Menurut Kantor Berita ABNA, berawal dari cuitan di Twitter, kemudian menjadi berita yang menghebohkan dan dimuat dibanyak situs berita on line. Cuitan Twitter tersebut menuliskan informasi mengenai penyair Irak yang bernama Ahmad al-Nu’aimi yang digantung di akhir September oleh rezim Irak karena puisi yang dibuatnya mengandung muatan penghinaan terhadap mazhab Syiah. Puisi itu berjudul “Kita Bangsa yang Tak Punya Malu.”

Berita tersebut dengan segera tersebar dan mengemparkan negara-negara Arab, termasuk menyebar di Indonesia melalui situs Portal Piyungan dan NUgarislurus.com.
Redaksi Portal Piyungan (sebelumnya site PKS Piyungan) menulis: “Ahmad Nu’aimi, penyair Irak akhirnya dieksekusi di tiang gantungan oleh pemerintah Irak yang kini dipegang oleh Syiah di bawah kendali Iran. Hanya syair berjudul “Kita Bangsa Yang Tak Punya Malu” tetapi membuat heboh karena disana disampaikan fakta-fakta sejarah dimana Syiah selalu melakukan pengkhianatan di tubuh kaum muslimin. Maka tanggal 29-12-2015 pun Ahmad Nu’aimi dieksekusi mati.”
Pihak terkait dari Asosiasi Penyair dan Penulis Irak, Habib al Sayeq, mengklarifikasi bahwa berita digantungnya penyair Irak adalah berita hoax dan tidak ada yang bernama Ahmad al-Nu’ami dikenali sebagai penyair di Irak.
Netizen Iran termasuk menyajikan fakta akan adanya manipulasi dalam informasi tersebut. Foto yang digunakan untuk menunjukkan kejadian hukuman gantung penyair tersebut adalah foto eksekusi mati pada tahun 2011 yang di lakukan di Qasvin Iran atas pelaku kriminal bernama Mehdi Shahrivar, seorang sopir. Mehdi tertangkap pada tahun 2009 dan terbukti sebagai pelaku aksi pembunuhan berantai yang telah menewaskan 5 perempuan Iran. Ia dikenali dengan sebutan “Sopir Berbahaya”. Lihat:
http://www.niksalehi.com/newspaper/view/025155.php

Fakta lainnya menunjukkan tidak ada satupun lembaga Human Rights baik di Iran, Irak maupun internasional yang menginformasikan mengenai hukuman mati atas penyair Irak tersebut. Dan ketika disearching di internet tidak ada penyair Irak yang bernama Ahmad al-Nu’ami dan nama itu baru mencuat melalui cuitan di Twitter yang kemudian dihapus oleh pemiliki akun karena mendapat banyak protes dan kecaman dari netizen.
Disinyalir, penyebaran berita hoax dengan informasi manipulatif tersebut ada kaitannya dengan kasus eksekusi mati yang dilakukan Arab Saudi terhadap tokoh reformis Arab Syaikh Nimr Baqir al Nimr di awal tahun 2016.
Berikut sejumlah media online Arab yang memberitakan berita hoax dan manipulatif tersebut:




