11 September 2015 - 06:32
Momentum Haji Seharusnya Dimanfaatkan untuk Memperhebat Persatuan Umat Islam

“Saya menyarankan agar penyelenggaraan ibadah haji tidak berlalu begitu saja, tanpa disertai dengan aktivitas-aktivitas keilmuan yang bisa semakin memperkuat persatuan Islam. Harus ada dialog dan kajian Islam secara terbuka dilakukan tiap tahunnya yang menghadirkan ulama-ulama dari berbagai mazhab, dan dihari-hari musim hajilah momentum yang tepat untuk itu. Sebab diantara filosofi diperintahkannya ibadah haji, agara umat Islam dari berbagai bangsa bisa saling bertemu, berbincang bersama, saling bertukar pikiran sehingga bisa dijalin persatuan dan kedekatan yang lebih erat.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al-Uzhma Nashir Makarm Shirazi dalam penyampaiannya dihadapan ribuan jamaah di masjid al-Adzham Qom Republik Islam Iran, menekankan penyelanggaraan haji tahun ini akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan menekankan bahwa ini tahun haji harus fokus pada persatuan Islam dan isu-isu yang menyebabkan konflik antara umat Islam harus dihindari.

Dalam lanjutan penyampaiannya,  Ayatullah Nashir Makarim Shirazi menyatakan bahwa umat Islam saat ini berada dalam kondisi sulit, terutama sangat rentang untuk dipecah belah dan akhirnya saling bermusuhan satu sama lain. Karenanya menurutnya, ulama harus menunjukkan perannya untuk tidak hanya menjaga warisan keilmuan Islam namun juga menjaga keutuhan umat Islam.

Ia menekankan bahwa ulama harus siap untuk membela dan memahami kekuatan warisan budaya Islam untuk menghadapi serangan musuh dan menang atas mereka. Menurutnya karena warisan keilmuan Islam yang kaya itulah, umat Islam hendak dihancurkan oleh pihak musuh.

Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Makarim Shirazi juga menekankan pentingnya tradisi dialog antar mazhab Islam, sehinngga bisa ditemukan semakin banyak titik temu. “Saya menyarankan agar penyelenggaraan ibadah haji tidak berlalu begitu saja, tanpa disertai dengan aktivitas-aktivitas keilmuan yang bisa semakin memperkuat persatuan Islam. Harus ada dialog dan kajian Islam secara terbuka dilakukan tiap tahunnya yang menghadirkan ulama-ulama dari berbagai mazhab, dan dihari-hari musim hajilah momentum yang tepat untuk itu. Sebab diantara filosofi diperintahkannya ibadah haji, agara umat Islam dari berbagai bangsa bisa saling bertemu, berbincang bersama, saling bertukar pikiran sehingga bisa dijalin persatuan dan kedekatan yang lebih erat.”

“Faktor pemersatu lainnya adalah menghindari isu-isu yang dapat memicu konflik dan perseteruan antar sesama muslim. Fenomena takfiri muncul dalam dunia Islam bahkan pengaruhnya menjadi sulit dibendung karena bermula dari sikap ingin benar sendiri dan  tidak memberikan penghargaan pada keyakinan dan pendapat kelompok lain.” tambahnya.

Ayatullah Makarim Shirazi lebih lanjut menyebutkan, musuh bersama adalah takfiri, karena menruynya takfiri menganggap musuh diluar kelompoknya. “Bagi takfiri, Sunni, Syiah, Kristiani, Majusi, dan Yazidi sama dalam pandangan mereka, yaitu komunitas yang harus dimusnahkan karena menolak tidak sependapat dengan pendapat dan keyakinan mereka.” “Itu sebabnya Eropa dan rezim Zionis hanya setengah hati dalam menghadapi ISIS, sebab ISIS menjadikan muslim sebagai musuh mereka, dan itu sejalan dengan target-target rezim Zionis dan sekutunya.”  

Guru besar di Hauzah Ilmiah tersebut menambahkan bahwa AS dan Turki secara terang-terangan memberikan dukungan praktis kepada kelompok teroris takfiri. “Keberadaan kelompok teroris ini, harusnya menyadarkan umat Islam, akan sedemikian pentingnya kita bersatu. Musuh tidak memiliki rasa belas kasihan dan karena itu juga harus dihadapi dengan serius dan penuh kesadaran.”

Bagian akhir penyampaiannya ia menyatakan, “Tidak ada pilihan lain, untuk keluar dari kemelut ini, semua Muslim harus mengambil langkah-langkah taktis dan nyata menuju persatuan umat Islam. Insya Allah, dengan persatuan, Allah Swt akan memberikan kemudahan bagi umat Islam dalam menghapi musuh-musuhnya.”