Menurut kantor berita Ahl al-Bayt (AS) - ABNA ,Amir Abdollahian dalam cuitan di Twitternya mereaksi statemen provokatif rezim Zionis hari Senin dengan mengatakan, "Dengan otoritas dan rasionalitas, tidak ada tempat bagi masa depan Zionisme di dunia,".
Pernyataan tersebut, meskipun singkat, tapi bermakna. Pasalnya, selama ini para pejabat Israel sibuk dengan retorika kosong akan menyerang Iran yang disampaikan selama bertahun-tahun.
Menteri Luar Negeri Zionis Yair Lapid melanjutkan kebijakan ini. Dia baru-baru ini mengklaim bahwa Israel dapat menyerang Iran tanpa sepengetahuan pemerintah AS dan "tidak memerlukan izin siapa pun" untuk mempertahankan keamanannya.
"Meskipun kami lebih memilih tindakan global terhadap program nuklir Iran, kami tidak akan membuang waktu jika terjadi keadaan darurat," kata Yair Lapid.
Pertanyaan yang muncul mengenai apa tujuan apa yang sedang dikejar Israel dengan mengumbar provokasi terhadap Iran ?
Masalah ini setidaknya menunjukkan dua persoalan serius. Pertama, kekhawatiran rezim Zionis mengenai kembalinya Amerika Serikat ke JCPOA dengan dimulainya kembali pembicaraan Wina tentang pencabutan sanksi terhadap Iran. Tapi tampaknya, kekhawatiran ini berakar pada masalah lain.
Seiring dimulainya kembali pembicaraan nuklir Wina, yang dimulai pada tanggal 29 November 2021, para pejabat rezim Zionis telah berulangkali mengumbar retorika akan menyerang Iran, dan mengklaim memiliki kemampuan untuk menyerang situs nuklir Iran.
Lalu apakah memang pejabat tinggi Israel serius untuk menyerang Iran atau ada motif lain dengan menintensifkan retorika provokatif tersebut. Mantan Perdana Menteri Rezim Zionis Ehud Olmert telah mengungkapkan bahwa Israel Zionis tidak akan menyerang Iran, dan semua manuver militer untuk mempersiapkan serangan terhadap Iran dimaksudkan hanya untuk menekan pemerintah AS, dan bukan untuk menyerang Iran.
Kedua, inti retorika pejabat Israel berputar pada tuduhan infaktual tentang program nuklir Iran dan ancaman negara ini terhadap keamanan regional.
Sifat retorika dan klaim yang dibuat oleh pejabat Israel menunjukkan bahwa kedua masalah tersebut terkait erat dengan tujuan ilegal Israel di kawasan. Provokasi Israel untuk mengorbarkan ketegangan ini belum tentu menguntungkan kepentingan Amerika Serikat dan Eropa.
Paul Pillar, mantan anggota CIA, dan analis hubungan internasional menerbitkan sebuah tulisannya berjudul "Retorika Berkelanjutan Israel Menyerang Iran Membahayakan Kepentingan AS." Menurut profesor politik ini, mengingatkan pejabat AS mengenai konsekuensi dari Kepatuhan Washington terhadap kebijakan Israel dalam masalah Iran yang merugikan AS.
Naftali Bennett tidak kalah dengan Benjamin Netanyahu dalam mengumbar retorika penuh kebohongan tentang Iran. Tujuan yang dikejar Israel dengan mengobarkan konfrontasi terhadap Iran untuk mengalihkan perhatian dunia dari peran Israel sebagai ancaman nuklir dan ketidakstabilan di kawasan.
Rezim Zionis berusaha untuk mengalihkan perhatian publik internasional terhadap kebijakan dan perilaku destruktif Israel. Mereka memilih untuk tidak membicarakan isu-isu sensitif, terutama yang berkaitan dengan aktivitas nuklir Israel dan pendudukan wilayah Palestina.
Para pejabat Israel juga berupaya mencegah penguatan hubungan intra-regional dengan Iran melalui pelemahan diplomasi dialogis di tingkat regional. Semua ini dilakukan para pejabat Israel demi menjaga keberlanjutan rezim Zionis dari kehancurannya. Tapi semakin waktu terus bergerak maju, tanda-tanda suram masa depan rezim Zionis semakin terlihat jelas. Sebagaimana ditegaskan Menteri Luar Negeri Iran di Twitternya, "Tidak ada tempat bagi Zionisme dalam masa depan dunia,".(PH)
342/