Menurut Kantor Berita ABNA, Webinar Internasional dengan tema "Syahid Qasem Soleimani Model Dunia Islam dalam Perang Melawan Arogansi dan ekstremisme" terselenggara pada Minggu (2/1) oleh Sekretariat Kongres Dunia Melawan Ekstremis dan Arus Takfiri dengan menghadirkan sejumlah pemikir dan cendekiawan dunia Islam dari beberapa negara.
Syaikh Maher Hammoud, Sekretaris Jenderal Persatuan Cendekiawan Perlawanan dari Lebanon, sebagai salah seorang pembicara dalam webinar tersebut mengatakan, "Panggilan Al-Qur'an telah sampai kepada Letnan Jenderal Qasem Soleimani yang dengan itu ia menjadikan Palestina ada di hati dan matanya. Proyek pembebasan Palestina telah menjadi agenda harian dan daftar tugas yang harus dikerjakannya setiap hari dan tidak pernah berhenti, sampai peluru musuh merenggut nyawanya."
"Siapa pun yang jujur dalam keyakinan Islamnya akan menjadikan pembebasan Palestina sebagai prioritas dalam pekerjaan sehari-hari mereka. Siapapun yang mengaku Islam, rajin berdoa, mematuhi aturan agama, mengklaim membela kelompok tertindas namun abai terhadap nasib Palestina, maka kami katakan kepadanya, mungkin kalian berada pada jalur yang salah, atau kalian berada dalam keraguan atau kalian memang telah melakukan perubahan dan penyimpangan pada syariat Islam." Tambahnya.
Sekretaris Jenderal Persatuan Cendekiawan Perlawanan Lebanon ini lebih lanjut menambahkan: "Kebutuhan tahap ini adalah bahwa kita semua sedang menuju Quds, sama seperti yang dicita-citakan dan diperjuangkan Syahid Soleimani ini. Konflik di Al-Quds adalah inti dari semua konflik, termasuk pertarungan kubu penindas dengan yang tertindas, dan konflik antara kolonial dan masyarakat yang terjajah. Singkatnya, konflik antara yang benar melawan yang salah. Semua kepalsuan ada di belakang rezim Zionis dan mereka ingin berkompromi dengan rezim ini."
Merujuk pada kenangan Syahid Soleimani dalam hati Umat Islam, Syaikh Maher Hammoud mengatakan, "Umat Islam tidak akan pernah melupakan Syahid Soleimani, dialah yang menempatkan masalah Palestina di puncak agendanya dan tidak menyerah pada tekanan Amerika Serikat. Semua tawar-menawar dan upaya dialog kubu arogansi untuk menghentikan langkah pembebasan Palestina telah ditolak Soleimani. Karena itu musuh merasa perlu menghabis nyawa dan menghentikan langkahnya meski dengan cara yang sangat pengecut. Umat Islam tidak akan melupakan jasa syahid ini termasuk Syahid Abu Mahdi yang turut gugur bersamanya."
Syaikh Maheer melanjutkan, "Allah Swt telah menjanjikan kita penghancuran rezim Zionis dan kembalinya orang-orang Palestina ke tanah mereka, dan siapa pun yang berjalan di jalan ini telah mengabadikan namanya dalam sejarah Umat Islam."
Sekretaris Jenderal Persatuan Cendekiawan Perlawanan Lebanon ini dibagian akhir penyampaiannya mencatat, "Dua tahun telah berlalu sejak syahidnya Jenderal Soleimani namun sosok kepribadian dan jasanya tetap masih hidup di benak kita. Dia adalah seorang komandan yang membela perjuangan Palestina dan menghadapi semua tantangan. Syahid Soleimani selalu hadir sebagai komandan lapangan dan bangsa ini tidak akan pernah melupakan kepahlawanannya."
Disebutkan, Panglima Korps Brigade Alquds Iran Letnan Jenderal Qassem Soleimani dan Ketua al-Hasyd al-Syaabi Irak Abu Mahdi al-Muhandis beserta enam orang yang menyertai keduanya gugur dalam sebuah insiden penyerangan pada Jumat (3/1) tahun 2020 lalu di dekat Bandara Internasional Irak. Pentagon mengkonfirmasi serangan tersebut atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump. Gugurnya kedua tokoh muqawamah tersebut memicu kemarahan besar rakyat Iran. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei memerintahkan agar dilakukan tindakan balas atas kepengecutan Amerika Serikat tersebut.