oleh: Ismail Amin, MA
Sejak mengubah haluan negara dan menjadi Republik Islam, Iran tampil menjadi negara yang paling keras menentang eksistensi Israel di jantung Timur Tengah. Iran membela Palestina, dengan cara yang sangat serius. Iran sampai konsisten tidak mau mengakui Israel sebagai negara, termasuk enggan punya hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat yang disebut Iran punya andil besar dalam berdirinya Israel bahkan menjadi donatur tetapnya. Iran tidak perlu dituntut sebagaimana Turki agar tidak menjual minyak ke Israel, sebab sejak 1979, Iran tidak mengekspor minyaknya ke negara-negara pendukung utama Israel.
Begitu Republik Islam Iran berdiri, Imam Khomeini mengundang Yasser Arafat pemimpin milisi Fatah dan PLO untuk ke Iran. Arafat adalah tamu negara pertama RII yang disambut gempita rakyat revolusioner Iran. Sebagai kepala otoritas Palestina, Imam Khomeni meminta Arafat menyaksikan langsung peresmian kantor kedutaan Palestina di Teheran dan menerima kuncinya. Gedung yang sebelumnya adalah kantor konsulat Israel tersebut menjadi kantor kedutaan Palestina pertama di dunia. Jadi Iran adalah negara pertama yang membuka kantor kedutaan Palestina. Iran bahkan mengakui kedaulatan Palestina sebagai negara 9 tahun sebelum negara Palestina diproklamirkan Yasser Arafat. Itu adalah deklarasi terang-terangan Iran mendukung pembebasan dan kemerdekaan Palestina sekaligus memproklamirkan Republik Islam Iran yang baru terbentuk itu anti Zionisme Israel.
Pada bulan Ramadhan di tahun yang sama pula, Imam Khomeini mendeklarasikan Yaumul Quds. Yaumul Quds yang juga dikenal dengan Hari Alquds Internasional yang ditetapkan Imam Khomeini untuk dirayakan setiap Jumat terakhir Ramadhan tersebut adalah hari bersatunya umat Islam dengan turun ke jalan menyuarakan pembebasan Palestina dan penentangan pada Zionis Israel. Dasyhatnya, dalam aksi tersebut yang hadir sampai jutaan orang.
Pertanyaan yang muncul, mengapa RII memilih jalan menentang eksistensi israel? Apa keuntungan yang didapat? Sebab sebagai republik baru mestinya Iran lebih dulu menyibukkan diri membenahi politik internal dan membangun pondasi dasar negara yang lebih kuat, bukannya mencari musuh dengan menolak Israel yang dibeking kekuatan arogansi dunia saat itu. Kengototannya membela Palestina dan menolak Israel, membuat Iran diboikot, diembargo dan dikucilkan di panggung internasional.
Berikut ini, sejumlah faktor yang disebut berkontribusi pada pembentukan sikap keras Iran terhadap Zionisme:
Faktor Ideologis
Dengan berpedoman pada Al-Qur'an, RII merasa berkewajiban memberikan pembelaan pada kelompok yang tertindas. Salah satu ajaran Al-Qur'an adalah bahwa umat Islam dapat terlibat dalam perjuangan bersenjata jika mereka diusir dari rumah mereka (Surat Al-Hajj, ayat 39 dan 40). Satu problema serius dalam krisis Palestina adalah masalah pengungsi Palestina yang ditolak haknya untuk kembali. Menurut PBB, pengungsi Palestina adalah mereka yang kehilangan rumah dan kebutuhan mereka antara 1 Juni 1946 dan 15 Mei 1948. PBB memperkirakan bahwa sekitar 5 juta orang Palestina sampai sekarang hidup dalam situasi ini. Dengan kondisi Palestina menjadi bangsa yang tertindas dan terlebih lagi sesama muslim, Iran terpanggil untuk berada di garis terdepan membela Palestina dan berdiri menentang rezim Zionis yang menjadi akar kesengsaraan rakyat Palestina.

Faktor Agama
Faktor kedua yang menyebabkan Republik Islam Iran terus-menerus memusuhi Israel adalah pendudukan seluruh Yerusalem dan proklamasinya sebagai ibu kota oleh Israel. Yerusalem atau Al-Quds adalah tanah yang disakralkan oleh masing-masing agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Tempat ini sangat penting bagi umat Islam karena keberadaan Masjidil Aqsha, yang merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Kakbah. Dikuasainya Yerusalem secara sepihak oleh rezim Zionis dengan tindak tanduk yang menginjak-injak kesucian Masjidil Aqsha, menjadi faktor perlunya Iran menggagas proyek pembebasan Al-Quds.
Faktor Sejarah
Selama rezim Pahlevi, Tehran-Tel Aviv memiliki hubungan yang mesra. Shah yang secara ambisius ingin memodernisasi Iran mendapat perlawanan dan protes keras dari kelompok konservatif dari kalangan Islamis. Rumor yang tidak bisa dibantah, SAVAK badan intelijen dan keamanan Iran bekerjasama dengan Mossad, badan intelijen Israel. Bahkan dokumen dari The Library of Congress menyebutkan SAVAK yang dibentuk pada 1957 menjalankan setiap operasinya di bawah pengawasan perwira intelijen Israel dan AS. Kerjasama militer AS-Israel dengan Iran pulalah yang membuat militer Iran paling mengerikan kelima di dunia.
Kedekatan Israel dengan Iran dikecam keras Imam Khomeini melalui orasinya pada 3 Juni 1963. Orasi itu memicu kerusuhan dua hari setelahnya yang menelan banyak korban jiwa di Qom akibat kekerasan yang dilakukan aparat. Imam Khomeini kemudian ditahan dan mendapatkan hukuman pengasingan ke luar negeri. Banyak ahli menyebut insiden 5 Juni 1963 itu sebagai awal aksi gelombang revolusioner yang 15 tahun kemudian menyebabkan penggulingan sistem kekaisaran di Iran. Penggulingan itu terang merugikan Israel. Dengan demikian, ketika Republik Islam terbentuk, benih-benih kebencian telah ditaburkan di antara Iran dan Israel. Bagi Imam Khomeini dan pengikutnya, Israel yang berperan dalam kuat dan mengerikannya kesatuan militer dan intelijen Pahlevi justru membawa bencana bagi Iran dan memakan korban dari rakyat.
Imam Khomeini sendiri pernah mengatakan kemesraan Shah dengan Israel adalah salah satu motif pemberontakannya. Dia berkata, "Saya selalu mengatakan dalam ceramah saya bahwa Shah bekerja untuk kepentingan Israel sejak berdirinya. Dan ketika perang antara Israel dan kaum Muslim mencapai puncaknya, Shah malah merampas minyak kaum Muslim Iran dan memberikannya kepada Israel. Ini telah menjadi salah satu faktor dalam penentangan saya terhadap Shah. "(Shahifah Imam, jld. 5, hlm. 187).
Faktor Psikososial
Dalam pandangan Imam Khomeini, salah satu tujuan Revolusi Islam yang sering dia suarakan adalah kebangkitan dunia Islam. Kekalahan negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari 1967 menjadi simbol kekalahan dunia Islam secara umum. Sehingga kebijakan-kebijakan repressif Israel terhadap Palestina tanpa ada lagi yang bisa menghalangi, melukai perasaan umat Islam. Tentu saja, Iran yang melabeli negaranya dengan nama Islam dan dipimpin dewan ulama memiliki beban taklif untuk terus menggelorakan sikap penentangan pada Zionis tanpa kata menyerah.
Faktor Politik
Sejumlah ahli percaya bahwa eskalasi permusuhan Iran terhadap Israel memiliki alasan politik. Bagi Imam Khomeini pembentukan rezim penjajah Al-Quds adalah sebuah gerakan besar yang dilakukan oleh kekuatan opresor dunia melawan dunia Islam. Dukungan AS yang luas untuk Israel merupakan bukti kebenaran analisa Imam Khomeini tersebut. Iran percaya bahwa eksistensi Israel yang semakin kokoh karena dukungan AS. Sehingga menjadi keniscayaan bagi RII untuk juga garang pada AS. Imam Khomeini menyebut keberadaan pemerintahan ilegal Zonis merupakan meeting point dari semua kekacauan yang terjadi di Timur Tengah. Sebuah rezim yang dicangkokkan paksa di jantung kawasan itu telah melahirkan prahara yang tidak berkesudahan bagi negara-negara Islam di kawasan.
Selain bantuan senjata dan finansial, AS juga bertindak sebagai perisai bagi Israel di meja perundingan internasional. Misalnya, setiap Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk memberi sanksi pada Israel karena kejahatan perang yang dilakukannya atas Paelstina, AS selalu menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi itu.
Dari faktor-faktor yang telah disebutkan, permusuhan Iran terhadap Israel memiliki akar ideologis, historis dan psikososial dan bukan merupakan rekayasa, sekedar agar Iran mendapat simpatik dan dukungan luas dari publik muslim untuk menjadi pemimpin di dunia Islam. Selama perjuangannya melawan rezim kekaisaran, Imam Khomeini selalu menekankan bahwa Israel adalah bibit korupsi yang tumbuh di tanah Islam dan berusaha menghancurkan Islam. Ia menyampaikan ancaman Israel terhadap dunia Islam dengan sangat serius dan konsisten.
Imam Khomeini adalah pemimpin dan otoritas agama pertama yang mengeluarkan izin untuk mendukung pejuang Palestina dari harta baitul mal. Pembentukan Brigade Al-Quds, pasukan elit khusus yang ditugaskan membebaskan Al-Quds adalah bentuk keseriusan lainnya dari Imam Khomeini terkait Palestina. Panglima Brigade Al-Quds, Jenderal Qassem Soleimani, sampai harus dihentikan langkahnya dengan cara yang paling pengecut oleh Amerika Serikat. Menunjukkan pasukan elit Iran tersebut memang sangat berbahaya bagi eksistensi Israel. Dalam sebuah wawancara, PM Israel Benyamin Netanyahu ketika ditanya, siapa ancaman dari luar yang terbesar bagi Israel? dia menjawab, “Anda ingin saya menyebutkan tiga ancaman terbesar? Iran, Iran dan Iran.”
Mahasiswa S3 Universitas Internasional Almustafa Iran/Ketua Umum KKS-Iran 2023-2025
Tulisan ini juga dimuat di rubrik opini Harian Tribun Timur Jumat, 3 November 2023, dengan judul: Mengapa Iran Anti Zionis? Ini Faktornya