Menurut Kantor Berita Internasional Ahlulbait - ABNA - Sayed
Abdul Malik Al-Houthi, pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, menjelang peringatan
kelahiran Nabi Muhammad saw. mengatakan bahwa umat Islam telah menjadi sasaran
berbagai bentuk serangan dari musuh dan menghadapi bahaya yang mengancam
keberadaannya sebagai umat yang merdeka.
Ia mengatakan bahwa Al-Qur'an memberikan kesadaran yang cukup kepada umat tentang bahaya dari dua front yang terkoordinasi, yaitu front kekafiran dan kemunafikan.
Pemimpin Ansarullah menekankan bahwa jihad adalah satu-satunya cara untuk menahan kafir dan munafik serta menggagalkan konspirasi mereka. Ia menegaskan: “Perintah untuk berjihad di jalan Allah Yang Maha Tinggi menunjukkan pentingnya tema ini sebagai bagian dari misi kenabian Nabi Muhammad saw. dan kewajiban iman beliau.”
Ia menekankan: “Umat Islam tidak memiliki keselamatan dan pembebasan kecuali dengan mengikuti perintah Allah Yang Maha Tinggi, termasuk jihad berdasarkan konsep-konsep Qur'ani yang benar dan mengikuti Rasulullah saw. serta jalan jihad beliau.”
Sayed Abdul Malik Al-Houthi menyebut posisi umat Muslim terhadap kejahatan genosida terhadap rakyat Palestina sebagai posisi yang memalukan dan mengatakan: “Musuh terus menargetkan pengungsi Palestina di tenda-tenda mereka dengan menggunakan bom mematikan buatan Amerika di tempat-tempat yang telah dinyatakan aman.”
“Setelah 12 bulan dari agresi rezim Zionis terhadap Gaza, kami tidak menyaksikan adanya gerakan baik dengan nama Arabisme maupun nasionalisme, maupun di bawah judul politik. Baik komitmen Liga Arab maupun keputusan konferensi resmi tidak memaksa Arab untuk bertindak, dan tidak ada yang mendorong umat Islam untuk mengambil posisi kolektif yang tegas.” Tambahnya.
Pemimpin gerakan Ansarullah menekankan: “Amerika adalah mitra musuh Israel dalam semua kejadian yang terjadi di Palestina, dan ada front bersama Amerika-Israel. Amerika melakukan tindakan permusuhan, dan jika bukan karena peran Amerika, kejahatan Israel tidak akan terjadi pada tingkat ini, namun demikian Amerika memperkenalkan dirinya sebagai mediator.”
Dia menambahkan: “Posisi beberapa negara, rezim, dan pemimpin Arab adalah posisi kolusi dengan musuh Israel dan bekerja sama dengannya untuk menyerang bangsa Palestina.”
Sayed Abdulmalik Al-Houthi mengenai operasi syahid warga Yordania baru-baru ini di perbatasan Tepi Barat juga mengatakan: “Operasi syahid Al-Jazi di Yordania adalah operasi individu dengan senjata sederhana, namun memiliki dampak besar terhadap musuh Israel.”
Ia mengatakan: “Front Lebanon masih berkobar dan peluncuran roket serta tembakan tidak berhenti setiap hari dari Lebanon terhadap musuh Israel, dan front Yaman dalam pertempuran "Fath Mau’ud" dan jihad suci juga berlanjut secara efektif. Hal yang perlu dicatat mengenai dampak front Yaman adalah bahwa Amerika mengumumkan kembalinya kapal induk Roosevelt melalui jalur lain, dan kapal induk ini meskipun merupakan pangkalan militer bergerak di lautan, kembali secara sembunyi-sembunyi melalui Samudera Hindia dan tidak memasuki Laut Merah.”
Pemimpin gerakan Ansarullah mengatakan: “Lebih dari 700 serangan dan pemboman laut, tidak memberikan bantuan kepada Amerika untuk menghentikan operasi militer kami di laut dan menghentikan operasi ini; serangan yang tidak dapat dibenarkan oleh Amerika di daerah dekat sekolah perempuan di Taiz, mengakibatkan syahidnya 2 gadis dan melukai 18 orang lainnya. Serangan musuh dalam seminggu terakhir mencapai 24 serangan yang menargetkan Al-Hudaydah, Taiz, Ibb, Sa'dah, dan Marib.”
“Petinggi Amerika sama seperti orang Israel adalah penjahat, dan sebagian besar korban adalah anak-anak dan perempuan di semua front dan negara target.” Tegasnya.
Sayed Abdulmalik Al-Houthi juga menekankan: “Selama seminggu terakhir, pertahanan udara, dengan pertolongan Allah, berhasil menjatuhkan dua drone "MQ-9" dan menurut pernyataan pemimpin militer dan sipil Amerika dan Barat, banyak drone Amerika telah dijatuhkan di Yaman.”