Menurut Kantor Berita ABNA, Para pemimpin partai Al-Islah mencoba menemui Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman selama dua minggu terakhir untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka, tetapi bin Salman tidak bersedia menemuinya.
Para pemimpin Al-Islah juga telah mengirim beberapa pesan kepada pejabat tinggi Saudi yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir. Tetapi, beberapa tentara bayaran Yaman telah memberikan Riyadh dokumen yang menekankan kelanjutan hubungan tersebut.
Ikhwanul Muslimin menjadi salah satu sekutu utama Riyadh dalam perang Yaman, tapi kemudian mereka berselisih.
Media Yaman mengungkapkan koalisi Saudi berusaha meninggalkan kerja sama dengan partai Al-Islah, setelah menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai teroris.
Arab Saudi yang didukung Amerika Serikat, Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain melancarkan agresi militer di Yaman sejak Maret 2015 dan memberlakukan blokade darat, laut, dan udara di negara tersebut.(PH)
342/