26 September 2021 - 01:34
Ayatullah Hasanzadeh Amuli Tutup Usia di Usia 92 Tahun

Hasan Hasanzadeh Amuli adalah seorang filsuf, arif, teolog, mujtahid, astronom, pengajar ilmu-ilmu agama dan hauzawi. Ia menulis banyak buku dalam beragam cabang ilmu agama sehingga ia dikenal dengan nama Allamah Hasanzadeh Amuli.

Menurut Kantor Berita ABNA, kembali kedukaan atas kepergian ulama besar menyelimuti umat Islam khususnya umat Islam Syiah dan warga Iran,  Ayatullah Hasan Hasanzadeh Amuli diberitakan meninggal dunia pada Ahad (26/9) dalam usia 92 tahun di kota Amol Iran.

Ia disebutkan telah mendapat perawatan di Rumah Sakit Imam Ridha as sejak Sabtu kemarin karena komplikasi paru-paru, namun kesehatannya yang makin kritis membuat nyawanya tidak tertolong.  Cendekiawan terkemuka dan terkenal di dunia Islam ini mendapat gelar Allamah atas penguasaannya  yang komprehensif terhadap banyak cabang ilmu agama. 

Allamah Hasanzadeh Amuli pakar dalam bidang tafsir, fikih, ushul, hadis, balaghah, filsafat, teologi, akhlak, irfan, kedokteran, matematika, astronomi, ilmu-imu barat dan masih banyak lagi. Ia juga menguasai beberapa bahasa asing. Banyak karya tulis yang dihasilkannya selama hidupnya, termasuk karya sastra. 

Biografi dan Pendidikan

Hasan Hasanzadeh Amuli lahir pada akhir-akhir tahun 1928 di salah satu perkampungan di Larijan Amul. Pada usia 6 tahun ia belajar membaca dan menulis di sebuah sekolah dasar dan pada tahun 1944 ia memulai pelajaran hauzah. Ia mempelajari adabiyat Arab dan pelajaran-pelajaran dasar di Amul di bawah bimbingan Muhammad Gharawi, Azizullah Tabarsi, Ahmad I'timadi, Abdullah Asyraqi, Abul Qasim Rajai, Mirza Abul Qasim Farsi dan guru lainnya. Bersamaan dengan itu ia juga mengajarkan beberapa kitab dari pelajara-pelajaran dasar hauzah. 

Hijrah ke Tehran

Ayatullah Hasan Hasanzadeh bersamaan dengan selesainya pelajaran-pelajaran tingkat dasar hauzah, ia atas dorongan dan dukungan Ayatullah Gharawi ia pada usia 22 tahun dibulan September 1950 untuk melanjutkan ke studi melakukan perjalanan intelektual ke Tehran. Salah seorang gurunya di Tehran adalah Ayatullah Sayid Ahmad Lawasani. Darinya ia belajar beberapa bagian dari kitab-kitab syarah lu'mah dan kaidah-kaidah ushul.

Hasanzadeh Amuli dalam waktu yang lama ikut dalam kelas Allamah Sya'rani dan mempelajari banyak kitab darinya. Diantaranya Makasib, Rasail, Kifayah, beberapa bagian dari Jawahir al-Kalam, Syarah Khawajah Nasaruddin Thusi atas al-Isyarat Ibnu Sina, Asfar Arba'ah, Syifa Ibnu Sina, Tafsir Majma' al-Bayan, Syarah Syathiah Qausyci, Syarah Cagmauni Qadhi Zadharumi, Ushul Euclids yang direvisi oleh Khawaja Nasaruddin Thusi, Syarah Allamah Khadri atas Tadzkirah Khawajah, Zaij Bahadri, al-Mijisti karya Ptolemaeus, dua jilid Jami' al-Rawah Haj Muhammad Ardibili, Qanun Ibnu Sina. 

Hasanzadeh Amuli mendapatkan ijazah ijtihad dan izin menyampaikan hadis dari Allamah Sya'rani. Atas saran Allamah Sya'rani, ia menghadiri ceramah dan pelajaran dari Ayatullah Sayid Abul Hasan Rafi'i Qazwini khusunya pada pelajaran Syarah Allamamah Fanari tentang Misbah al-Uns dan pelajaran tingkat lanjut fikih dan ushul. 

Hasanzadeh Amuli selama 11 tahun berada di bawah bimbingan Mahdi Ilahi Qumsyai mempelajari al-Manzhumah Mulla Hadi Sabzawari, pembahasan nafs dalam Asfar dan beberapa bab dalam kitab Syarah Khawajah atas al-Isyarat Ibnu Sina. Demikian pula ia menghadiri kelas Tafsir Alquran. Dikatakan, Ayatullah Qumsyai sebelum menerima Hasanzadeh untuk ikut belajar di kelasnya, ia melakukan istikharah terlebih dahulu, dan jawaban dari istikharahnya adalah و ممّا رزقناهم ینفقون yang dengan itu ia menerima Hasanzadeh sebagai salah seorang muridnya. Setelah beberapa lama hubungan keduanya sebagai guru dan murid semakin erat. Ayatullah Qumsyai memberikan pengantar dalam buku kumpulan syair Hasanzadeh Amuli. 

Ayatullah Muhammad Taqi Amuli adalah salah satu guru pelajaran tingkat lanjut fikih dan ushul dari Hasanzadeh Amuli di Tehran. Hasanzasdeh juga belajar Syarah Qaishari atas Fushush al-Hikam dan beberapa bagian dari kitab Syifa di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Hasan Fadhiltuni. Demikian pula mempelajari beberapa bagian dari kitab Syifa Ibnu Sina di bawah asuhan Mirza Ahmad Asytiyani.

Hijrah ke Qom

Hasanzadeh Amuli pada tahun 1963 dari Tehran ia pindah ke kota Qom dan selama 17 tahun ia menghadiri kelas Allamah Thabathabai dan saudaranya Sayid Muhammad Hasan Ilahi. Selama itu, di bawah bimbingan Allamah Thabathabai, ia mempelajari beberapa bagian dari kitab Bihar al-Anwar Muhammad Baqir al-Majlisi dan Tamhid al-Qawa'id. Demikian pula untuk pelajaran filsafat dan irfan ia bergabung di kelas Sayid Muhammad Hasan Ilahi. Hasanzadeh memuji guru-gurunya dan menyebut masa-masa saat ia belajar tersebut memberikan pengaruh besar pada pembentukan akhlak dan karakternya. Guru lainnya seperti Sayid Mahdi Qadhi Thabathabai putra dari Haj Sayid Ali Qadhi mengajarkan padanya mengenai filsafat dan irfan.

Mengajar

Hasanzadeh Amuli selama menetap di kota Qom ia mengajarkan empat daurah Syarah al-Manzhumah, empat daurah al-Isyarat wa al-Tanbihat, satu daurah Asfar Arba'ah, empat daurah Syarah Fushush Quishari. Ia juga mengajarkan Syarah Tamhid dan Mishbah al-Uns. Demikian pula selama kurang lebih 17 tahun ia mengajarkan matematika, astronomi, penentuan waktu dan kiblat yang dari materi pelajarannya tersebut ia menyusun kitab Durus Ma'rifat al-Waqt wa al-Qiblah. 

Pemikiran dan Karya-Karya

Hasanzadeh Amuli memiliki banyak karya dalam berbagai bidang yang berbeda seperti dalam bidang fikih, filsafat, akhlak, irfan, hikmat agama, kalam, matematika, astronomi, adabiyat Arab dan Persia, sains, pengobatan tradisional, ilmu ghaib dan batin. Namun sebagian besar karyanya berpusat pada Alquran, filsafat dan irfan.


Filsafat

Ayatullah Hasanzadeh Amuli memiliki pandangan yang terpadu mengenai tradisi filsafat Islam.. Sayid Yadullah Yazdanpanah, salah seorang murid Hasanzadeh percaya bahwa gurunya menganggap filsafat dan irfan Islam itu berada dalam jalan dan arah yang sama. Yakni Hasanzadeh Amuli sedang mencoba mendamaikan antara agama, filsafat dan irfan. Hasanzadeh percaya Mulla Sadra telah berhasil menjelaskan secara rasional keterkaitan itu dan mengarahkan filsafat Islam ke akhir yang baik. Menuru Yazdanpanah, gurunya tersebut kebanyakan terfokus pada pandangan-pandangan Mulla Sadra dan Ibnu Arabi yang kemudian memberikan pengaruh besar pada pemikirannya. Hasanzadeh Amuli menolak klaim bahwa filsafat Islam memiliki karakter Yunani dan berkeyakinan pandangan para filsuf pra Islam sebelumya dangkal yang kemudian diperdalam dan dimatangkan oleh para filsuf muslim.

Ayatullah Hasanzadeh Amuli menghasilkan banyak karya dalam bidang filsafat. Diantaranya:

al-Ushul al-Hikmiyyah

Risalah Ja'l

Risalah Ru'ya

Risalah Nafs al-Amr

Risalah Nahj al-Wilayah

Risalah fi al-Taddad

Tarjumah wa Ta'liq al-Jam' bain al-Ra'yayn

Tarjumah wa Syarg Seh Namat Akhar Isyarat

Tashhih wa Ta'liq Syifa

Tashhih wa Ta'liq Isyarat

Taqdim wa Tashhih wa Ta'liq Agaz wa Anjam-e Kalami

Alquran sebagai Sumber Makrifat

Ayatullah Hasanzadeh Amuli meyakini Alquran adalah sumber makrifat Ilahi dan menurutnya Nahjul Balaghah, Shahifah Sajadiyah, Ushul al-Kafi, Bihar al-Anwar dan kitab kumpulan hadis lainnya bersumber dari Alquran dan merupakan kelanjutan turunnya Alquran. Perkataan-perkataan Maksumin as menurutnya hakikatnya kembali kepada Alquran.

Agama menurut Hasanzadeh Amuli adalah pengetahuan tentang Allah swt dan makrifatullah sangat luas mencakup pengetahuan mengenai asma-asma Allah, pengetahuan tentang perbuatan Alah, hukum-hukum Allah, kitab-kitab Allah dan semua pengetahuan-pengetahuan mengenai Allah swt. Kesemua makrifat tersebut adalah hakikat irfan yang sebenarnya. Menurutnya, irfan yang sesungguhnya adalah pembentukan jati diri manusia yang memiliki hubungan dan keterikatan dengan Alquran. Imam Maksum as baginya adalah guru umat manusia dan utusan-utusan Ilahi adalah mereka yang menjelaskan langkah-langkah dan amalan praktis untuk menjadi manusia, sebagaimana yang telah dijelaskan Alquran kepada umat manusia.

Berikut ini beberapa karya Ayatullah Hasanzadeh Amuli yang berkaitan dengan irfan:

Ilahi Nameh

Risalah Liqaullah

Risalah Innah al-Haq

Syarh Fushush al-Hikam

Irfan wa Hikmat Muta'aliyah

Tashhih Risalah Makatibat

Risalah Mafatih al-Makhazin

Risalah dar Sair wa Suluk

Karya Sastra

Hasanzadeh Amuli tertarik pada syair dan bidang sastra sejak kecil yang membuatnya turut mendalami dan menghasilkan sejumlah karya sastra. Diantaranya:

Tashhih Kalilah wa Dimnah

Tashhih Gulistan Sa'di

Mashadir Asy'ar yang dihubungkan dengan Amirul Mukminin as

Taqdim wa Tashhih wa Ta'liq Nishab al-Shibyan

Diwan Asy'ar

Dah Risalah Farsi

Hezar-u Yek Nukteh

Ilahi Nameh

Ayatullah Hasanzadeh Amuli mengajar selama lebih 40 tahun di Hauzah Ilmiah Qom dan selama mengajar ia mengedit dan memberikan ulasan pada sejumlah kitab yang relevan. Diantaranya:

Tashhih Nahjul Balaghah

Tashhih Tafsir Khulasah al-Manhaj

Tashhih Kitab al-Syifa

Tashhih Asfar Arba'ah

Tashhih Kitab Kasyf al-Murad

Tashhih wa Hasyiah bar Tamhid al-Qawaid Shain al-Din

Syarh Fushush Qaishari

Aktivitas Politik

Hasan Ramadhani salah seorang murid Ayatullah Hasanzadeh menjawab pertanyaan mengenai aktivitas politik gurunya menjawab bahwa posisi gurunya hanya terlibat pada urusan yang sangat penting yang telah menjadi kewajibannya sementara untuk urusan yang lebih detail dan praktis ia tidak ikut campur didalamnya. Namun orang-orang yang melihat dari jauh tidak membedakan dua hal ini, sehingga beranggapan bahwa karena tidak ikut campur dalam masalah praktis sehingga dikatakan bahwa Ayatullah Hasanzadeh sama sekali tidak ikut campur dalam urusan politik dan kepentingan umum dan tidak memiliki pendapat dan tanggapan sama sekali. Ramadhani berkata, mungkin posisi politik dan sosial Hasanzadeh tidak jelas dan terkesan tidak memiliki campur tangan sama sekali dengan urusan politik, namun ia memiliki hubungan yang baik dengan Ayatullah Ali Khamanei.

Hasanzadeh Amuli menurut Ramadhani sebelum kemenangan revolusi Islam Iran dan sebelum Imam Khomeini diasingkan dari Iran dan mendengarkan rekaman pidato politik Khomeini mengenai politik, sosial dan urusan kaum muslimin dihadpaan banyak orang, ia dari Tehran mendatangi Imam Khomeini di Qom dan menyatakan dukungan dan janji kesetiannya.

Demikian pula, ketika Ayatullah Ali Khamanei melakukan perjalanan ke kota Amol pada tahun 1998, ia mendedikasikan kitab karyanya Insan dar 'Urf Irfan (Manusia dalam Sudut Pandang Irfan) kepada Ayatullah Ali Khamanei.Pada tahun 2012, ketika Ayatullah Hasanzadeh mendapatkan perawatan medis di rumah sakit karena kondisi kesehatan yang memburuk, Ayatullah Ali Khamanei datang menjenguknya di sebuah rumah sakit di Tehran.