Menurut Kantor Berita ABNA, Jokowi dalam pidatonya mengatakan, perang tidak akan menguntungkan siapapun. Tidak ada artinya sebuah kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi terbesar di tengah dunia yang tenggelam.
Menurut Reuters, pernyataan Jokowi ini menyinggung meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Cina, termasuk di Laut Cina Selatan.
Jokowi menuturkan, prinsip-prinsip piagam PBB dan hukum internasional kerap tidak diindahkan, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah.
Reuters menerangkan, sehubungan dengan meningkatnya eskalasi ketegangan Amerika dan Cina, Jokowi menjelaskan, jika perpecahan dan rivalitas terus terjadi, maka saya khawatir, pijakan bagi stabilitas dan perdamaian yang lestari akan goyah, atau bahkan akan sirna. Dunia yang damai, stabil dan sejahtera, semakin sulit diwujudkan.
Ia menegaskan, Indonesia akan menjadi "bridge builder", dan mengadvokasi kesetaraan global. (HS)
342/