9 Desember 2022 - 12:40
Sayidah Fatimah sa dalam Kalam Ayatullah Sayid Ali Khamanei

Selama beberapa tahun terakhir, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Uzhma Sayid Ali Khamenei telah menyelidiki, menganalisis dan menjelaskan kepribadian agung dari penghulu perempuan Islam Sayidah Fatimah az-Zahra sa dalam berbagai kesempatan.



Menurut Kantor Berita ABNA, salah satu topik yang paling menarik dan meresap sepanjang sejarah, dari masa lalu hingga sekarang, adalah masalah perempuan dan terutama kedudukan mereka dalam masyarakat. Dengan munculnya berbagai agama, dari Buddha hingga Zoroastrianisme, dari Yudaisme hingga Kristen, dan akhirnya munculnya Islam pada 15 abad terakhir ini, persoalan ini masih menjadi salah satu isu dan kasus yang mendapat perhatian dan pembicaraan para ahli.


Di antara model dan prototipe perempuan Muslim sepanjang sejarah Islam adalah putri dari nabi terakhir Muhammad saw yaitu Sayidah Fatimah az-Zahra sa dari dulu dan sekarang. Selama beberapa tahun terakhir, pemimpin revolusi telah menyelidiki, menganalisis dan menjelaskan kepribadian agung dari Sayidah Fatimah az-Zahra sa dalam berbagai kesempatan.


Ahmed Arifkhani seorang aktivis budaya dan ahli media, pada kesempatan awal peringatan hari-hari berkabung Sayidah Fatimah az-Zahra sa telah mengumpulkan empat puluh karakteristik Sayidah Fatimah sa dari kata-kata Ayatullah Sayid Ali Khamanei yang tersampaikan dalam berbagai kesempatan, yang disajikan kepada para pembaca ABNA.


Sayidah Fatimah, Tingkat Tertinggi Perempuan Islam


ــــــــــــــــــــــ

Oleh: Ahmed Arifkhani

(pegiat budaya dan ahli media)


Memperhatikan masa Jahiliyah yang memperlakukan kaum perempuan  secara tidak manusiawi terutama tradisi mereka mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup, maka dengan datangnya Islam, harapan akan pandangan baru masyarakat pada perempuan meningkat. Islam dalam sepanjang sejarahnya telah memberikan tempat dan peran yang berbeda bagi perempuan dibanding masa Jahiliyah. Dengan datangnya Islam, pintu cahaya dibuka untuk perempuan. Dalam Islam, nilai khusus diberikan kepada perempuan. Rasulullah saw sebagai sang Nabi Islam telah  memainkan peran yang efektif dalam merombak tradisi takhayul jahiliyah dengan menghormati perempuan, terutama menghormati putrinya Fatimah sa. 


Al-Qur'an dengan jelas menyatakan dalam beberapa ayat, “Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, yakni berasal dari keturunan yang sama yaitu Adam dan Hawa.” Sehingga dengan ini pandangan Al-Qur'an tentang perempuan tidak berbeda dengan laki-laki. Keduanya adalah ciptaan Tuhan, yang tujuan utamanya di bumi adalah menyembah dan beribadah serta melakukan perbuatan baik dan menghindari kejahatan. Mereka berdua diberi imbalan yang sesuai. Al-Qur'an tidak pernah mengatakan bahwa perempuan  adalah gerbang setan, atau bahwa mereka secara alami menggoda dan menipu, dan tidak pernah mengatakan bahwa laki-laki adalah citra Tuhan. Menurut Al-Qur'an, setiap orang adalah ciptaan Tuhan.


Dengan kemenangan Revolusi Islam Iran pada abad ke-20, secercah harapan kembali tercipta di kalangan perempuan, dan mengingat adanya penyimpangan dan pandangan penuh nafsu terhadap perempuan di Barat bahkan di beberapa negara Islam yang salah dalam memahami Islam, perempuan sebagai bagian dari masyarakat mampu berperan dalam Republik Islam Iran. Kaum perempuan berperan dan setara dengan laki-laki dalam berbagai bidang politik, sosial, budaya bahkan ekonomi dan khususnya selama delapan tahun Pertahanan Suci dalam membuktikan bahwa mereka tidak hanya tidak kalah dengan laki-laki tetapi juga lebih unggul dari laki-laki dalam beberapa kasus.


Di antara model dan prototipe perempuan Muslim sepanjang sejarah Islam adalah putri dari nabi terakhir, Sayidah Fatimah az- Zahra sa dari dulu sampai sekarang, dan selama hidupnya yang singkat tapi diberkati, dia mampu berprestasi dalam berbagai bidang agama, spiritual, politik, sosial dan panutan bagi perempuan muslimah.


Dalam artikel ini, dengan mengkaji, pesan, ceramah dan pernyataan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam berbagai kesempatan, kami akan menyajikan kepada pembaca 40 karakteristik Sayidah Fatimah az-Zahra sa dari perspektif Ayatollah Agung Khamenei:


Derajat dan Kedudukan yang sangat Tinggi


Tidak ada yang mengetahui betapa tinggi derajat dan kedudukan putri nabi, Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Ketika ia datang, Nabi yang sebelumnya duduk, akan berdiri untuk menyambutnya dan mempersilakan duduk di tempat Nabi duduk sebelumnya. Nabi kerap mendemonstrasikan secara terbuka kecintaan dan kasih sayangnya pada putrinya dengan mengecup tangannya. Setiap Nabi hendak melakukan perjalanan maka ia lebih dulu ke rumah Sayidah Zahra dan begitupun ketika kembali, rumah yang lebih dulu didatanginya adalah kediaman putrinya tersebut sembari memberi salam. Perbuatan dan perlakuan Nabi pada putrinya tersebut tentu menjadi tindakan yang aneh di tengah masyarakat yang belum lepas sepenuhnya dari tradisi jahiliyah yang memandang rendah perempuan. 


Apa yang dilakukan Nabi pada Sayidah Fatimah sa menunjukkan ketinggian derajat dan martabat yang luar biasa yang dimiliki putri Nabi tersebut. Selain itu, Nabi juga memperlakukannya setara dengan suaminya, Ali bin Abi Thalib. Ali yang dikenal sebagai tokoh Islam yang berilmu tinggi, kehebatan dalam perang, kepiawaian dalam berpolitik dan kesalehannya serta posisinya sebagai imam namun tidak lebih tinggi derajatnya dari Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Sebagai pasangan suami-istri kedudukan keduanya setara. Keutamaan lainnya dari Sayidah Fatimah sa yang membuatnya layak memiliki ketinggian derajat, ia adalah ibu dari empat matahari yang bersinar, dua diantaranya adalah Imam Maksum. Ia juga adalah pelanjut generasi Nabi yang diberkahi, sehingga setelah 1400 tahun jutaan orang sayid dan syarifah di seluruh dunia bangga dan merasa terhormat memiliki kesambungan nasab sampai ke Sayidah Fatimah az-Zahra sa. 


Sejarah Hidup Sayidah Fatimah sa Tidak Terpisahkan dari Sejarah Risalah


Sejarah hidup putri nabi yang mulia  ini sama persis dengan sejarah risalah. Artinya, sesaat setelah dakwah nabi, Sayidah Fatimah sa juga bangkit, ia berada di sisi ayahnya dalam mendakwahkan Islam, sesaat setelah wafatnya nabi, ia juga terbenam; Artinya, kehidupannyya sepenuhnya bertepatan dengan era Nabi. Di masa kecilnya, dia merasakan dan memahami penderitaan Nabi. Ia juga ikut dalam pengucilan di Syi’ib Abi Thalib. Ia memasuki bidang kehidupan yang sulit sejak usia muda. Ia kehilangan ibunya, yang sangat sulit bagi seorang gadis di usianya, tetapi dia melakukan pekerjaan dengan baik. Selain menanggung kesulitan ini, ia tampil sebagai putri yang membahagiakan dan menenangkan ayahnya. Ia mengambil peran ibunya atas Nabi. 


Kesedihan ini berlanjut dengan cara yang sama sampai periode Madinah, di Uhud, di Khandaq, dan di banyak tempat lainnya, ketika Nabi bersabda, “Fatimah, ibu dari ayahnya”. Menunjukkan pujian Nabi padanya, yang menjalankan peran sebagai putri dan ibu sekaligus bagi Nabi. Kemudian memasuki era pasca hijrah. Ia menjadi istri dari seorang laki-laki yang satu kakinya di rumah, dan satunya lagi di medan jihad. Ia tetap menanggung kesulitan tersebut yang ditambah dengan pekerjaan mengasuh dan membesarkan empat anak. Persembahan terakhirnya yang membuatnya tidak juga terlepas dari rangkaian kedukaan, adalah kehilangan Muhsin putrnya, dan terakhir adalah syahidnya sendiri beberapa bulan setelah Nabi. 


Sayidah Fatimah sa Perwujudan Sempurna dari Konsep Perempuan menurut Islam


Kehidupan singkat delapan belas tahun atau lebih dari perempuan  terhormat ini memiliki kisah yang begitu penting. Sayidah Fatimah az-Zahra sa merupakan perwujudan dari konsep manusia dan Islam yang tertinggi tentang perempuan, yang harus diperhatikan; Pelajaran darinya terus relevan untuk zaman apapun. Beberapa konsep Islam mengenai perempuan, seperti konsep hijab, keibuan, keistrian, kemuliaan, pendidikan anak, peran politik dan sosial; Dalam semua ini, puncak imajinasi adalah Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Di bidang mengasuh anak, di bidang kerja sama dengan suami, di bidang umum dan wilayah publik termasuk dalam peribadatan, kondisi Sayidah Fatimah az-Zahra sa adalah kondisi yang sangat menakjubkan dan mewariskan keteladanan yang tidak pernah habis dibicarakan mutiaranya. 


Tetangga kemudian Keluarga Sendiri


Imam Hasan al-Mujtaba (semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian) mengatakan bahwa ibu saya bangun dari malam Jumat hingga pagi, berdoa, setiap kali saya mendengar suaranya, saya melihat dia sedang berdoa untuk orang lain. Saya berkata di pagi hari, ibu! Anda berdoa untuk orang lain, Anda tidak berdoa untuk diri Anda sendiri; Dia berkata, anakku! Al-Jar, lalu Al-Dar; Inilah pelajarannya. Sebagaimana turunnya surah al-Insan, yang penggalannya berbunyi, اِنَّما نُطعِمُکُم لِوَجهِ الله yang artinya Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Ini adalah pelajaran besar bagi bangsa Islam, bagi masyarakat Islam, bagi Republik Islam, bahwa bekerja harus dilakukan dengan ikhlas.


Kesatuan Spiritualitas, Keilmuan dan Kesucian


Pelajaran hidup dari Sayidah Zahra untuk kita adalah: usaha, ijtihad, berjuang, mensucikan hidup; Karena beliau adalah orang mulia yang memadukan spiritualitas, cahaya, dan kesucian: Kesucian, keindahan, kesalehan, dan kecemerlangan orang mulia ini adalah hal-hal yang membayangi ajaran Islam sepanjang sejarah. 


Dia Maksum


Otoritas spiritual Sayidah Fatimah sa adalah salah satu otoritas spiritual tertinggi dari beberapa orang umat manusia. Dalam keyakinan umat Islam Syiah, Sayidah Fatimah as termasuk manusia maksum. Kemaksumannya adalah keistimewaan beberapa orang pilihan Tuhan di antara manusia; Dan wanita mulia ini - Fatimah Zahra sa - adalah salah satunya, mengingat wanita Muslim dan mujahid di jalan Tuhan ini baru berusia sekitar delapan belas sampai dua puluh lima tahun - dengan adanya riwayat yang berbeda terkait usia beliau- Seorang wanita muda telah mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi, yang ditempatkan di jajaran para wali dan nabi dan sejenisnya, dan disebut Sayidatun Nisail ‘alamin  oleh para utusan ilahi.


Kehadirannya di Bidang Terpenting Kehidupan manusia


Selain posisi spiritual ini, ciri-ciri menonjol dan fungsi penting dalam kehidupan pribadi wanita bangsawan yang masing-masing menjadi pelajaran adalah kesalehannya, kesucian dan ketakwaannya, perjuangannya, menjadi istri, melahirkan anaknya, pemahamannya tentang politik, kehadirannya dalam bidang-bidang terpenting kehidupan manusia pada masa itu – baik pada masa remaja maupun masa kanak-kanak, dan setelah menikah – masing-masing adalah sebuah pelajaran; Ini bukan hanya pelajaran untuk para wanita, tetapi ini adalah pelajaran untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, konjungsi ini merupakan kesempatan bagi kita; Dalam kehidupan Fatimah Zahra, seseorang harus berhati-hati, mengenali kehidupan itu dengan tampilan baru, memahaminya dan menjadikannya sebagai contoh dalam arti kata yang sebenarnya.


Nabi Berdiri Menyambutnya ketika Datang


Kita benar-benar tidak mampu; Bahasa tidak mampu, hati tidak mampu, pikiran tidak mampu memuji dan memuliakan kedudukan tinggi ini; Manusia ini, gadis muda ini, begitu banyak kebajikan, begitu banyak kecemerlangan, begitu banyak kebanggaan dan keagungan; bahwa seseorang seperti Nabi ketika Fatimah Zahra mendatanginya, Nabi berdiri menyambutnya. Dia tidak hanya akan bangun, tetapi dia akan bangun dan pergi ke arahnya. Begitu seseorang memasuki ruangan, Anda berdiri untuk menghormatinya; begitu seseorang memasuki ruangan, Anda menghampirinya dengan antusias. Apakah ini lelucon? Ini bukan sekedar hubungan ayah-anak. Nabi Allah memuliakan Fatima Zahra seperti ini; Keridhaannya adalah keridhaan Nabi, kepuasan Nabi adalah keridhaan Allah; Nabi mengatakan kemurkaan Fatimah sebagai kemurkaannya dan kemurkaannya sebagai kemurkaan Allah; Ini adalah otoritas Sayidah Fatimah Zahra. Ia hidup bersama Amirul Mukminin, dan ialah yang mentarbiyah dua penghulu syuhada, jadi, mungkinkah orang seperti kita berbicara tentang orang yang sedemikian mulia ini?.


Sangat Mirip dengan Rasulullah saw


Sebuah hadits terkenal dari Ummul Mukminin Aisyah yang mengatakan, ”Demi Allah, saya belum pernah melihat orang yang lebih mirip dengan Nabi Suci selain Fatimah dalam hal perawakan, wajah, penampilan, kecerahan, gerakan, dan perilaku.”


Universitas Islam tertua di dunia Islam Terinspirasi dari Nama Sayidah Fatimah az-Zahra sa


Universitas Islam tertua di dunia Islam - terkait dengan abad ke-3 dan ke-4 H - dinamai dari nama Sayidah Fatimah sa. Nama universitas terkenal Al-Azhar di Mesir diambil dari nama Sayidah Fatima az-Zahra sa. Dahulu, mereka mendirikan universitas atas nama Fatimah Zahra as. Bahkan khalifah Fatimiyah yang memerintah Mesir saat itu adalah Syiah dari Dinasti Bani Fatimiyah. Selama berabad-abad, Syiah telah mencoba mencari ilmu tentang hak yang mulia ini. Ini adalah sesuatu yang harus diketahui.


Kecemerlangan Fatimah Zahra sa membuat Mata Silau


Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa kecerahan Fatimah Zahra sa membuat mata silau menatapnya. زَهَر نورها للملائکة السّماء . Apa yang bisa kita katakan terkait kecemerlangan ini? Dari bintang terang ini, kita harus menemukan jalan menuju Tuhan dan jalan pengabdian, yaitu jalan yang benar dan Sayidah Fatimah Zahra, sa, berjalan dan mencapai tingkat yang tinggi itu.


Dari masa kanak-kanak hingga akhir hayatnya yang singkat, dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri


Sebuah hadis berasal dari periwayatan Syiah bahwa Nabi Muhammad saw berkata kepada Fatimah sa, ”Wahai Fatimah, Saya tidak bisa memberikan apapun padamu di hadapan Allah”.  Artinya ini perintah Rasul kepada putrinya, agar putrinya memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, sejak kecil hingga akhir hayatnya yang singkat Sayidah Fatimah terus memikirkan di luar dirinya. Anda lihat bagaimana dia hidup! Sebelum menikah, ketika dia masih kecil, dia melakukan hal yang luar biasa dengan ayahnya baik dalam perawatan dan pendampingan  sehingga dia dijuluki Ummabiha - ibu dari ayahnya. Dimana pada saat itu, Nabi Muhammad saw adalah perintis dunia baru dan pemimpin besar serta komandan revolusi dunia- revolusi yang harus berlangsung selamanya - sedang mengibarkan bendera Islam. Bukan tanpa alasan Nabi menyebutnya “Ummabiha”!. Itu karena jasa, kerja, perjuangan dan usaha Sayidah Fatimah sa dalam mendampingi ayahnya melewati momen-momen tersulit. 


Ibu bagi Ayahnya, Pengabdian Tanpa Batas


Sayidah Fatimah az-Zahra sa selaly berada di sisi ayahnya termasuk dalam masa-masa sulit yang penuh dengan kedukaan. Baik pada masa Makkah, maupun pada masa Syi’ib Abi Thalib - dengan segala kesulitan yang dialaminya - terutama ketika ibunya Khadijah meninggal dunia dan meninggalkan Nabi sendiri. Hati Nabi hancur dalam waktu singkat oleh dua peristiwa: kematian Khadijah dan kematian Abi Thalib. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, kedua pribadi ini meninggalkan tangan Nabi dan Nabi merasa kesepian. Fatimah az-Zahra sa berdiri tegak pada masa itu dan menyeka debu kesulitan dari wajah Nabi dengan tangan kecilnya.


Allah Swt Memilih Ali untuk Fatimah


Sayidah Fatimah az-Zahra sa yang saat itu adalah putri dari pemimpin besar Islam dan penguasa yang kuat dan begitu banyak yang hendak melamarnya, dengan di antara pelamar tersebut, ada orang kaya, ada juga bangsawan dan kalangan terpandang. Tapi Tuhan telah memilih Ali untuk Fatima di antara mereka semua, dan Fatimah ridha dengan pilihan Allah Swt tersebut. Dengan berbagai keterbatasan dia tinggal bersama Amirul Mukminin as dan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, tidak sekalipun ia mengeluh. Yang sering berulangkali dia sampaikan, adalah betapa bahagianya ia bersama suaminya. Kata-kata yang diucapkan perempuan terhormat ini kepada Amirul Mukminin as di hari-hari terakhir hidupnya adalah saksi dan menunjukkan makna ini. Dia dengan setia membela hak wilayah; Dalam perjalanannya, dia menanggung penderitaan dan siksaan itu dan kemudian menyambut kesyahidan besar itu dengan tangan terbuka. Inilah yang diwariskan Sayidah Fatimah az-Zahra sa pada generasi Islam. Perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan. 


Ia adalah Muhaddatsah


Telah diriwayatkan dari Imam Shadiq  as bahwa ia berkata, “Fatimah sa adalah muhaddatsah.” Artinya, para malaikat turun padanya, menjadi akrab dan berbicara dengannya. Ini adalah keutamaan Sayidah Fatimah sa yang diceritkan dalam banyak riwayat, sehingga Sunni pun menerimanya. Syiah dan Sunni percaya bahwa selama era Islam, ada orang yang  diluar Nabi yang diajak bicara oleh malaikat. Contohnya dalam riwayat Syiah adalah Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Hal ini menunjukkan ketinggian derajat dan keutamaan yang beliau miliki. 


Allah Swt telah Mensucikan Sayidah Fatimah sa


Dalam riwayat Imam Sadiq sa dikatakan bahwa malaikat ilahi kerap datang menemui Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Mereka berbicara dengannya dan membacakan ayat-ayat ilahi kepadanya. Penafsiran yang sama tentang Maryam dalam Al-Qur'an bahwa: ان الله اصطفیک و طهّرک و اصطفیک علی نساء العالمین . Frasa ini ditujukan oleh para malaikat kepada Fatimah Zahra, saw, mereka berkata, "Wahai Fatimah, Allah Maha Penyayang telah memilih Anda, menjadikan Anda suci dan Dia telah memberi Anda keunggulan atas wanita di dunia.” 


Amirul Mukminin as Menuliskan yang Diucapkan para Malaikat pada Sayidah Fatimah sa


Dalam sebuah riwayat dari Amirul Mukminin sa diriwayatkan bahwa Sayidah Fatimah az-Zahra berkata kepadanya, ”Malaikat datang dan memberitahuku banyak hal." Amir al-Mu'minin berkata kepadanya, ”Ketika kamu mendengar suara Malaikat, beri tahu aku agar aku bisa menuliskan apa yang kamu dengar." Dan Amir al-Mu'minin menuliskan apa yang didiktekan para malaikat kepada Fatimah Zahra sa dan catatan tersebut menjadi kitab yang ada dan bersama para Imam. Kitab ini dikenal dengan nama Kitab Fatimah.


Kiblat bagi Muslimah, Dulu dan Sekarang


Kehidupan Sayidah Fatimah az-Zahra sa dari semua dimensi, adalah kehidupan dengan penuh dengan usaha dan kesungguhan dalam mencapai keunggulan spiritual manusia. Suami selalu berada di garis depan dan medan perang; Namun terlepas dengan segala keterbatasan dan kesulitan yang dihadapinya, Sayidah Fatimah sa telah menjadi pusat rujukan bagi umat dan umat Islam. 


Kakinya sampai Bengkak demi Mendirikan Salat


Hasan Basri salah seorang sufi yang terkenal di dunia Islam, ia pernah berkata tentang Sayidah Fatimah az-Zahra sa, “Putri nabi sangat rajin beribadah dan berdiri di altar ibadah sehingga kakinya membengkak.” Kaki perempuan mulia ini bengkak karena berdiri di mihrab.


Orang lain dulu, baru diri kita sendiri!


Imam Hasan al-Mujtaba as diriwayatkan mengatakan,  “Suatu malam - malam Jumat - ibu saya berdiri untuk beribadah dan berzikir sampai pagi. Sampai subuh Ibu saya terlibat dalam doa. Saya mendengar bahwa dia selalu berdoa untuk laki-laki dan perempuan yang beriman; Dia berdoa untuk orang-orang; Dia berdoa untuk masalah umum dunia Islam. Saat pagi hari, saya berkata, "Ya ibuku! saya mendengat engkau tidak berdoa untuk dirimu sendiri! Doa malam sampai pagi, semuanya untuk orang lain!? Sebagai tanggapan, dia berkata, ”Ya putrakku, Al-Jar lalu Al-Dar;" "Orang lain dulu, lalu diri kita sendiri!" Inilah semangat yang tinggi untuk lebih mendahulukan orang lain, yang dicontohkan oleh Sayidah Fatimah sa. 


Tidak pernah membuat marah dan melanggar


Amirul Mukminin as berkata tentang Sayidah Fatimah az-Zahra sa, “Fatimah tidak pernah membuatku marah sekali pun selama pernikahan kami dan tidak sekali pun melanggar perintahku.” Fatimah Zahra, saw, adalah seorang istri yang meski berada di lingkungan rumah namun juga seorang alim yang memiliki wawasan keilmuan yang luas. Karakternya yang utama sebagai istri dalam lingkungan rumah tangga, adalah ketaatannya pada suami. 


Kepribadian Serba Bisa


Ibadahnya, kefasihan dan balaghahnya, kebijaksanaan dan pengetahuannya, jihad dan perjuangannya; Perilakunya sebagai seorang gadis; Perilakunya sebagai seorang istri; perilakunya sebagai seorang ibu; Kebaikannya kepada orang miskin, yang diriwayatkan bahwa ketika Nabi mengutus seorang lelaki tua miskin ke pintu rumah Amirul Mukminin, Sayidah Fatimah sa memberikan papan kulit di mana Hasan dan Husain menjadikannya kasur saat tidur karena tidak lagi punya barang berharga yang bisa dijual. Dia mengatakan kepada laki-laki miskin itu, ambillah ini, karena kami tidak punya apa-apa lagi selain ini, juallah dan gunakan uangnya untuk kebutuhanmua.”. Inilah kepribadian Sayidah Fatimah az-Zahra sa yang kesemua dimensi kehidupan dan kepribadiannya adalah tauladan bagi umat manusia.


Sayyidah Nisa al-Alamin


Imam Ja’far Shadiq as pernah berkata, “Wahai Sayidah al-Nisa al-Alamin, wahai pemimpin perempuan di dua alam.” Perawi bertanya, “Apakah yang anda maksud adalah ibu anda yang merupakan pemimpin perempuan pada masanya?”. Imam menjawab, “Pemimpin perempuan pada masanya adalah Sayidah Maryam, sementara ibuku adalah pemimpin bagi perempuan dari yang pertama sampai yang terakhir, baik di dunia maupun di akhirat.”


Dari hadis tersebut, menginformasikan kepada kita, bahwa kedudukan Sayidah Fatimah sa unggul atas semua perempuan. Ia pemimpin perempuan yang bukan hanya pada masanya, tapi juga sebelum dan sesudahnya. Yaitu, jika Anda ingin menemukan segelintir - yang terbaik - di antara semua ciptaan dunia, di antara miliaran orang yang telah diciptakan dari waktu ke waktu, salah satunya adalah perempuan suci ini, yang nama dan ingatan tentangnya telah diabadikan.


Sumber Dorongan Semangat bagi Suami dan Ayahnya


Perempuan terhormat ini adalah seorang ibu rumah tangga. Dia telah menikah. Seorang ibu adalah guru bagi anak-anak. Kebanggaan yang mulia ini menjadi sumber penyemangat bagi suami dan ayahnya dalam bidang sulit yang mereka miliki. Perempuan suci ini lahir pada tahun kelima kenabian. Yakni, pada puncak intensitas seruan dakwah Nabi; Tekanan dan kesulitan yang didapatpun sama. Dalam perjuangan dakwahnya orang-orang Mekkah memboikot Nabi Muhammad saw dan keluarganya. Secara keseluruhan, mereka telah memutuskan hubungan mereka untuk membuat Nabi berada di bawah tekanan. Dan Sayidah Fatimah bersama Ibunya Sayidah Khadijah tetap menyemangati Nabi. Dorongan semangat dan dukungan dari putrinya, menjadi penenang dan sumber kebahagiaan bagi Rasulullah saw. 


Malaikat Penyelamat Nabi


Saat gadis ini tumbuh dewasa dan mencapai usia lima atau enam tahun, kisah Syi’ib Abi Thalib terjadi. Dalam kelaparan, kesulitan, tekanan, dan semua bentuk permusuhan harus dihadapinya.  Pada hari-hari yang panas dari matahari dan dingin yang begitu mencekam dari lembah pengucilan tersebut anak-anak dengan perut lapar dan bibir kehausan di depan mata. Selama tiga tahun, Nabi hidup seperti ini di padang pasir sekitar Mekkah, dan gadis ini adalah malaikat penyelamat Nabi di masa sulit ini. Selama periode inilah Khadijah meninggal. Selama periode inilah Abu Thalib meninggal dan Nabi ditinggalkan sendirian. Sementara itu, Sayidah Fatimah inilah yang membelainya, menyambutnya, menghibur dan menghapus debu dan kesedihan dari wajah Rasulullah saw.


Menjadi Cahaya Mati Ali 


Ada riwayat yang menyebutkan, Sayidah Fatimah sa digelari az-Zahra, karena ia tampak bercahaya, terkhusus dalam pandangan mata suaminya, Ali bin Abi Thalib. Jika seorang wanita mendukung pria dalam bidang apa pun, kekuatan pria akan berlipat ganda. Perempuan bijak ini, perempuan muhaddatsah ini, yang berbicara dengan malaikat; Dengan semua kapasitas ini; Dengan segala martabat ini, dia berdiri di belakang Amirul Mukminin as seperti gunung di semua fase hidupnya dan selama dia masih hidup. Pembelaannya terhadap Ali dan Wilayah melalui khutbah dan orasinya telah membuat Allamah Majlisi mengatakan tentangnya, ““Ia adalah pembesar dari kefasihan dan balagha. Dari kefasihan dan keagungan kata-kata dan maknanya, baik makna lahir maupun baitnnya, membuat orang-orang akan menggigit jari dan giginya bergetar karena takub.”



Lahir di Rumah Revolusi


Kepribadian az-Zahra adalah kepribadian yang menonjol dalam dimensi politik, sosial dan jihad; Semua perempuan pejuang politik dan revolusioner terkemuka di dunia dapat belajar dari kehidupan singkat dan bermakna dari perempuan yang lahir di rumah revolusi dan menghabiskan seluruh masa kecilnya di pelukan seorang ayah yang berada di tengah-tengah  perjuangan global yang besar dan tidak terlupakan; Perempuan yang di masa kecilnya mengalami kerasnya perjuangan Mekah, ikut terkucil di Syi’ib Abi Thalib, mengalami kelaparan, kesulitan, dan teror perjuangan Mekkah, dan kemudian ketika mereka hijrah ke Madinah kesulitan yang didapat tidak juga berhenti. Tidak ada perempuan pejuang revolusi yang menjalani fase-fase sulit sebagaimana yang dihadapi Sayidah Fatimah sa. 


Kehidupan Jihad Sayidah Fatimah sa


Oleh karena itu, meskipun hidup Sayidah Fatima az-Zahra sa singkat, meskipun sekitar dua puluh tahun - sedikit kurang atau lebih - hidupnya tidak bertahan lama, tetapi hidup ini adalah karena jihad dan perjuangan dan upaya revolusioner dan kesabaran revolusioner serta pelajaran. Mendampingi perjuangan Nabi dan suaminya, serta  pidato dan pembelaan pada kenabian dan wilayah serta pembelaan sistem Islam adalah lautan luas usaha dan perjuangannya. Akhir hidupnya pun ditutup dengan kesyahidan. Ini adalah kehidupan jihadi Fatima Zahra, yang sangat agung dan luar biasa dan benar-benar unik, dan tentunya merupakan titik terang dan luar biasa dalam pikiran manusia - baik hari ini maupun di masa depan.


Pendamping Amirul Mukminin


Tetapi posisi spiritual orang terhormat ini jauh lebih tinggi daripada posisi jihadis, revolusioner, dan sosialnya. Fatima Zahra adalah seorang manusia dan seorang wanita, yaitu seorang wanita muda; Tetapi dalam arti, itu adalah kebenaran yang agung, cahaya ilahi yang bersinar, hamba yang saleh, orang yang diistimewakan dan dipilih; Dia adalah orang yang Nabi Muhammad saw katakan kepada Amirul Mukminin, “Wahai Ali, Anda memimpin orang-orang beriman ke Surga pada Hari Kebangkitan, dan Fatimah memimpin orang-orang beriman ke Surga pada Hari Kiamat. Jadi Sayidah Fatimah sa tidak hanya mendampingi dan membantu suaminya di dunia tapi juga di akhirat. Ia tetap menjadi rekan kerja bagi suaminya, di dunia dan akhirat dalam membimbing umat manusia. 


Malaikat Berbicara Kepadanya


Inilah status spiritual Fatimah Zahra sa yang tinggi. Seorang wanita, yang juga di usia muda, mencapai suatu titik dalam hal status spiritual di mana, menurut beberapa riwayat malaikat berbicara kepadanya dan mengajarkan serta menyampaikan kebenaran kepadanya. Ini suatu yang mengagumkan. Artinya, dia adalah orang yang berbicara dengan para malaikat. Posisi spiritual ini, medan yang luas ini, puncak yang tinggi ini, ada di hadapan semua wanita ciptaan dan dunia. Fatimah Zahra berdiri di puncak gunung besar ini dan menyapa semua wanita di dunia dan mengajak mereka untuk mengikuti jalan ini.


Protipe Muslimah Sejati dalam Kehidupan Sehari-hari


Namun satu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari Sayidah Fatimah sa yaitu penjumlahan antara kehidupan seorang wanita muslimah dalam perilakunya dengan suaminya, dalam perilakunya dengan anak-anaknya, dalam menjalankan tugasnya di dalam rumah pada satu tangan; Dan di antara tugas-tugas seorang pejuang yang tak kenal lelah dan bersemangat dalam menghadapi peristiwa politik penting setelah wafatnya Nabi Muhammad sa. Ia datang ke masjid, berpidato, mengambil sikap, membela, berbicara, seorang jihadis dalam segala hal, tak kenal lelah, pekerja keras, dan disisi lain sangat penyayang dan peduli pada orang-orang lemah dan yang membutuhkan pertolongan; Dan dari sudut pandang ketiga, ia seorang hamba yang taat, seorang abid, ia beribadah tanpa lelah, doa di malam yang gelap dengan ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah Swt. Menyatukan ketiga dimensi ini adalah titik terang kehidupan Fatima Zahra sa dan Sayida Fatimah sa tidak pernah memisahkan ketiga dimensi ini. 


Bekerja untuk Tuhan, ketulusan, pelayanan tanpa pamrih


Dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an diantaranya ada ayat-ayat yang secara khusus diturunkan dan menunjukkan mengenai kepribadian Sayidah Fatimah sa, seperti dalam surah al-Insan, ayat  ahl al-kisa, ayat mubahalah dan lain-lain. Fakta bahwa dalam surah al-Insan,  berurusan dengan pekerjaan Fatimah az-Zahra sa dan keluarganya sangatlah penting; Ini adalah bendera yang dikibarkan Al-Qur'an di atas pintu rumah Fatima Zahra, ketulusan membantu hanya demi ridha Allah. Bekerja untuk Tuhan, ketulusan, pelayanan tanpa pamrih; untuk siapa? kepada anak yatim, miskin, dan tawanan; Apakah tahanan ini seorang tahanan Muslim? Tidak mungkin dia [adalah] seorang tawanan Muslim pada waktu itu. Layanan tanpa pamrih; Ini pelajarannya, ini bendera Fatimah Zahra.


Peran seorang pemimpin sejati


Fatimah az-Zahra berperan sebagai pemimpin sejati; Seperti yang dikatakan oleh Imam Khomeini berkata bahwa jika Fatimah Zahra adalah laki-laki, dia akan menjadi seorang nabi. Ini adalah pernyataan yang tidak sembarangan, pernyataan yang sangat besar, yang keluar hanya dari lisan seseorang seperti Imam yang terhormat, yang adalah seorang ulama, fakih, dan seorang arif. Manusia biasa sulit memahami ini dan tidak akan mengatakan perkataan seperti ini. Tapi dia mengatakan ini. Ini menunjukkan, Fatimah az-Zahra sa adalah seorang pemimpin dalam segala hal, seperti seorang nabi, seperti seorang penuntun bagi seluruh umat manusia; Di level ini Sayidah Fatimah mencapainya dalam usia yang sedemikian muda dan diimplementasikan dalam usianya yang singkat. 


Perempuan Islam yang paling tinggi derajatnya

Fatimah az-Zahra sa adalah seorang perempuan Islam. Ia mencapai level tertinggi seorang perempuan Islam, yaitu, di level seorang pemimpin. Ia bisa menjadi seorang nabi dalam hal kebajikan dan kualifikasinya. Namun pada saat yang sama ia adalah seorang ibu, seorang istri, seorang ibu rumah tangga; Anda harus memahami hal-hal ini. Orang-orang banyak yang tidak menyadari dan terpengaruh propaganda absurd orang Barat yang memandang rendah urusan rumah tangga. Makna kerumahtanggaan perempuan adalah pendidikan manusia, yaitu mencetak setinggi-tinggi dan semulia-mulianya makhluk di muka bumi. Rumah tangga berarti ini.


Dia adalah seorang ibu rumah tangga


Fatimah Zahra sa adalah seorang ibu rumah tangga dengan martabat dan pangkat serta kedudukan yang mulia. Apa yang dikerjakannya bukan sesuatu yang rendah. Tidak ada yang bisa direndahkan dari pekerjaan rumah tangga. Dapatkah kehebatan ini diremehkan? Kebesaran ini dicadangkan untuk tempatnya sendiri, yaitu menjadi seorang istri atau ibu dan memelihara rumah tangga; Mari kita lihat konsep-konsep ini dengan pandangan yang penuh bashirah. 


Ia adalah Hujjah Allah


Dalam sejarah, Allah Yang Maha Kuasa menciptakan seorang perempuan seperti Fatimah az-Zahra sa yang Imam Hasan Askari atau Imam al-Hadi as - menurut sebuah hadits yang diriwayatkan dari mereka - mengatakan, ”Kami adalah hujjah Allah atas makhluknya dan Fatimah adalah hujjah Allah atas kami.”


Ia adalah al-Kautsar (Kebaikan yang Melimpah)


Kebaikan yang melimpah ini yang Tuhan Yang Mahakuasa berikan kepada Nabi Muhammad saw sebagai kabar baik dalam surah al-Kautsar انّا اعطیناک الکوثر- interpretasinya adalah Fatimah az-Zahra sa adalah fakta dari semua berkah yang datang dari sumber agama kenabian hari demi hari, itu jatuh pada semua umat manusia dan semua ciptaan. Banyak yang berusaha menutupinya dan menyangkalnya, tetapi mereka tidak bisa; واللَّه متمّ نوره و لو کره الکافرون


Mahar yang Sederhana


Pada masa setelah Hijrah, di awal tahun masa taklif, Sayidah Fatimah az-Zahra sa menikah dengan Ali bin Abi Thalib as dengan mahar yang sederhana. Anda semua mungkin tahu dengan kesederhanaan dan kondisi memprihatinkan, putri orang pertama dunia Islam ini merayakan pernikahannya.


Perempuan Jujur Terbaik


Sayidah Fatimah sa juga digelari ash-Shadiqah al-Kubra, yang berarti perempuan jujur yang terbaik. Gelar ini didapat dari kejujuran hatinya melakukan penyembahan kepada Tuhan.