Menurut kantor berita Ahl al-Bayt (AS) - ABNA ,Dinas intelijen luar negeri Rusia, Selasa (8/2/2022) seperti dikutip Sputnik melaporkan, "Orang-orang AS untuk meraih tujuannya di Suriah, aktif menjalin kontak dengan mereka yang disebut pemberontak bersenjata, dan pada kenyataannya memanfaatkan kelompok-kelompok ekstrem."
Ditambahkannya, "Agen-agen intelijen AS bermaksud menghidupkan kembali 'sel-sel tidur' para ekstremis di Damaskus, wilayah-wilayah sekitarnya dan Provinsi Latakia, untuk menyerang aparat keamanan Suriah, penasihat militer Iran dan personel militer Rusia."
Sebuah kelompok militer AS sampai saat ini tetap berada di Suriah, untuk menjalankan tugas yang mereka sebut sebagai perang melawan ISIS, hal ini tidak mendapat persetujuan dari PBB atau pemerintah Suriah.
Menurut Dinas intelijen luar negeri Rusia, tujuan dipertahankannya kelompok militer AS ini adalah untuk mencegah situasi keamanan di Suriah pulih. AS berusaha menggulirkan kampanye media luas termasuk lewat media sosial berbahasa Arab untuk menciptakan semangat protes di tengah masyarakat Suriah. (HS)
342/