Menurut Kantor Berita ABNA, Indonesia merupakan negara muslim terbesar dan mempunyai posisi penting di kancah internasional. Agama Islam sudah ada sejak abad ke-4 Hijriah dan disebarkan secara luas pada abad ke-6 oleh para pedagang yang berasal dari Gujarat India. Terakhir, Indonesia menjadi negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dengan lebih dari sembilan puluh persen penduduknya beragama Islam.
Saat ini, di Indonesia, organisasi dan kelompok Islam sangat aktif dan memperluas cakupan kegiatannya hampir secara universal. Karena hubungan erat antara komunitas Muslim dan pusat-pusat Islam memberikan kekuatan kepada umat Islam dan pertumbuhan mereka, kelompok-kelompok ekstremis Wahhabi selalu berusaha merusak hubungan ini. Tujuan mereka adalah untuk mendorong umat Islam ke arah yang mereka inginkan dan melalui cara ini, umat Islam kehilangan kepercayaan terhadap agama, moral, dan warisan budaya mereka. Mereka juga berusaha setiap tahun pada hari Tasu'a dan Asyura Husaini untuk mencegah umat Islam berkabung dengan mengadakan demonstrasi dan berupaya membubarkan acara-acara yang digelar komunitas Islam Syiah.
Membincang fenomena tersebut, redaksi telah berbincang dengan Dr. Umar Shahab, ketua Dewan Syura ABI Indonesia, yang juga berprofesi sebagai muballig dan dosen di sebuah universitas di Jakarta.
Muharram merupakan wujud kecintaan umat Islam Indonesia kepada Ahlulbait as. Ketua Dewan Syura ABI mengatakan, ”Wujud cinta dan kasih sayang umat Islam Indonesia kepada Ahlulbait as sangat terlihat di bulan Muharram. Cinta dan pengabdian kepada Ahlulbait as selalu ada di Indonesia, dan sebagiannya tampak dalam momen peringatan mengenang kesyahidan Imam Husain as pada bulan Muharram. Khususnya umat Islam Syiah, momen Asyura adalah momen yang ditunggu-tunggu sepanjang tahun.”
"Pada hari-hari Muharram, kaum Syiah Indonesia memperingati para syuhada, dan pertemuan berkabung diadakan siang dan malam di semua wilayah di mana pengikut Ahlulbait as berada. Besar atau kecilnya penyelenggaraan upacara tergantung pada situasi dan jumlah pengikut di daerah tersebut. Setiap tahunnya majelis peringatan ini semakin banyak, namun biasanya pada hari Asyura, masyarakat dari berbagai daerah mengadakan upacaranya di satu wilayah yang terpusat.” Tambahnya.
Menyelenggarakan upacara budaya Muharram bukan hanya diperuntukkan bagi kaum Syiah di Indonesia
Umar Shahab lebih lanjut membagi acara peringatan Asyura menjadi dua kategori yaitu agama dan budaya dan mengatakan, “Upacara keagamaan adalah upacara yang diadakan oleh kaum Syiah Ahlulbait as; Karena mereka adalah kaum Syiah dan pengikut Ahlulbait as, maka upacara ini mereka dihidupkan dalam rangka mempertahankan keyakinan dan perwalian Ahlulbait as. Namun mengadakan peringatan Asyura dalam bentuk pagelaran budaya, ini tidak hanya diperuntukkan bagi para pengikut Ahlulbait as, melainkan untuk semua muslim. Peringatan semacam ini sudah ada di Indonesia sejak puluhan tahun yang lalu bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu dan masih terus berlanjut hingga saat ini. Beberapa orang mungkin tidak mengetahui bahwa upacara-upacara itu diadakan untuk mengenang para syuhada Karbala, namun di Indonesia tradisi ini ada hampir di semua daerah.”
Ia mencontohkan, “Di Jawa, salah satu pulau terpadat di dunia, ada tradisi yang disebut Suro. Suro berasal dari kata Asyura. Pada hari-hari ini, mereka percaya bahwa orang-orang tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pertemuan bahagia dan mereka percaya bahwa jika seseorang menikah atau mengadakan upacara bahagia pada hari-hari tersebut, mereka akan mendapat masalah. Budaya dan tradisi ini umum terjadi di kalangan umat Islam bahkan non-Muslim di wilayah Jawa.
Intelektual muslim ini juga menyebutkan peryaan Tabut yang diadakan di sejumlah daerah di Indonesia ada kaitannya dengan peringata Asyura.“Di Sumatera, khususnya di dua wilayah Sumatera Barat dan Bengkulu, mereka mengadakan perayaan Tabut. Tabut artinya keranda jenasah atau peti mati. Dengan cara ini, pada pagi hari Asyura, warga mengambil peti mati kecil dan membawanya berkeliling kota.” Jelasnya.
Merujuk pada tradisi budaya Muharram lainnya di Indonesia, Umar Shahab mengatakan, “Di Pulau Jawa, pada awal Muharram, masyarakat menyiapkan makanan khas yang disebut Bubur Suro” Nama makanan ini diambil dari kata Asyura, dan mereka membagikannya pada hari itu, dikalangan masyarakat khususnya anak-anak dan anak yatim. Bagaimanapun, peringatan Asyura dan nama Imam Husain as adalah hal biasa di Indonesia, dan masyarakat Indonesia memiliki keicntaan dan penghormatan khusus kepada Imam Husain as dan Ahlulbait as.
Muharram adalah kesempatan baik untuk mensyiarkan Islam
Umar Shahab berkata bahwa hari-hari Muharram adalah kesempatan yang sangat baik untuk menunjukkan pengabdian kepada Ahlulbait as dan memperkenalkan syiar-syiar Islam. “Orang-orang berkumpul pada hari-hari ini dan para pendakwah biasanya menggunakan kesempatan ini untuk berdakwah dan menjelaskan keutamaan Imam Husain as dan Ahlulbait as. Pengangkatan dan pengenalan Ahlulbait as dalam upacara berkabung ini seringkali membuat orang-orang yang belum mengetahui tentang Imam Husain as dan Ahlulbait as menjadi mengenal Ahlulbait as setelah menghadirinya.”
Non-Muslim tidak berpartisipasi dalam upacara berkabung Muslim
Merujuk pada kehadiran kaum Sunni dalam upacara berkabung Muharram, Umar Shahab mengatakan, “Tidak hanya kaum Syiah yang ikut serta dalam upacara berkabung Muharram, tetapi kaum Sunni juga ikut. Bahkan kaum Sunni turut mengadakan prosesi pemakaman Imam Husain as pada hari Asyura, seperti misalnya pada perayaan Tabut. Namun non-Muslim biasanya tidak ikut serta dalam upacara berkabung umat Islam.”
Ketua Dewan Syura ABI ini lebih lanjut mengatakan, “Bagaimanapun, Indonesia tidak seperti Iran dan Irak di mana umat Islam terkonsentrasi. Di Indonesia, upacara berkabung umat Islam diadakan di husainiyah, masjid atau rumah pribadi warga. Mungkin di wilayah Bali ada yang non muslim ikut upacara duka umat islam, tapi saya tidak mengetahuinya. »
Wahabi radikal menzalimi Syiah di Indonesia
“Sayangnya di beberapa daerah di Indonesia terdapat kelompok Wahabi radikal dan mereka berusaha keras untuk mencegah perayaan Muharram dengan berbagai cara. Terkadang mereka menyerang upacara Muharram di depan umum; Tentu saja persoalan ini jarang terjadi, namun tetap ada, dan setiap tahun hal ini terjadi di satu daerah.” Ungkap Umar Shahab.
Ia menjelaskan mengenai tindakan kaum Wahabi terhadap kaum Syiah di Indonesia, “Untuk melawan kebangkitan Asyura, kaum Wahabi terkadang memprovokasi mereka dengan menyebarkan selebaran yang menentang tindakan dan keyakinan umat Islam. Selain itu, kadang-kadang di daerah tempat berkumpulnya kaum Syiah atau di masjid Syiah, mereka menghasut kaum Sunni untuk melawan kaum Syiah dan mencegah upacara berkabung.”
"Wahabi kadang-kadang mengorganisir demonstrasi resmi anti-Syiah dengan menulis surat kepada polisi atau pihak berwenang setempat, dan tindakan Wahabi ini lebih banyak dilakukan selama Muharram dibandingkan hari-hari lainnya, dan sayangnya, tindakan ini efektif.” Tambahnya.
Pemerintah Indonesia peka terhadap peringatan Asyura
Umar Shahab mengatakan mengenai sikap pemerintah Indonesia terhadap penyelenggaraan upacara berkabung, “Pemerintah Indonesia sensitif terhadap acara-acara yang berkaitan dengan perisiwa Muharram, sehingga di beberapa daerah tidak mudah memberikan izin untuk mengadakan upacara Asyura.”
“Meskipun pemerintah Indonesia tidak melarang diadakannya upacara berkabung Muharram, namun pemerintah sensitif terhadap masalah ini dan memberikan beberapa pembatasan pada kaum Syiah agar upacara tersebut tidak terlalu terbuka atau diadakan di tempat yang lebih rahasia. Karena kepekaan pemerintah, alhamdulillah kaum Syiah pun mengadakan upacara tersebut tanpa memprovokasi agama lain bahkan mengundang kaum Sunni untuk ikut serta dalam upacara ini.” Lanjutnya.
"Mungkin alasan sensitifnya pemerintah Indonesia adalah ketakutan akan konflik karena beberapa ekstremis menyerang upacara berkabung, tapi bagaimanapun upacara ini akan tetap diadakan." Tentu saja, pada hari Asyura ketika umat Islam berkumpul, ada sensitivitas yang lebih besar, dan biasanya pemerintah menjamin keamanan umat Islam dengan mengerahkan polisi.” Tambahnya lagi.
Rasionalitas adalah cara terbaik untuk menghadapi pemahaman menyimpang
Umar Shahab menekankan bahwa cara terbaik untuk mengatasi pemikiran salah mengenai Siah dan tradisi peringatan Asyura adalah rasionalitas. “Perlu dicatat bahwa bukan hanya Wahabi yang menentang Islam dan Muslim, terkadang orang-orang radikal yang bodoh juga mengambil tindakan dan masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sayangnya, ada orang-orang yang tidak mengetahui Islam di mana pun di dunia, namun dalam menghadapi kampanye buruk mengenai Syiah, kaum Syiah harus mengontrol emosional mereka dan menangani masalah ini secara rasional.” Jelasnya.
Umar Shahab menambahkan, “Syiah harus melawan tindakan ini dan mempromosikan pemikiran Syiah tidak hanya dengan alasan verbal tetapi juga dengan alasan praktis. Untuk mengatasi terciptanya perbedaan antara Syiah dan Sunni, Syiah harus berusaha menunjukkan dalam praktik bahwa tidak ada perbedaan di antara mereka, sehingga dalam upacara seperti upacara maulid Nabi, yang diadakan dengan sangat megah. di Indonesia, para muballigh Sunni diundang untuk berbicara dalam majelis-majelis Syiah; Namun kita juga melihat seorang ulama Sunni berbicara tentang Imam Husain as pada upacara berkabung Muharram.”
Pada bagian akhir penyampaiannya ia menekankan, “Umat Islam harus memperhatikan bahwa segala sesuatu yang didasarkan pada rasionalitas adalah senjata yang lebih cocok untuk menghadapi pemikiran anti-Syiah. Membalas dengan juga tindakan kasar hanya akan menimbulkan konflik antara Syiah dan kelompok ekstremis, dan ini merugikan Syiah, dan Alhamdulillah, Syiah mampu menjaga rasionalitasnya dalam situasi yang berbeda.”