(ABNA24.com) Senator dan aktivis politik Amerika Serikat pasca pengumuman langkah kedua JCPOA Iran untuk mengurangi komitmennya di kesepakatan nuklir mulai mengkritik kebijakan pemerintah Donald Trump dan menyebutnya bodoh.
IRNA melaporkan, Senator AS Chris Murphy saat merespon cuitan Menlu Mike Pompeo di akun twitternya Ahad (7/7) menulis, negara-negara lain yang meyakini standar lama tanpa pengayaan uranium, menilai kesepakatan nuklir solusi untuk melaksanakan standar ini di mana pemerintah Trump melanggarnya.
Menlu Amerika sebelumnya menulis, perluasan program nuklir Iran akan berujung pada keterkucilan lebih besar dan sanksi anti Tehran.
Andrew Yang, bakal kandidat presiden AS di pilpres 2020 terkait hal ini mengatakan, jika sanksi Amerika terus berlanjut, motivasi Iran untuk mempertahankan JCPOA akan terbatas.
"Dengan mempertahankan JCPOA, harus ada perundingan dengan Iran, bukannya pengobaran tensi," papar Yang.
Aaron David Miller, mantan pengamat di Kemenlu AS terkait keputusan presiden Iran untuk meningkatkan pengayaan uranium melampaui 3,67 persen mengungkapkan, Trump telah menimbulkan masalah.
Sementara itu, penasihat Bernie Sanders mengisyaratkan hubungan AS dan Eropa di isu Iran dan menulis, tidak ada kebijakan yang lebih bodoh dari kebijakan Trump tekait Iran yang merusak hubungan Eropa-Amerika.
Adapun Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi Ahad (7/7) seraya mengisyaratkan dimulainya babak kedua penurunan komitmen JCPOA Iran mengatakan, Iran telah memulai proses pengayaan uranium di atas 3,67 persen.
Kamalvandi seraya menjelaskan bahwa tenggat waktu 60 hari Tehran kepada Eropa untuk menjalankan komitmennya telah berakhir menambahkan, Iran mulai memasuki babak kedua peningkatan cadangan uranium yang diperkaya dan inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mulai hari Senin membenarkan kebijakan Iran melampaui 3,67 persen di pengayaan uraniumnya.
/129
10 Juli 2019 - 06:36
News ID: 959579
Senator dan aktivis politik Amerika Serikat pasca pengumuman langkah kedua JCPOA Iran untuk mengurangi komitmennya di kesepakatan nuklir mulai mengkritik kebijakan pemerintah Donald Trump dan menyebutnya bodoh.