangkitan negara-negara Islam.

Lebih lanjut Sekjen Hizbullah tersebut memuji rakyat Yaman, yang meski dalam keadaan terzalimi, tertindas oleh aksi brutal koalisi Arab Saudi yang menginvasi Yaman sejak tahun 2015 namun masih tetap bersabar dan tegar dengan gempuran tersebut.

Demikian pula, Sayid Hasan Nasrullah turut memuji ketabahan rakyat revolusioner Bahrain yang tetap menuntut hak-hak demokrasinya dengan cara-cara yang damai dan anti kekerasaan dalam lima tahun terakhir.

Dihari peringatan kesyahidan tiga tokoh penting Hizbullah tersebut, Sayid Hasan Nasrullah mengatakan tidak akan melupakan kesyahidan ketiganya dan bersumpah untuk terus melakukan perlawanan terhadap rezim Zionis.

Menurutnya, rezim Zionis saat ini dalam keadaan terdesak dan berada diujung tanduk. Dua ancaman bagi eksistensi Israel menurutnya adalah ancaman kekuatan Iran dan gerakan perlawanan di Lebanon dan di Palestina. Karena itu bagi Hasan Nasrullah, Israel tidak punya pilihan lain selain berkoalisi dengan negara-negara Arab lainnya yang pro AS, termasuk dalam upayanya menggulingkan kekuasaan Bashar Assad yang anti Zionis di Suriah.

Bentuk koalisi Israel dengan negara-negara Arab sekutunya adalah menghembuskan isu konflik Sunni-Syiah dan pencitraan bahwa semua konflik yang terjadi di Timur Tengah dipicu oleh isu sektarian, antara kepentingan Sunni dan Syiah, seperti konflik di Yaman, Bahrain, Irak, dan Suriah. “Dengan menggelontorkan isu sektarian ini, maka  mereka meraup keuntungan dari situ.” Jelas Sayid Hasan Nasrullah.

“Israel telah mencitrakan diri sebagai teman, sekutu dan pelindung bagi negara-negara Sunni. Isu Sunni-Syiah telah dieksploitasi sedemikian rupa oleh Israel untuk kepentingannya.” Tambahnya.

Lebih lanjut Sekjen Hizbullah tersebut bertanya yang ditujukan kepada pemimpin-pemimpin negara Arab yang Sunni. Ia berkata, “Apakah kalian menerima persahabatan dengan musuh yang menduduki tanah Sunni di Palestina dan membantai orang-orang Sunni disana? Apakah anda bisa menjamin komitmen persahabatan sebuah entitas yang telah melakukan pembantaian paling mengerikan terhadap komunitas Sunni?”

“Apakah kalian tidak melihat gadis Palestina berusia 21 tahun ditembak mati oleh Israel? Bagaimana orang waras di negara-negara Sunni dapat mempertimbangkan Israel sebagai teman, sekutu dan sahabat sejati?” lanjutnya.

“Kalian absah saja menjadikan Iran sebagai musuh, tapi bagaimana kalian bisa mempertimbangkan Israel sebagai teman dan sekutu?”. Tambahnya lagi.

Sayid Hasan Nasrullah pun menyebutkan, persahabatan Israel dengan negara-negara Sunni Arab menandakan hilangnya Palestina dari pangkuan umat Islam. Ia menegaskan bahwa ulama bertanggungjawab untuk menyampaikan kepada umat akan hakikat dibalik isu Sunni-Syiah yang sedang dimanfaatkan rezim Zionis. Ia meminta umat Islam untuk sadar akan konspirasi tersebut dan menyadari akan adanya informasi yang salah. Diam dan masa bodoh dengan fakta-fakta yang sebenarnya, menurutnya sama halnya dengan merelakan Palestina hilang selamanya.

Pada bagian lain pernyataannya, Sekjen Hizbullah menekankan, pemerintah Bashar al-Assad, dan program rekonsiliasi nasional negara itu, sebagai ancaman bagi rezim Zionis. “Karena itu Israel terlibat dalam serangan ke Suriah, namun hingga kini gagal, karena tujuannya adalah penggulingan pemerintah Damaskus atau disintegrasi Suriah.”

 “Sambil menggelondongkan isu Sunni-Syiah sebagai pemicuk konflik, Israel berkoalisi dengan Arab Saudi dan Turki, serta bersepakat untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad,” paparnya. 

Sayid Hasan Nasrullah menegaskan, “Kami tidak akan mengijinkan perusuh dan pembuat onar menguasai dan menduduki Suriah dan kami tidak akan mengijinkan Israel menggapai mimpi-mimpinya.”