11 Agustus 2020 - 18:21
Kedudukan Imamah adalah Kelanjutan dari Tugas Kenabian

Dalam pesannya yang diawali dengan ucapan basmalah dan rasa syukur ke hadirat Allah swt telah dijadikan termasuk golongan yang berwilayah pada keimamahan Imam Ali bin Abi Thalib as dan Aimmah Maksumin as, Ayatullah Subhani mengatakan, bahwa Idul Ghadir adalah hari raya yang memiliki nilai yang sangat besar.

Menurut Kantor Berita ABNA, salah seorang ulama marja taklid Syiah yang bermukim di kota Qom Republik Islam Iran Ayatullah al-Uzhma Jakfar Subhani hfz bertepatan dengan datangnya hari perayaan Idul Ghadir 1441 H menyampaikan pesan secara live melalui virtual yang memberikan ucapan selamat kepada umat Islam Syiah diseluruh dunia khususnya warga Syiah Iran. 

Dalam pesannya yang diawali dengan ucapan basmalah dan rasa syukur ke hadirat Allah swt telah dijadikan termasuk golongan yang berwilayah pada keimamahan Imam Ali bin Abi Thalib as dan Aimmah Maksumin as, ia mengatakan, bahwa Idul Ghadir adalah hari raya yang memiliki nilai yang sangat besar. 

"Dengan wafatnya Rasulullah saw, ayat-ayat Alquran tidak diturunkan lagi yang dengan sendirinya Alquran telah lengkap dan setelah beliau tidak ada wahyu Ilahi lagi yang diturunkan. Hal ini pula yang membuat Imam Ali as begitu sedih, ia mengatakan bahwa kematian Nabi Muhammad saw adalah kematian yang sangat berat, sebab nabi lain ketika wafat, tetap masih ada nabi lagi sebagai pelanjut dan wahyu Ilahi tetap akan turun, namun dengan kematian Rasulullah, garis nubuwah dan turunnya ayat-ayat suci Ilahi menjadi terhenti." Tambah Ayatullah Subhani. 

Selanjutnya, ulama marja taklid ini mengatakan, bahwa dengan posisi Nabi Muhammad saw sebagai penutup para Nabi, maka kitab dan syariat yang dibawanya adalah kitab dan syariat yang terakhir. Namun meski demikian, umat masih tetap membutuhkan bimbingan manusia suci yang akan menjelaskan apa-apa yang ada dalam Alquran dan syariat yang belum semua terjelaskan dengan baik semasa Rasulullah saw masih wafat, yang karena itu peran sebagai pemimpin dan pembimbing umat harus ada yang melanjutkan.

Islam sebagai syariat terakhir yang meniscayakan itu untuk semua umat manusia disetiap tempat dan disetiap masa, maka sudah semestinya harus ada orang yang bisa menjelaskan Islam itu sebagaimana yang dibawa Rasulullah saw. Karena itu menurut Ayatullah Subhani, tugas dan tanggungjawab sebagai pembimbing umat selanjutnya berada di tangan para Imam. 

Ayatullah Subhani lebih lanjut mengatakan, dimasa Nabi Muhammad saw masih hidup, setiap umat berselisih mengenai suatu hukum karena berbeda dalam cara menafsirkan teks agama, maka mereka akan mendatangi Rasulullah saw untuk mendapatkan keputusan, yang kemudian keputusan itu mereka jalankan tanpa ada keraguan. Namun setelah Nabi Muhammad saw wafat, maka siapa lagikah yang menjadi rujukan umat setiap mereka mendapatkan permasalahan?. Karena itu kata Ayatullah Subhani, harus ada sosok yang memiliki ilmu keislaman yang sangat luas, yang itu sebelumnya berada di bawah bimbingan Rasulullah saw sepenuhnya. 

"Alhamdulillah, pada 18 Dzulhijah tahun 10 H, agar umat Islam tidak kehilangan kendali dan rujukan sepeninggal Rasulullah saw nanti, maka Rasullah saw telah menetapkan Imam Ali as sebagai pelanjut dan menjadi imam setelahnya. Dengan terjadinya peristiwa penetapan tersebut di suatu lokasi yang bernama Ghadir Khum, maka turunlah ayat yang menjelaskan mengenai telah disempurnakannya agama dan telah dicukupkan nikmat bagi umat Islam. الْیَوْمَ أَکْمَلْتُ لَکُمْ دِینَکُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَیْکُمْ نِعْمَتِی وَرَضِیتُ لَکُمُ الإِسْلاَمَ دِینًا adalah penggalan dari surah Almaidah ayat 3. Dari peristiwa bersejarah ini jelas, bahwa peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai maula dan pemimpin bagi umat Islam adalah penyebab disempurnakannya agama Islam yang menunjukkan kesempurnaan Islam terletak pada adanya keberlanjutan dari tugas kenabian yaitu dalam bentuk keimamahan, sehingga umat Islam tidak kehilangan arah dan orientasi akibat tidak adanya pemimpin.

Ayatullah Subhani kemudian menjelaskan pentingnya posisi imamah dalam Islam yang menurutnya para imam tersebutlah yang bertugas menjaga kemurnian agama.