Menurut Kantor Berita ABNA, kembali rakyat Iran berduka atas wafatnya seorang ulama senior Ayatullah Sayid Muhammad Ziaabadi pada Senin (8/2). Ia dikenal sebagai mufasir Alquran, guru akhlak dan ulama kharismatik Tehran. Diberitakan ia meninggal dunia dalam usia 92 tahun setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Khatam al-Anbiya Tehhran dikarenakan terinfeksi COVID 19.
Ayatullah Sayid Muhammad Ziaabadi adalah murid dari Imam Khomeini dan Allamah Thabathabai dan menyelenggarakan kelas pelajaran tafsir di Masjid Ali bin Al-Husain di Darband Tehran. Ia dilahirkan pada tahun 1929 di kota Ziaabad, sekiyat 45 km dari Qazvin dari keluarga yang agamis.
Ayahnya adalah Sayid Mahmud Ziaabadi yang juga dikenal sebagai ulama yang saleh, terpecaya dan terkenal di wilayahnya. Ia dikenal sebagai pendakwah dan pengajar. Ibunya adalah seorang perempuan yang terhormat dan juga dikenal sebagai perempuan saleh dan akrab dengan ilmu-ilmu keislaman. Silsilah Ayatullah Ziaabadi dan juga para leluhurnya bersambung kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Keluarga Ziaabadi sangat dihormati dan disegani di wilayahnya termasuk pada saat wabah kolera menyerang, kediaman keluarga ini menjadi tempat perlindungan para warga.
Ayatullah Ziaabadi dengan dukungan dan dorongan kedua orangtuanya melanjutkan pendidikan keagamaannya di kota Qazvin pada tahun 1942. Ia menuntut ilmu di Madrasah al-Tafatiyeh yang dikenal sebagai salah satu madrasah tertua di Qazvin. Di madrasah ini ia memperdalam ilmu-ilmu dasar keislaman seperti sharaf, nahwu, ma'ani, bayan, dan mantiq di bawah bimbingan gurunya Agha Syaikh Yahya Mufidi. Guru lainnya yang dikenal adalah Agha Mirza Abdurrahim Samat Qazvini yang darinya ia memperdalam ilmu fikih dan hukum.
Pada tahun 1950, Ayatullah Ziaabadi melanjutkan pengembaraan menuntut ilmunya ke Hauzah Ilmiah di kota Qom, dan selama 12 tahun ia belajar di bawah bimbingan ulama-ulama besar Qom saat itu, diantaranya ia mendapat pelajaran dari Imam Khomeini, Ayatullah Sayid Husain Burujerdi, Ayatullah Sadeh Isfahani dan Ayatullah Sayid Muhammad Husain Thabathabai. Pada tahun 1962, dengan wafatnya Ayatullah Burujerdi ia pindah ke Tehran, dan tetap bermukim di ibukota Iran tersebut sampai akhir hayatnya.
Di Tehran, ulama besar ini menghabiskan usianya dengan menjadi penceramah dan guru. Ia berceramah di mimbar-mimbar, menyelenggarakan majelis akhlak dan kelas tafsir Alquran. Pelajaran-pelajarannya sangat diminati masyarakat, dengan membludaknya jamaah pengajian yang diselenggarakannya. Penguasaannya yang mendalam terhadap ilmu-ilmu Islam, pembawaannya yang menarik, keluasan wawasannya terhadap isu-isu kontemporer membuat kelas-kelas pengajiannya sangat diminati. Buku-buku maupun CD-CD yang menghimpun ceramah-ceramahnya sangat laku dipasaran.
Alasan lain yang membuat ulama ini populer dan dicintai rakyat Iran khususnya warga Tehran adalah aktivitas sosialnya diluar mengajar dan menulis. Melalui yayasan yang dikelolanya ia kerap memberikan layanan sipil dan kegiatan kemanusiaan kepada warga yang membutuhkan. Ia memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada warga miskin, dan juga membiayai pesta pernikahan pasangan-pasangan yang kurang mampu dan juga menyediakan perumahan kepada kelompok masyarakat yang terpinggirkan.