Sejak awal perang di Ukraina meletus, negara-negara Barat menolak terlibat langsung dalam perang menghadapi pasukan Rusia, tetapi mereka memasok senjata, amunisi, dan bahan bakar ke Kyiv.
Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa pengiriman senjata Barat ke Ukraina hanya memperpanjang perang.
Media Jerman, Der Spiegel hari Rabu (1/2/2023) melaporkan, rencana Komisi Eropa untuk meningkatkan produksi senjata dibagi menjadi tiga tahap.
Pada tahap pertama, negara-negara Uni Eropa akan segera meningkatkan cadangan amunisi untu dikirim ke Ukraina.
Rancangan undang-undang fase pertama ini akan diserahkan kepada Komisi Eropa pada hari Kamis.
Menurut laporan itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell akan segera menawarkan paket dukungan militer tambahan untuk Kyiv senilai satu miliar euro atau setara 1,06 miliar dolar.
Pada tahap kedua, negara-negara anggota Uni Eropa bersama-sama mulai membeli amunisi 155 mm melalui Badan Pertahanan Eropa guna memperkuat cadangan mereka yang ada dan memastikan sumber amunisi jangka panjang untuk dikirim ke Ukraina.
Pada fase ketiga, Uni Eropa harus meningkatkan kapasitas produksinya untuk mencegah kurangnya amunisi di tahun-tahun mendatang menyikapi terjadinya dinamika keamanan global.
Der Spiegel melaporkan bahwa Ukraina saat ini menghadapi masalah dengan kekuarangan amunisi. Pada saat yang sama, Rusia jauh lebih mampu menghasilkan lebih banyak amunisi daripada seluruh industri pertahanan Uni Eropa.
Dua pertiga dari negara-negara anggota Perjanjian Atlantik Utara (NATO) menghadapi masalah kekosongan cadangan senjata dan peralatan militernya, karena sebagian telah dikirim ke Ukraina.(PH)